Hyphen —: Recent Episodes

hyphen-hyphenation

Since 2013, Hyphen function as an alias whatever kind of work we do together, be it research, archiving, editorial, publishing, hosting residencies, making exhibitions, generating discussions and conversations, or barbecue nights. For further inquiries, contact us through hyphen.rpg@gmail.com or poke@hyphen.web.id

View Details

Alkisah…

Siniar dari lokakarya bercerita—mengenai dan seputar pameran— bersama Hyphen—. Berlangsung 7, 14, 21, dan 26 Agustus 2023 di Yogyakarta

Diselenggarakan bersamaan dengan Di belakang kanvas, presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— dalam ARTJOG 2023 Motif: Lamaran (1 Juli-27 Agustus 2023).

Teknisi dan penyunting rekaman: Setyaji Asfani

Kegiatan ini juga diselenggarakan atas kerja sama dengan FfAI, ARTJOG 2023 Motif: Lamaran, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai bagian dari pameran Seakan-akan tidak ada matahari, Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

View Details

Alkisah…

Siniar dari lokakarya bercerita—mengenai dan seputar pameran— bersama Hyphen—. Berlangsung 7, 14, 21, dan 26 Agustus 2023 di Yogyakarta

Diselenggarakan bersamaan dengan Di belakang kanvas, presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— dalam ARTJOG 2023 Motif: Lamaran (1 Juli-27 Agustus 2023).

Teknisi dan penyunting rekaman: Setyaji Asfani

Kegiatan ini juga diselenggarakan atas kerja sama dengan FfAI, ARTJOG 2023 Motif: Lamaran, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai bagian dari pameran Seakan-akan tidak ada matahari, Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

View Details

Alkisah…

Siniar dari lokakarya bercerita—mengenai dan seputar pameran— bersama Hyphen—. Berlangsung 7, 14, 21, dan 26 Agustus 2023 di Yogyakarta

Diselenggarakan bersamaan dengan Di belakang kanvas, presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— dalam ARTJOG 2023 Motif: Lamaran (1 Juli-27 Agustus 2023).

Teknisi dan penyunting rekaman: Setyaji Asfani

Kegiatan ini juga diselenggarakan atas kerja sama dengan FfAI, ARTJOG 2023 Motif: Lamaran, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai bagian dari pameran Seakan-akan tidak ada matahari, Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

View Details

Alkisah…

Siniar dari lokakarya bercerita—mengenai dan seputar pameran— bersama Hyphen—. Berlangsung 7, 14, 21, dan 26 Agustus 2023 di Yogyakarta

Diselenggarakan bersamaan dengan Di belakang kanvas, presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— dalam ARTJOG 2023 Motif: Lamaran (1 Juli-27 Agustus 2023).

Teknisi dan penyunting rekaman: Setyaji Asfani

Kegiatan ini juga diselenggarakan atas kerja sama dengan FfAI, ARTJOG 2023 Motif: Lamaran, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai bagian dari pameran Seakan-akan tidak ada matahari, Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

View Details

Alkisah…

Siniar dari lokakarya bercerita—mengenai dan seputar pameran— bersama Hyphen—. Berlangsung 7, 14, 21, dan 26 Agustus 2023 di Yogyakarta

Diselenggarakan bersamaan dengan Di belakang kanvas, presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— dalam ARTJOG 2023 Motif: Lamaran (1 Juli-27 Agustus 2023).

Teknisi dan penyunting rekaman: Setyaji Asfani

Kegiatan ini juga diselenggarakan atas kerja sama dengan FfAI, ARTJOG 2023 Motif: Lamaran, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai bagian dari pameran Seakan-akan tidak ada matahari, Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

View Details

Alkisah…

Siniar dari lokakarya bercerita—mengenai dan seputar pameran— bersama Hyphen—. Berlangsung 7, 14, 21, dan 26 Agustus 2023 di Yogyakarta

Diselenggarakan bersamaan dengan Di belakang kanvas, presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— dalam ARTJOG 2023 Motif: Lamaran (1 Juli-27 Agustus 2023).

Teknisi dan penyunting rekaman: Setyaji Asfani

Kegiatan ini juga diselenggarakan atas kerja sama dengan FfAI, ARTJOG 2023 Motif: Lamaran, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai bagian dari pameran Seakan-akan tidak ada matahari, Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

View Details

Alkisah…

Siniar dari lokakarya bercerita—mengenai dan seputar pameran— bersama Hyphen—. Berlangsung 7, 14, 21, dan 26 Agustus 2023 di Yogyakarta

Diselenggarakan bersamaan dengan Di belakang kanvas, presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— dalam ARTJOG 2023 Motif: Lamaran (1 Juli-27 Agustus 2023).

Teknisi dan penyunting rekaman: Setyaji Asfani

Kegiatan ini juga diselenggarakan atas kerja sama dengan FfAI, ARTJOG 2023 Motif: Lamaran, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai bagian dari pameran Seakan-akan tidak ada matahari, Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

View Details

Di belakang kanvasPresentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— pada ART JOG MMXXIII, 30 Juni – 27 Agustus, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Tanpa judul (Kaligrafi), 1980

Barong, 1968

Di belakang kanvasPresentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— pada ART JOG MMXXIII, 30 Juni – 27 Agustus, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Untitled (Calligraphy), 1980

Barong, 1968

At the back of the canvasA special presentation of Kustiyah’s works (b. Probolinggo, 1935; d. Yogyakarta, 2012) by Hyphen— in ART JOG MMXXIII, 30 June – 27 August, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Ikan, 1993
Lobster, 1975
Ikan Surung, 1985
Perahu-Perahu di Sanur, Bali, 1968

Di belakang kanvas
Presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— pada ART JOG MMXXIII, 30 Juni – 27 Agustus, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Fish, 1993

Lobster, 1975

Fourfinger threadfin fish, 1985

Boats in Sanur, 1968

At the back of the canvasA special presentation of Kustiyah’s works (b. Probolinggo, 1935; d. Yogyakarta, 2012) by Hyphen— in ART JOG MMXXIII, 30 June – 27 August, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Kamboja merah, 1979

Di belakang kanvas
Presentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— pada ART JOG MMXXIII, 30 Juni – 27 Agustus, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Red frangipani, 1979

At the back of the canvas
A special presentation of Kustiyah’s works (b. Probolinggo, 1935; d. Yogyakarta, 2012) by Hyphen— in ART JOG MMXXIII, 30 June – 27 August, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

At the back of the canvasA special presentation of Kustiyah’s works (b. Probolinggo, 1935; d. Yogyakarta, 2012) by Hyphen— in ART JOG MMXXIII, 30 June – 27 August, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Cart, 1969

Shrine, 1968

At the back of the canvasA special presentation of Kustiyah’s works (b. Probolinggo, 1935; d. Yogyakarta, 2012) by Hyphen— in ART JOG MMXXIII, 30 June – 27 August, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Tanpa judul, 1954

Tanpa judul (Potret-diri), 1955

Tanpa judul, 1955

Tanpa judul (Potret-diri), c. 1953-1958

Tanpa judul, c. 1953-1958

Aku, 1954

Di belakang kanvasPresentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— pada ART JOG MMXXIII, 30 Juni – 27 Agustus, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Untitled, 1954

Untitled (Self-portrait), 1955

Untitled, 1955

Untitled (Self-portrait), c. 1953-1958

Untitled, c. 1953-1958

Me, 1954

At the back of the canvasA special presentation of Kustiyah’s works (b. Probolinggo, 1935; d. Yogyakarta, 2012) by Hyphen— in ART JOG MMXXIII, 30 June – 27 August, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Gerobag, 1969

Sanggah, 1968

Di belakang kanvasPresentasi khusus karya-karya Kustiyah (l. Probolinggo, 1935; m. Yogyakarta, 2012) oleh Hyphen— pada ART JOG MMXXIII, 30 Juni – 27 Agustus, Jogja National Museum (Yogyakarta, Indonesia)

View Details

Audio dalam Bahasa Indonesia

Pemandu audio untuk Museum Sejarah Nasional, Monas, Jakarta

Teks Bahasa Indonesia ditulis oleh Maria Zevonia Fernandes Vieira bersama dengan Ratna Mufida, direkam dengan pembacaan oleh Ratna Mufida, dan suntingan rekaman oleh Nissal Nurafryansah

Dipamerkan dalam "Visualization of the National History: From, by, and for whom?" di Gudskul, Jakarta (2019)

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

juga dipresentasikan sebagai bagian dari “From, by, and for whom?” di Berlin (2021)

———————————

Pemandu audio ini dibuat sebagai bagian dari pameran arsip “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” di Galeri Gudskul, 5-26 Oktober 2019. Pameran ini dikurasi oleh Hyphen — dan diadakan bersamaan dengan “occupying > modernism” kurasi Avianti Armand & Setiadi Sopandi di kopimanyar (Bintaro); dan “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” kurasi Hyphen — di RUBANAH Underground Hub (Jakarta).

Pameran ini memaparkan arsip-arsip Edhi Sunarso, yang dikenal sebagai seniman yang beertanggung jawab atas eksekusi tiga monumen penting di Jakarta atas perintah presiden pertama, Sukarno, pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan Indonesia. Monumen-monumen tersebut antara lain: Monumen Selamat Datang (1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (1963); dan Monumen Dirgantara (juga dikenal dengan nama Patung Pancoran, 1970).

Selama pameran ini juga diadakan presentasi oleh Grace Samboh, salah satu kurator, mengenai Edhi Sunarso. Presentasi-presentasi tersebut juga merupakan bagian dari “(Re)Producing fear and joy,” sebuah seri seminar & lokakarya kuratorial yang juga diikuti oleh partisipan kelas “Artikulasi dan Kurasi,” salah satu subjek Gudskul untuk batch 2019-2020.

Pemandu audio ini dibuat oleh para partisipan kelas sebagai hasil dari lokakarya tersebut. Partisipan diundang untuk menceritakan cerita mereka sendiri, dalam gaya dan sesuai interpretasi mereka, yang terpancing dari diorama yang dibuat oleh Edhi Sunarso yang dipamerkan di Monas.

View Details

Audio in English

AUDIOGUIDES for National History Museum (Museum Sejarah Nasional), Monas, Jakarta

Recorded in English with translations by Akmalia Rizqita, voice acting by Ratna Mufida, and Editing by Nissal Nurafryansah

Exhibited at "Visualization of the National History: From, by, and for whom?" in Gudskul, Jakarta (2019)

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

also presented as part of “From, by, and for whom?” in Berlin (2021)

——————————

These audioguides were made as part of the archive exhibition, “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” held at Gudskul in Jakarta, Indonesia, 5-26 October 2019. The exhibition was curated by Hyphen — and held in conjunction with “occupying > modernism” curated by Avianti Armand & Setiadi Sopandi at kopimanyar (Bintaro, Jakarta); as well as “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” curated by Hyphen — at RUBANAH Underground Hub (Menteng, Jakarta)

The exhibition presented archives of Edhi Sunarso, most known as the artist responsible for executing three notable monuments in Jakarta, specifically ordered by the first president Sukarno in the early years of Indonesian independence. These monuments are: Monumen Selamat Datang (the Welcome Monument, 1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (West Papua Liberation Monument, 1963); and Monumen Dirgantara (also known as the Pancoran Sculpture, 1970).

Throughout this archive exhibition, Grace Samboh, one of the curators, did several presentation on Edhi Sunarso. These presentations were also part of “(Re)Producing fear and joy,” a seminar series & curatorial workshop also attended by participants of “Articulation and Curation,” one of Gudskul’s subject for the 2019-2020 batch. As a culmination of this workshop, participants were invited to tell their own stories, in their own style and interpretation, prompted by the dioramas made by Edhi Sunarso displayed in the National Monument (Monas). Their audioguides are also available on our channel, wherever you're listening to our podcast.

View Details

Audio in English

AUDIOGUIDES for National History Museum (Museum Sejarah Nasional), Monas, Jakarta

Recorded in English with translations by Akmalia Rizqita, voice acting by Ratna Mufida, and Editing by Nissal Nurafryansah

Gudskul students presentation - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

also presented as part of “From, by, and for whom?” in Berlin (2021)

——————————

These audioguides were made as part of the archive exhibition, “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” held at Gudskul in Jakarta, Indonesia, 5-26 October 2019. The exhibition was curated by Hyphen — and held in conjunction with “occupying > modernism” curated by Avianti Armand & Setiadi Sopandi at kopimanyar (Bintaro, Jakarta); as well as “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” curated by Hyphen — at RUBANAH Underground Hub (Menteng, Jakarta)

The exhibition presented archives of Edhi Sunarso, most known as the artist responsible for executing three notable monuments in Jakarta, specifically ordered by the first president Sukarno in the early years of Indonesian independence. These monuments are: Monumen Selamat Datang (the Welcome Monument, 1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (West Papua Liberation Monument, 1963); and Monumen Dirgantara (also known as the Pancoran Sculpture, 1970).

Throughout the archive exhibition, Grace Samboh, one of the curators, did several presentation on Edhi Sunarso. These presentations were also part of “(Re)Producing fear and joy,” a seminar series & curatorial workshop also attended by participants of “Articulation and Curation,” one of Gudskul’s subject for the 2019-2020 batch.

These audioguides were made by the subject’s participants as the culmination of the workshop. Participants were invited to tell their own stories, in their own style and interpretation, prompted by the dioramas made by Edhi Sunarso displayed in the National Monument (Monas).

View Details

Audio dalam Bahasa Indonesia

Pemandu audio untuk Museum Sejarah Nasional, Monas, Jakarta

Direkam dalam Bahasa Indonesia dengan terjemahan oleh Akmalia Rizqita, pembacaan oleh Ratna Mufida, dan suntingan rekaman oleh Nissal Nurafryansah

Presentasi partisipan Gudskul - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

juga dipresentasikan sebagai bagian dari “From, by, and for whom?” di Berlin (2021)

———————————

Pemandu audio ini dibuat sebagai bagian dari pameran arsip “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” di Galeri Gudskul, 5-26 Oktober 2019. Pameran ini dikurasi oleh Hyphen — dan diadakan bersamaan dengan “occupying > modernism” kurasi Avianti Armand & Setiadi Sopandi di kopimanyar (Bintaro); dan “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” kurasi Hyphen — di RUBANAH Underground Hub (Jakarta).

Pameran ini memaparkan arsip-arsip Edhi Sunarso, yang dikenal sebagai seniman yang beertanggung jawab atas eksekusi tiga monumen penting di Jakarta atas perintah presiden pertama, Sukarno, pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan Indonesia. Monumen-monumen tersebut antara lain: Monumen Selamat Datang (1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (1963); dan Monumen Dirgantara (juga dikenal dengan nama Patung Pancoran, 1970).

Selama pameran ini juga diadakan presentasi oleh Grace Samboh, salah satu kurator, mengenai Edhi Sunarso. Presentasi-presentasi tersebut juga merupakan bagian dari “(Re)Producing fear and joy,” sebuah seri seminar & lokakarya kuratorial yang juga diikuti oleh partisipan kelas “Artikulasi dan Kurasi,” salah satu subjek Gudskul untuk batch 2019-2020.

Pemandu audio ini dibuat oleh para partisipan kelas sebagai hasil dari lokakarya tersebut. Partisipan diundang untuk menceritakan cerita mereka sendiri, dalam gaya dan sesuai interpretasi mereka, yang terpancing dari diorama yang dibuat oleh Edhi Sunarso yang dipamerkan di Monas.

View Details

Audio in English

AUDIOGUIDES for National History Museum (Museum Sejarah Nasional), Monas, Jakarta

Recorded in English with translations by Akmalia Rizqita, voice acting by Ratna Mufida, and Editing by Nissal Nurafryansah

Gudskul students presentation - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

also presented as part of “From, by, and for whom?” in Berlin (2021)

——————————

These audioguides were made as part of the archive exhibition, “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” held at Gudskul in Jakarta, Indonesia, 5-26 October 2019. The exhibition was curated by Hyphen — and held in conjunction with “occupying > modernism” curated by Avianti Armand & Setiadi Sopandi at kopimanyar (Bintaro, Jakarta); as well as “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” curated by Hyphen — at RUBANAH Underground Hub (Menteng, Jakarta)

The exhibition presented archives of Edhi Sunarso, most known as the artist responsible for executing three notable monuments in Jakarta, specifically ordered by the first president Sukarno in the early years of Indonesian independence. These monuments are: Monumen Selamat Datang (the Welcome Monument, 1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (West Papua Liberation Monument, 1963); and Monumen Dirgantara (also known as the Pancoran Sculpture, 1970).

Throughout the archive exhibition, Grace Samboh, one of the curators, did several presentation on Edhi Sunarso. These presentations were also part of “(Re)Producing fear and joy,” a seminar series & curatorial workshop also attended by participants of “Articulation and Curation,” one of Gudskul’s subject for the 2019-2020 batch.

These audioguides were made by the subject’s participants as the culmination of the workshop. Participants were invited to tell their own stories, in their own style and interpretation, prompted by the dioramas made by Edhi Sunarso displayed in the National Monument (Monas).

View Details

Audio dalam Bahasa Indonesia

Pemandu audio untuk Museum Sejarah Nasional, Monas, Jakarta

Direkam dalam Bahasa Indonesia dengan terjemahan oleh Akmalia Rizqita, pembacaan oleh Ratna Mufida, dan suntingan rekaman oleh Nissal Nurafryansah

Presentasi partisipan Gudskul - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

juga dipresentasikan sebagai bagian dari “From, by, and for whom?” di Berlin (2021)

———————————

Pemandu audio ini dibuat sebagai bagian dari pameran arsip “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” di Galeri Gudskul, 5-26 Oktober 2019. Pameran ini dikurasi oleh Hyphen — dan diadakan bersamaan dengan “occupying > modernism” kurasi Avianti Armand & Setiadi Sopandi di kopimanyar (Bintaro); dan “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” kurasi Hyphen — di RUBANAH Underground Hub (Jakarta).

Pameran ini memaparkan arsip-arsip Edhi Sunarso, yang dikenal sebagai seniman yang beertanggung jawab atas eksekusi tiga monumen penting di Jakarta atas perintah presiden pertama, Sukarno, pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan Indonesia. Monumen-monumen tersebut antara lain: Monumen Selamat Datang (1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (1963); dan Monumen Dirgantara (juga dikenal dengan nama Patung Pancoran, 1970).

Selama pameran ini juga diadakan presentasi oleh Grace Samboh, salah satu kurator, mengenai Edhi Sunarso. Presentasi-presentasi tersebut juga merupakan bagian dari “(Re)Producing fear and joy,” sebuah seri seminar & lokakarya kuratorial yang juga diikuti oleh partisipan kelas “Artikulasi dan Kurasi,” salah satu subjek Gudskul untuk batch 2019-2020.

Pemandu audio ini dibuat oleh para partisipan kelas sebagai hasil dari lokakarya tersebut. Partisipan diundang untuk menceritakan cerita mereka sendiri, dalam gaya dan sesuai interpretasi mereka, yang terpancing dari diorama yang dibuat oleh Edhi Sunarso yang dipamerkan di Monas.

View Details

Audio in English

AUDIOGUIDES for National History Museum (Museum Sejarah Nasional), Monas, Jakarta

Recorded in English with translations by Akmalia Rizqita, voice acting by Ratna Mufida, and Editing by Nissal Nurafryansah

Gudskul students presentation - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

also presented as part of “From, by, and for whom?” in Berlin (2021)

——————————

These audioguides were made as part of the archive exhibition, “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” held at Gudskul in Jakarta, Indonesia, 5-26 October 2019. The exhibition was curated by Hyphen — and held in conjunction with “occupying > modernism” curated by Avianti Armand & Setiadi Sopandi at kopimanyar (Bintaro, Jakarta); as well as “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” curated by Hyphen — at RUBANAH Underground Hub (Menteng, Jakarta)

The exhibition presented archives of Edhi Sunarso, most known as the artist responsible for executing three notable monuments in Jakarta, specifically ordered by the first president Sukarno in the early years of Indonesian independence. These monuments are: Monumen Selamat Datang (the Welcome Monument, 1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (West Papua Liberation Monument, 1963); and Monumen Dirgantara (also known as the Pancoran Sculpture, 1970).

Throughout the archive exhibition, Grace Samboh, one of the curators, did several presentation on Edhi Sunarso. These presentations were also part of “(Re)Producing fear and joy,” a seminar series & curatorial workshop also attended by participants of “Articulation and Curation,” one of Gudskul’s subject for the 2019-2020 batch.

These audioguides were made by the subject’s participants as the culmination of the workshop. Participants were invited to tell their own stories, in their own style and interpretation, prompted by the dioramas made by Edhi Sunarso displayed in the National Monument (Monas).

View Details

Audio dalam Bahasa Indonesia

Pemandu audio untuk Museum Sejarah Nasional, Monas, Jakarta

Presentasi partisipan Gudskul - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

juga dipresentasikan sebagai bagian dari “From, by, and for whom?” di Berlin (2021)

——————————

Pemandu audio ini dibuat sebagai bagian dari pameran arsip “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” di Galeri Gudskul, 5-26 Oktober 2019. Pameran ini dikurasi oleh Hyphen — dan diadakan bersamaan dengan “occupying > modernism” kurasi Avianti Armand & Setiadi Sopandi di kopimanyar (Bintaro); dan “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” kurasi Hyphen — di RUBANAH Underground Hub (Jakarta).

Pameran ini memaparkan arsip-arsip Edhi Sunarso, yang dikenal sebagai seniman yang beertanggung jawab atas eksekusi tiga monumen penting di Jakarta atas perintah presiden pertama, Sukarno, pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan Indonesia. Monumen-monumen tersebut antara lain: Monumen Selamat Datang (1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (1963); dan Monumen Dirgantara (juga dikenal dengan nama Patung Pancoran, 1970).

Selama pameran ini juga diadakan presentasi oleh Grace Samboh, salah satu kurator, mengenai Edhi Sunarso. Presentasi-presentasi tersebut juga merupakan bagian dari “(Re)Producing fear and joy,” sebuah seri seminar & lokakarya kuratorial yang juga diikuti oleh partisipan kelas “Artikulasi dan Kurasi,” salah satu subjek Gudskul untuk batch 2019-2020.

Pemandu audio ini dibuat oleh para partisipan kelas sebagai hasil dari lokakarya tersebut. Partisipan diundang untuk menceritakan cerita mereka sendiri, dalam gaya dan sesuai interpretasi mereka, yang terpancing dari diorama yang dibuat oleh Edhi Sunarso yang dipamerkan di Monas.

View Details

Audio dalam Bahasa Indonesia

Pemandu audio untuk Museum Sejarah Nasional, Monas, Jakarta

Presentasi partisipan Gudskul - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

juga dipresentasikan sebagai bagian dari “From, by, and for whom?” di Berlin (2021)

——————————

Pemandu audio ini dibuat sebagai bagian dari pameran arsip “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” di Galeri Gudskul, 5-26 Oktober 2019. Pameran ini dikurasi oleh Hyphen — dan diadakan bersamaan dengan “occupying > modernism” kurasi Avianti Armand & Setiadi Sopandi di kopimanyar (Bintaro); dan “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” kurasi Hyphen — di RUBANAH Underground Hub (Jakarta).

Pameran ini memaparkan arsip-arsip Edhi Sunarso, yang dikenal sebagai seniman yang beertanggung jawab atas eksekusi tiga monumen penting di Jakarta atas perintah presiden pertama, Sukarno, pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan Indonesia. Monumen-monumen tersebut antara lain: Monumen Selamat Datang (1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (1963); dan Monumen Dirgantara (juga dikenal dengan nama Patung Pancoran, 1970).

Selama pameran ini juga diadakan presentasi oleh Grace Samboh, salah satu kurator, mengenai Edhi Sunarso. Presentasi-presentasi tersebut juga merupakan bagian dari “(Re)Producing fear and joy,” sebuah seri seminar & lokakarya kuratorial yang juga diikuti oleh partisipan kelas “Artikulasi dan Kurasi,” salah satu subjek Gudskul untuk batch 2019-2020.

Pemandu audio ini dibuat oleh para partisipan kelas sebagai hasil dari lokakarya tersebut. Partisipan diundang untuk menceritakan cerita mereka sendiri, dalam gaya dan sesuai interpretasi mereka, yang terpancing dari diorama yang dibuat oleh Edhi Sunarso yang dipamerkan di Monas.

View Details

Audio dalam Bahasa Indonesia

Pemandu audio untuk Museum Sejarah Nasional, Monas, Jakarta

Presentasi partisipan Gudskul - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

juga dipresentasikan sebagai bagian dari “From, by, and for whom?” di Berlin (2021)

——————————

Pemandu audio ini dibuat sebagai bagian dari pameran arsip “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” di Galeri Gudskul, 5-26 Oktober 2019. Pameran ini dikurasi oleh Hyphen — dan diadakan bersamaan dengan “occupying > modernism” kurasi Avianti Armand & Setiadi Sopandi di kopimanyar (Bintaro); dan “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” kurasi Hyphen — di RUBANAH Underground Hub (Jakarta).

Pameran ini memaparkan arsip-arsip Edhi Sunarso, yang dikenal sebagai seniman yang beertanggung jawab atas eksekusi tiga monumen penting di Jakarta atas perintah presiden pertama, Sukarno, pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan Indonesia. Monumen-monumen tersebut antara lain: Monumen Selamat Datang (1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (1963); dan Monumen Dirgantara (juga dikenal dengan nama Patung Pancoran, 1970).

Selama pameran ini juga diadakan presentasi oleh Grace Samboh, salah satu kurator, mengenai Edhi Sunarso. Presentasi-presentasi tersebut juga merupakan bagian dari “(Re)Producing fear and joy,” sebuah seri seminar & lokakarya kuratorial yang juga diikuti oleh partisipan kelas “Artikulasi dan Kurasi,” salah satu subjek Gudskul untuk batch 2019-2020.

Pemandu audio ini dibuat oleh para partisipan kelas sebagai hasil dari lokakarya tersebut. Partisipan diundang untuk menceritakan cerita mereka sendiri, dalam gaya dan sesuai interpretasi mereka, yang terpancing dari diorama yang dibuat oleh Edhi Sunarso yang dipamerkan di Monas.

View Details

Audio in English

AUDIOGUIDES for National History Museum (Museum Sejarah Nasional), Monas, Jakarta

Gudskul students presentation - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

also presented as part of “From, by, and for whom?” in Berlin (2021)

——————————

These audioguides were made as part of the archive exhibition, “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” held at Gudskul in Jakarta, Indonesia, 5-26 October 2019. The exhibition was curated by Hyphen — and held in conjunction with “occupying > modernism” curated by Avianti Armand & Setiadi Sopandi at kopimanyar (Bintaro, Jakarta); as well as “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” curated by Hyphen — at RUBANAH Underground Hub (Menteng, Jakarta)

The exhibition presented archives of Edhi Sunarso, most known as the artist responsible for executing three notable monuments in Jakarta, specifically ordered by the first president Sukarno in the early years of Indonesian independence. These monuments are: Monumen Selamat Datang (the Welcome Monument, 1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (West Papua Liberation Monument, 1963); and Monumen Dirgantara (also known as the Pancoran Sculpture, 1970).

Throughout the archive exhibition, Grace Samboh, one of the curators, did several presentation on Edhi Sunarso. These presentations were also part of “(Re)Producing fear and joy,” a seminar series & curatorial workshop also attended by participants of “Articulation and Curation,” one of Gudskul’s subject for the 2019-2020 batch.

These audioguides were made by the subject’s participants as the culmination of the workshop. Participants were invited to tell their own stories, in their own style and interpretation, prompted by the dioramas made by Edhi Sunarso displayed in the National Monument (Monas).

View Details

Audio in English

AUDIOGUIDES for National History Museum (Museum Sejarah Nasional), Monas, Jakarta

Gudskul students presentation - November 2019

Gudskul, RUBANAH Underground Hub, SEAM Encounters, kopimanyar

also presented as part of “From, by, and for whom?” in Berlin (2021)

——————————

These audioguides were made as part of the archive exhibition, “Visualization of the National History: From, by, and for whom?” held at Gudskul in Jakarta, Indonesia, 5-26 October 2019. The exhibition was curated by Hyphen — and held in conjunction with “occupying > modernism” curated by Avianti Armand & Setiadi Sopandi at kopimanyar (Bintaro, Jakarta); as well as “FOMO/JOMO: Hacking modernity’s dualism” curated by Hyphen — at RUBANAH Underground Hub (Menteng, Jakarta)

The exhibition presented archives of Edhi Sunarso, most known as the artist responsible for executing three notable monuments in Jakarta, specifically ordered by the first president Sukarno in the early years of Indonesian independence. These monuments are: Monumen Selamat Datang (the Welcome Monument, 1961); Monumen Pembebasan Papua Barat (West Papua Liberation Monument, 1963); and Monumen Dirgantara (also known as the Pancoran Sculpture, 1970).

Throughout the archive exhibition, Grace Samboh, one of the curators, did several presentation on Edhi Sunarso. These presentations were also part of “(Re)Producing fear and joy,” a seminar series & curatorial workshop also attended by participants of “Articulation and Curation,” one of Gudskul’s subject for the 2019-2020 batch.

These audioguides were made by the subject’s participants as the culmination of the workshop. Participants were invited to tell their own stories, in their own style and interpretation, prompted by the dioramas made by Edhi Sunarso displayed in the National Monument (Monas).