Kita terbiasa untuk abai. Mengacuhkan segala yang baik, memburu yang tak pasti, mencari yang sebaiknya tak dimiliki. Hingga, kita kehilangan diri sendiri. Jika ada yang seharusnya kita layani sepenuh hati, ialah aku, kita, dan hati yang dimiliki. Di pembuka pagi, hati membisikan semangat nan hangat untuk memulai hari. Di penghujung malam, hati mendatangkan gambaran agar kita berterimakasih. Tapi, kapan kita terakhir kali bercakap-cakap dengannya? Mungkin sudah cukup lama sang hati kita biarkan sendiri, sementara kita pun merasa sepi. Bukankah kepadanya kita harus kembali? Merayakan segala rasa, memupuk segala asa, dan memaafkan segala selain kita berdua.