Podcast ini memuat rekaman Ibadah Daring GKI Ampera Jakarta yang disiarkan dari tanggal 22 Maret 2020 atau selama masa berlaku kuncitara akibat pandemi Covid-19. Siaran ini ditujukan untuk para anggota dan simpatisan GKI Ampera serta terbuka bagi keluarga, kerabat, sahabat, teman dan orang percaya lainnya. Rekaman dilaksanakan oleh majelis jemaat GKI Ampera, anggota jemaat serta simpatisan dan dipandu oleh Pendeta Berghouser Benget. Rekaman ibadah juga melibatkan Pendeta dalam lingkup yang lebih luas, Sinode Wilayah GKI.Membuka kesempatan bagi seluruh anggota jemaat dan simpatisan untuk menyalurkan kerinduan dan talentanya dalam bentuk nyanyian puji-pujian.Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Minggu 8 Januari 2023
Menjadi Pribadi yang Berkenan kepada-Nya
Matius 3:13-17
Pembeli adalah raja. Itu merupakan sebuah motto dari strategi marketing atau penjualan. Dengan memperlakukan seorang pembeli seperti seorang raja, disambut, dilayani, diladeni kebutuhannya maka akan membuat hatinya menjadi senang, sehingga diharapkan akan membeli barang dagangan lebih banyak. Sayangnya tidak semua orang bisa kita buat menjadi senang hatinya atau berkenan kepada pelayanan kita. Oleh sebab pada makna kata berkenan fokusnya terletak pada hati seseorang, apakah dirinya mau menerima kita atau tidak. Yohanes Pembaptis menolak untuk membaptis Yesus, karena merasa dirinya tidak layak dan tidak pantas. Tetapi Yesus justru memintanya untuk tetap membaptis dirinya, sebab itulah kehendak Allah. Yesus menerima Baptisan oleh Yohanes Pembaptis adalah satu perkenanan Allah. Oleh sebab itu Yesus bertindak untuk memenuhi segala yang menjadi perkenan Allah. Yesus tunduk, taat dan percaya sepernuhnya kepada Sang Bapa di Sorga.
Ibadah Daring Tahun Baru
Minggu, 01 Januari 2023
Ilustrasi penghakiman terakhir memberitahukan kepada kita bahwa keselamatan adalah anugerah namun memerlukan respon dari setiap orang percaya yang nyata dan harus diuji dalam segala situasi dan kondisi akan kesetiaan dan konsistensinya.
Golongan domba atau kambing, bedanya adalah pada respon akan warisan keselamatan yang sudah tersedia sebagai jaminannya. Reaksi dan respon spontan yang tanpa sadar kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan, kasih, kepedulian kita, itulah yang menunjukkan jatidiri kita yang sesungguhnya sebagai domba yang setia dan itulah yang diperhitungkan Allah.
Tahun baru sebagai waktu, kesempatan dan peluang baru, mari kita alami dengan mengkaryakan kasih Tuhan tanpa batas apapun, kepada siapapun dan dalam kondisi apapun. Musim akan selalu berganti, namun sukacita biarlah tetap bersama kita karena kita punya kasih Allah yang menjadi satu dengan hati kita.
Minggu 25 Desember 2022
Kasih Karunia Allah Sudah Nyata
Lukas 2:1-20
Manusia suka sekali membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain; Segala sesuatu dibandingkan mulai dari harta benda, kebaikan bahkan keburukan. Hasilnya seringkali kontraproduktif. Bilaman kita merasa menang, maka muncul kesombongan diri dan kecenderungan merendahkan orang lain. Bilamana merasa kalah, akan baper, minder dan menjauh dari orang lain. Jarang sekali hasilnya yang ketiga, yaitu semakin rendah hati, menaruh hormat atau respek terhadap orang lain. Upaya membandingkan juga sering dilakukan dalam bidang rohani, bahkan ada juga yang membandingkan dirinya dengan Tuhan. Merasa diri bahwa kebaikannya, keputusannya, kebijaksanaannya yach hanya beda-beda tipis dengan Tuhan. Itu saking PeDenya. Kasih Karunia Allah tidak bisa dibandingkan dengan kebaikan hati manusia. Malam Natal adalah Malam Kasih karunia Allah yang nyata. Tuhan Yesus lahir dan hadir sebagai bukti Kasih Karunia Sang Bapa yang dinyatakan melalui pemberian Putera Tunggal-Nya bagi penebusan dosa manusia. Kelahiran Yesus adalah wujud kasih Allah yang nyata di tengah manusia. Semuanya ini mendidik kita untuk meninggalkan kejahatan kita, guna menerima keselamatan dan hidup dalam pengharapan.
Sabtu, 24 Desember 2022
Kasih Karunia Allah Sudah Nyata
Lukas 2:1-20
Manusia suka sekali membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain; Segala sesuatu dibandingkan mulai dari harta benda, kebaikan bahkan keburukan. Hasilnya seringkali kontraproduktif. Bilaman kita merasa menang, maka muncul kesombongan diri dan kecenderungan merendahkan orang lain. Bilamana merasa kalah, akan baper, minder dan menjauh dari orang lain. Jarang sekali hasilnya yang ketiga, yaitu semakin rendah hati, menaruh hormat atau respek terhadap orang lain. Upaya membandingkan juga sering dilakukan dalam bidang rohani, bahkan ada juga yang membandingkan dirinya dengan Tuhan. Merasa diri bahwa kebaikannya, keputusannya, kebijaksanaannya yach hanya beda-beda tipis dengan Tuhan. Itu saking PeDenya. Kasih Karunia Allah tidak bisa dibandingkan dengan kebaikan hati manusia. Malam Natal adalah Malam Kasih karunia Allah yang nyata. Tuhan Yesus lahir dan hadir sebagai bukti Kasih Karunia Sang Bapa yang dinyatakan melalui pemberian Putera Tunggal-Nya bagi penebusan dosa manusia. Kelahiran Yesus adalah wujud kasih Allah yang nyata di tengah manusia. Semuanya ini mendidik kita untuk meninggalkan kejahatan kita, guna menerima keselamatan dan hidup dalam pengharapan.
Minggu 11 Desember 2022
Tuhan Datang Menyelematkanmu
Matius 11:2-11
Banyak orang mengalami PHP dan menjadi kecewa. Setiap orang membutuhkan kepastian dari setiap janji yang diterimanya bukan. Mereka yang kecewa karena janji yang kosong dapat menjadi berubah. Dari baik menjadi orang yang membenci atau tidak percaya lagi. Hal yang sama terjadi juga dalam hidup rohani kita. Walaupun kita sudah menjadi Kristen, namun kita tidak boleh asal percaya kepada Yesus, sebab Yesus bukan pribadi yang asal-asalan. Dia Tuhan yang setia pada janji-Nya dan mewujudkan setiap janji-Nya dalam hidup manusia. Yohanes Pembaptis mengirimkan para muridnya untuk bertanya kepada Yesus. Apakah Engkau Mesias yang dinantikan? Ataukah kami harus menantikan yang lain lagi? Pertanyaan ini menyiratkan 2 hal, pertama mengungkapkan keraguan dan juga kebutuhan akan peneguhan iman. Bersyukur Yesus memberikan jawaban yang begitu jelas bagi Yohanes Pembaptis. Dialah Mesias yang datang untuk menyelamatkan dirinya, Saudara dan saya. Kita diajak untuk sedia menjalani proses hidup yang lebh baik. Dalam penantian kita bersukacita, kita sabar dan setia.
Minggu 4 Desember 2022
Pengharapan bagi seluruh Ciptaan
Matius 3:1-12
Zaman mengubah manusia untuk memilih focus dan mengurusi hidup dan kepentingannya masing-masing. Tidak ayal, demi mewaujudkan semuanya itu, justru mengorbankan hidup dan kepentingan orang lain. Prinsp menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi inilah yang membuat hidup kita seperti halnya padang gurun. Hidup yang tandus, kering dan kejam. Kita tinggal di dalamnya dan dipengaruhi olehnya. Yohanes Pembaptis hadir berseru di padang gurun – berseru atas kehidupan manusia yang kejam. Kita diminta untuk bertobat. Itulah pintu bagi semua pengharapan kita kepada Allah. Pertobatan yang sejati, yang Nampak melalui buah-buah yang dihasilkan. Oleh sebab Kerajaan Allah hadir, hendak mengubah keadaan hidup kita. Lebih jauh lagi. Dengan meluruskan hati kita, maka Kerajaan Allah itu bisa lahir di dalam hidup kita, dan kita pun dapat membawa orang lain dan seluruh alam menjadi selamat.
Minggu 13 November 2022
Waspada dan Bertahan
Lukas 21: 5-19
Sikap waspada dan bertahan patut kita miliki dalam semua aktivitas kehidupan kita. Waspada merupakan kesadaran untuk mawas diri atau berhati-hati terhadap segala sesuatu yang bisa mungkin terjadi atas diri kita. Kita tidak bisa memprediksi apapun. Demikian juga sikap bertahan membutuhkan konsentrasi, konsistensi dan kegigihan dalam melakukan segala sesuatu. Hal inilah yang ditegaskan juga oleh Tuhan Yesus, saat mendengar bagaimana orang banyak kagum melihat Bait Allah yang berdiri dengan megahnya. Bait Allah menjadi simbol kehadiran Allah di tengah orang Yahudi. Yesus mengingatkan mereka untuk bersikap waspada dan bertahan, bilamana Bait Allah akan mengalami kehancurannya. Perkataan Yesus ini dipahami oleh para murid sebagai Hari Tuhan yang datang, sehingga mereka bertanya kapan kah itu akan terjadi? Tuhan Yesus menegaskan ada 5 peristiwa yang akan mendahuluinya, yaitu darinya penyesat yang mengatas namakan diri Mesias, munculnya perang dan pemberontakan, fenomena alam – gempa bumi, penyakit dan kelaparan, terjadinya penganiayaan dan timbulnya kebencian dari orang-orang terdekat karena iman kepada Kristus. Sikap waspada dan bertahan akan menyelamatkan hidup kita. Oleh sebab bila Tuhan di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
Minggu, 06 November 2022
Dia Allah yang Hidup
Lukas 20: 27-38
Perselisihan selalu meninggalkan residu kebencian, penolakan bahkan dendam di antara keduanya. Orang Saduki dan Farisi berbeda pendapat dan pengajaran mengenai Kebangkitan orang mati. Perbedaan itu menimbulkan residu di tengah-tengah bangsa Yahudi sehingga mayarakat menjadi terpecah. Kehadiran Tuhan Yesus, justru hendak dipakai oleh orang Saduki untuk mendapatkan dukungan dan keberpihakan tentang penolakan atas Kebangkitan Orang Mati. Satu soal dibuat pada diri seorang perempuan yang harus menikah hingga 7 kali kali dengan Saudara suaminya, sepeninggalan suaminya. Dari ketujuh orang tersebut, siapakah yang akan menjadi suaminya, di hari Kebangkitan? Tuhan Yesus menegaskan tentang kehidupan setelah kebangkitan tidak lagi sama dengan saat ini. Kematian tidak akan memisahkan kita dari kasih Allah yang sesungguhnya dan Tuhan itu tetap Allah bukan saja bagi orang yang mati melainkan juga bagi orang yang hidup.
Minggu 23 Oktober 2022
Keluarga yang tetap percaya pada pertolongan Tuhan
Lukas 18: 9-14
Kesulitan dan penderitaan hidup adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari diri manusia, termasuk dari mereka yang dekat dengan Tuhan bahkan umat Tuhan itu sendiri. Sayangnya banyak orang yang keliru memahami bahwa banyaknya penderitaan dan kesulitan dipandang sebagai bentuk hukuman Tuhan dari dosa.
Itulah yang membuat banyak orang minder dan baper untuk tidak datang meminta pertolongan Tuhan. Sikap hati yang tepat dalam berdoa dan meminta kepada Tuhan menjadi hal penting. Tuhan Yesus menunjukkan perbedaan sikap hati melalui perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai. Mereka yang merasa diri benar dan memandang dirinya lebih baik, sikap doanya tidaklah dibenarkan Allah. Inilah yang terjadi dengan orang Farisi. Dia tidak pernah bersyukur, tidak meminta pertolongan, bahkan tidak pernah merasa perlu Tuhan. Doanya telah tenggelam dalam rutinitas atau kebiasaan semata-mata. Sebaliknya pemungut cukai itu menyadari dosanya. Dia di tolak oleh sesamanya sebagai orang yang mengambil lebih banyak dari yang ditetapkan. Dia pun menyadari dosanya di hadapan Tuhan. Dia menyadari butuh pertolongan dari Tuhan sendiri dan mengakui dosanya. Di sinilah Tuhan Yesus menekankan bahwa doa yang diterima Allah bukanlah perkara isinya, melainkan sikap hati kita yang datang kepada Allah yang hidup.
Minggu, 9 Oktober 2022
Keluarga yang memiliki Ucapan Syukur
Lukas 17:11-19
Tragedi sepakbola Indonesia di Kanjuruhan membuka mata kita tentang berharganya nyawa manusia untuk sebuah pertandingan. Padahal sepakbola selalu menjunjung sportifitas – siap menerima kekalahan, menghargai semua pemain termasuk lawan dan lain sebagainya. Hidup yang tidak sportif inilah yang dihadapi oleh Tuhan Yesus saat melintasi perbatasan Samaria dan Galilea. Dirinya bertemu dengan 10 orang kusta yang memohon belas kasihan. Mereka membutuhkan kesembuhan. Tuhan Yesus tergerak hatinya dan meminta mereka pergi kepada para imam, agar kesembuhan mereka diakui. Di tengah perjalanan ke 10 orang kusta itu menjadi sembuh, tetapi sayang, hanya satu orang yang Kembali kepada Yesus. Dia memuliakan Allah, kemudian tersungkur di kaki Yesus dan mengucapkan syukur atas pertolongan Tuhan. Mengapa hanya satu orang yang Kembali? Padahal orang itu orang Samaria? Kelompok masyarakat yang dipandang sebelah mata oleh orang Israel. Yesus menegaskan pentingnya orang mengucap syukur dalam hidupnya.
Minggu 2 Oktober 2022
Keluarga yang memiliki Iman Seorang Hamba
Lukas 17:5-10
Hidup beriman setiap anggota keluarga Kristen sesungguhnya tidak lepas dari panggilannya sebagai orang percaya. Setiap kita dipanggil untuk berjiwa sebagai “hamba” yang melayani di tengah keluarga. Tidak ada yang selalu menjadi tuan saja, sedangkan yang lain menjadi hamba terus menerus, sekalipun itu seorang Bapa Kepala keluarga atau seorang Ibu rumah tangga. Proses hidup beriman menempatkan kita satu sama lain sebagai hamba yang melayani. Beratnya hidup berkeluarga membuat kita menyadari bahwa kita membutuhkan iman. Tambahkanlah iman kami yang Tuhan. Dengan tambah iman kita pun menjadi aman, siap sedia menghadapi hal-hal yang luarbiasa. Di sisi lain kita patut belajar beriman seperti seorang hamba yang bekerja melayani tuannya. Sikap kerendahan hati sangat dibutuhkan dari semuanya itu. Hidup beriman patut mampu menempatkan diri dengan tepat, bukan sebagai tuan yang dihormati, dipuja dan puji, melainkan sedia dilupakan.
Minggu 11 September 2022
Pertobatan Diri membawa sukacita di Sorga
Lukas 15:1-10
Orang yang kehilangan pastilah menderita. Terlebih lagi bila yang terhilang itu adalah sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Manusia adalah pribadi yang terhilang sejak jatuh dalam dosa. Terhilang dari taman Eden dan semakin terserak ke berbagai penjuru bumi. Di sisi lain, kita patut bersyukur bahwa Allah adalah pribadi yang mencari. Dia mencari kita yang terhilang. Pro aktif. Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk mencari yang terhilang dan tersesat. Masalah muncul saat kita tidak menyadari diri kita terhilang. Kita melihat memandang diri sebagai orang benar yang tidak membutuhkan keselamatan. Inilah cara pandng orang Farisi dan ahli Taurat yang dijawab oleh Yesus. Perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang memberi penegasan tentang pertobatan adalah kunci utama diri kita ditemukan Kembali oleh Allah. Oleh sebab di mata Tuhan 1 orang berdosa pun itu berharga. Di sinilah kasih-Nya ditunjukkan kepada kita sekalian. Allah bersukacita dapat menemukan dan menyelamatkan manusia yang terhilang.
Minggu 04 September 2022
Murid Kristus yang Berkomitmen
Lukas 14:25-33
Dalam dunia sosial media kita mengenal istilah followers atau pengikut. Kita menjadi menjadi pengikut dari seseorang yang kita kagumi, tokoh nasional, artis, pengusaha atau motivator lainnya. Tetapi tidak selalu sebagai follower kita bisa terus menerus mengikuti, merespon atau membagikan apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Hal ini disebabkan karena banyaknya orang yang kita ikuti, atau juga rasa letih, lelah dan bosan. Di sinilah seringkali menggambarkan hidup beriman kita. Tuhan Yesus mengajak kita untuk memikirkan ulang akan komitmen dalam mengikut Tuhan. Yesus tidak menghendaki kita hanya asal-asalan saja. Tetapi harus ada 3 hal yang menjadi dasar. Pertama, Komitmen itu harus memilih. Komitmen harus menjadi prioritas bagi kita. Kedua, Komitmen turut menderita. Pikul Salib. Tuhan tidak menjanjikan kesenangan selama hidup, tetapi keselamatan di dalamTuhan. Dan ketiga, Komitmen mengikut Tuhan secara all out atau sepenuh hati. Oleh sebab komitmen adalah harga yang harus dibayar dalam mengikut Tuhan.
Minggu 28 Agustus 2022
Terus Belajar Berjalan Bersama Sebagai Gereja
Lukas 14:1,7-14
Semua orang merasa dirinya penting terhormat dan unggul. Itulah yang membuat banyak orang berebutan mencari penghormatan atas orang lain. Tidak ayal banyak yang jatuh kepada kesombongan semata. Dimanakah letak kedudukan terhormat seseorang? Sesungguhnya adalah di dalam hati seseorang. Bilamana kita menjadi bermakna bagi orang tersebut, maka pastilah kita dihormati, dikasihi, dipandang baik dan lain sebagainya. Tuhan Yesus memberi-kan pengajaran penting bagi kita untuk belajar bersama, “barang siapa meninggikan diri Ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri ia akan ditinggikan” (ay 11). Ungkapan ini mendorong kita untuk mawas diri dan mengevaluasi diri dalam menempatkan diri kita di tengah persekutuan dan kehidupan. Mereka yang sengaja salah menempatkand diri bisa jadi adalah orang yang gila hormat. Salah tempat dan salah duduk. Untuk itu, Tuhan Yesus mengajak kita untuk memikirkan ulang tentang kerendahan hati yang ditawarkan. Pertama, kita sesungguhnya adalah orang yang kecil dan tidak bernilai. Kedua, selalu ada orang yang lebih terhormat dari diri kita dan ketiga, Tuhanlah yang memberikan kesempurnaan kepada kita sehingga kita dipandang layak dan mendapat kehormatan. GKI dalam HUT ke-34 terus berupaya untuk melayar semakin rendah hati dan melihat bahwa fungsi lebih berarti daripada kedudukan, kebersamaan menjadi berkat lebih tepat dibanding nama besar. Dan pelayanan lebih baik dibanding kehormatan.
Minggu 24 Juli 2022
Tuhan Ajarlah Kami Berdoa
Lukas 11:1-13
Berdoa adalah nafas hidup orang Kristen. Nyatanya tidak demikian, sebab kita patut bertanya apakah berdoa itu sulit atau mudah? Mereka yang menjawab mudah, sesungguhnya patut mengingat bahwa Roh Kuduslah yang mengajar kita untuk berdoa. Bagi kita yang menjawab sulit, itu disebabkan karena kita kurang percaya hingga mengalami kekeringan rohani dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang Doa Bapa Kami. Bagian pertama dari Doa adalah percaya kepada Allah yang menjadi sumber satu-satunya pertolongan hidup kita. Kita memanggilnya sebagai Bapa. Ini menunjukkan relasi doa kita adalah relasi yang dekat sebagai seorang Bapa kepada anaknya. Doa juga berisi permintaan yang memiliki konsekuensi di dalamnya. Untuk beroleh pengampunan, kita patut sedia mengampuni tentunya.. Di sinilah doa bukan hanya sekedar meminta, melainkan turut berproses menjadi lebih realitis dan tidak egois.
Kebaktian Minggu 10 Juli 2022
Kasih itu Sederhana
Lukas 10:25-37
Kasih adalah kekuatan terbesar Allah yang telah dinyatakan, diajarkan dan diwujudkan oleh Tuhan Yesus bagi semua orang. Itulah sebabnya, banyak dari kita yang mampu bertahan melakukan satu perbuatan atau menerima satu kondisi yang mungkin sangat melelahkan, menjemukan bahkan menjengkelkan di dalam hidup ini. Seorang yang merawat orangtua atau pasangannya yang sakit. Atau seorang ibu yang sudah lelah bekerja, namun harus mengajari anaknya belajar. Kasih mengubah cara pandang kita. Sekalipun demikian ada banyak orang belum memahami kasih secara tepat. Kasih dipahami sedemikian rupa hingga menjadi sempit dan hanya untuk kalangan sendiri. Melalui kisah tentang Orang Samaria yang Baik Hati, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kasih itu Sederhana. Kasih sederhana itu bersifat universal dan tidak membeda-bedakan orang. Kasih sederhana ini, sesederhana kita melakukannya dari hati yang tergerak untuk membantu orang lain. Kasih sederhana itu tidak pandang bulu, atau bertindak atas dasar perhitungan, melainkan karena kemauan. Saudara masih memiliki kasih demikian? Lakukanlah kasih sederhana dalam hidup kita.
Minggu 3 Juli 2022
Menjadi Jadi Duta bagi Kristus
Lukas 10:1-11, 16-20
Dunia berdecak kagum melihat keberanian Presiden Joko Widodo yang mengunjungi Ukraina dan Russia dalam misi perdamaian pada minggu ini. Sejumlah kepada negara menaruh hormat dan respek terhadap sikap dan peran Indonesia bagi perdamaian dunia. Beliau menjadi Duta perdamaian dunia. Setiap orang percaya juga adalah Duta bagi Kristus. Dengan menyatakan iman percaya kita terpanggil untuk menyatakan keselamatan Tuhan dan Kerajaan Allah. Tuhan Yesus mengutus ke-70 orang murid untuk pergi mendahului mengabarkan Injil Tuhan, sebab tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Seorang Duta Kristus patut memiliki mentalitas diri yang kuat, agar siap sedia bilamana kita diterima bahkan di tolak di dalam pengutusan kita. Seperti Domba di tengah-tengah serigala, demikianlah Duta Kristus siap sedia menghadapi bahaya ancaman dan penolakan hidup dari orang di sekitarnya.
Minggu 26 Juni 2022
Tuhan, Aku Ingin Mengikut Engkau
Lukas 9:51-62
Sekalipun jumlah orang Kristen terbanyak di dunia, yaitu 2,3 Milliar, namun tidak semua merupakan pengikut Kristus yang sejati. Banyak yang hanya menjadi Kristen KTP, stagnan bahkan masih menjadi batu sandungan. Padahal panggilan menjadi pengikut Yesus adalah panggilan untuk menjadi pribadi yang siap belajar dan berubah. Pertama-tama menjadi pengikut Yesus bukanlah berjiwa premanisme. Pengikut Yesus tidak patut mengancam, menodong atau pun memaksa orang lain yang tidak membantu atau mendukungnya. Dalam hal ini ada 3 dimensi pengikut YEsus yang patut mengubah hidup kita. Pertama, sediakan tempat bagi Tuhan di dalam hidup kita. Mengikut Tuhan Yesus seharusnya benar-benar mengubah cara hidup seseorang secara total. Kedua, Meninggalkan perkara yang sia-sia. Dan Ketiga, Siap melangkah ke depan dan tidak menengok ke belakang.
Kebaktian Minggu
Minggu, 12 Juni 2022
Berhikmat Dalam Kasih Allah Trinitas
Banyak orang tidak menyukai Matematika, padahal ilmu ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan keseharian kita. Sulitnya untuk memahami matematika lebih disebabkan kita tidak mencintainya sejak awal. Begitu juga dengan pemahaman tentang Allah Trinitas yang bagi banyak orang dipandang sulit, padahal Allah sendiri telah memberikan Roh Kudus untuk membantu kita memahaminya. Ini bukan sekedar pemahaman tentang Allah, melainkan bagian dari pola pikir dan pola hidup orang percaya. Allah Trinitas adalah Allah yang Esa (satu kesatuan) pada ketiga Pribadi yang sehakekat dan setara. Ketiganya memiliki relasi kasih. Roh Kudus yang dijanjikan oleh Kristus menuntun manusia kepada kebenaran yang berasal dari Sang Bapa dan Sang Putera itu sendiri. Roh Kudus memberikan kepada kita hikmat untuk memahami tentang Allah Trinita
Kebaktian Minggu Pentakosta
Minggu, 5 Juni 2022
Roh Kebenaran, Roh Pemersatu
Hari Pentakosta ditandai sekaligus dengan tiga peristiwa penting. Hari turunnya Roh Kudus, hari ucapan syukur atas panen raya dan juga hari lahirnya Gereja. Roh Kudus yang dicurahkan sebagai Roh kebenaran memimpin setiap orang percaya untuk menyatakan syukur atas berkat Tuhan di dalam kehidupannya. Roh Kudus sebagai Roh Pemersatu juga memimpin Gereja sejak lahir hingga sekarang ini untuk terus mewujudkan persatuan orang beriman. Itu sebabnya Perayaan Hari Pentakosta bukan satu ibadah ceremonial belakan, melainkan satu ibadah transformasi antara hidup kebenaran menuju hidup yang menjadi saksi Injil Tuhan. Roh Kudus yang diberikan menjadi pribadi yang tinggal tetap di dalam diri manusia untuk mengubahkan kehidupan manusia. Selamat Pentakosta
Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus Ke Surga
Minggu, 26 Mei 2022
Sampaikanlah Berita Pertobatan dan Pengampunan Dosa
Pikiran yang terbuka adalah saralah satu karakter yang siap menerima terhadap beragam ide, argument, dan informasi yang ada. Kemampuan ini dianggap sebagai kualitas Positif dan diperlukan untuk berfikir kritis. Kristus membuka pikiran para murid untuk bisa memahami kitab Suci, sebelum Kristus terangkat ke Sorga. Mengapa hal ini penting, itu disebabkan karena dunia kita dipenuhi dengan pikiran yang sempit. Dimana kesalahan dan dosa tidak bisa diterima dan ditoreril. Pasti mendapat ganjaran atau hukumannya. Berbeda halnya dengan Kristus, yang justru membuka kesempatan bagi manusia untuk bertobat dan menerima pengampunan dosa. Ini adalah bentuk kemurah hati Allah kepada kita yang percaya kepada-Nya. Ini adalah harapan baru bagi hidup manusia. Oleh sebab itu, kita menjadi saksi dari semuanya ini. Kita terpanggil untuk memberitakan ini kepada semua orang agar mereka beroleh keselamatan di dalam hidup.
Kebaktian Minggu
Minggu, 22 Mei 2022
Warisan Damai Sejahtera
Tuhan Yesus mewariskan Damai Sejahtera kepada para murid dan orang percaya lainnya untuk bersifat utuh dan menyeluruh, berbeda dengan apa yang diberikan oleh dunia ini. Perbedaan terbesar terletak pada nilai Damai Sejahtera yang bernilai kekal, tidak lekang oleh ruang dan waktu. Roh Kudus diberikan sebagai penolong bagi orang percaya untuk bisa menerima Warisan Damai Sejahtera itu, agar para murid dan orang percaya lainnya dapat memberlakukan kasih di dalam hidup mereka. Roh Kudus akan menolong dan mengingatkan kita akan Firman Allah, sehingga kehidupan kita mengalami Damai Sejahtera.
Kebaktian Minggu Paska IV
Minggu, 08 Mei 2022
Everlasting Life
Manusia mengharapkan dan mencari kehidupan abadi dengan berbagi cara. Sejumlah filsuf, agamawan, ahli astronomi bahkan orang kaya dunia memiliki konsep tentang kehidupan abadi. Tetapi hanya Yesus yang layak untuk dipercaya, sebab Dia adalah Anak Allah yang sehakikat dengan Sang Bapa yang Kekal. Begitu juga dengan peristiwa kebangkitan-Nya, menjadi jalan dan bukti akan pemiliki Hidup yang kekal, yang mampu menganugerahkan kepada kita kehidupan abadi bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Keabadian hidup ditunjukkan Tuhan bukan hanya dengan cara supranatural, melainkan juga di dalam keseharian hidup kita. Dia memberikan pertolongan, jalan keluar, semangat, hikmat dan sukacita untuk melewati segala bentuk pergumulan yang bisa mengakhiri hidup manusia.
Kebaktian Minggu Paska III
Minggu, 01 Mei 2022
Keramahan yang Menggembalakan
Fenomena Crazy Rich muncul di Indonesia memamerkan segala kesuksesan dan kekayaan mereka. Sayangnya banyak juga diantara mereka yang hanya settingan atau bohongan. Mereka terlibat pada bisnis yang tidak tepat. Penampakan Yesus pasca Kebangkitan, bukanlah ajang pameranseperti Crazy Rich. Tuhan hadir untuk memulihkan dan menyelamatkan manusia. Tuhan menyapa para muridnya yang mengalami kegagalan menangkap ikan sejak semalaman. Dia memberi solusi kepada mereka, seperti halnya yang pernah dilakukan-Nya saat memanggil para murid itu. Mereka mendapatkan ikan tangkapan. Dengan penuh keramahan Yesus menjamu makan mereka di pinggir pantai. Dan memulihkan keadaan Petrus yang bersalah karena penyangkalan yang dilakukannya. Simon, apakah engkau mengasihi Aku? Tuhan menerima ketidakmampuan Petrus dan memberikan kepercayaan kepada-Nya untuk terus melayani. Gembalakanlah domba-dombaku. Dengan keramahan, Tuhan menggembalakan mereka, sehingga mereka pun menjadi pulih dan diteguhkan dalam iman.
Kebaktian Minggu
Minggu, 24 April 2022
Kebangkitan Kristus Yang Memulihkan
Salah satu penyebab kita sulit mempercayai orang lain adalah pola pikir superior. Berfikir bahwa tidak ada orang yang dapat kita percayai kalua bukan diri kita sendiri. Hal ini dibangun karena pola hidup individualistis dan cenderung menghargai kesuksesan diri sendiri. Di sisi lain perasaan trauma dan takut juga menjadi penyebab kita sulit untuk menjadi percaya. Para murid Yesus mengalami trauma, takut, sedih dan rasa bersalah karena peristiwa kematian Sang guru yang begitu tragis, penuh penderitaan dan tidak dapat diterima oleh hati mereka. Hal ini tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh Yesus, yang mengajar di rumah ibadah, menyembuhkan orang dan membuat mukjiat. Dalam ketakutan itu Tuhan justru hadir di tempat mereka yang terkunci rapat. Tuhan memulihkan keadaan mereka dengan menunjukan bukti kebangkitan-Nya. Begitu juga kepada Tomas yang masih tidak percaya. Tuhan tidak membiarkan hidup kita terpenjara dalam perasaan trauma, ketakutan dan kesedihan. Dia memulihkan kita dengan kuasa kebangkitan-Nya. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya.
Kebaktian Jumat Agung
Jumat, 15 April 2022
Kematiannya Menghidupkan dan Mendamaikan
Perasaan seorang ibu akan hancur bila melihat anaknya di dalam penderitaan, bahkan mengalami kematian yang lebih dahulu dari dirinya. Sedih, menyayat hati dan sangat berduka. Itulah yang dialami oleh Maria dan para perempuan lainnya melihat Yesus tersalib di kayu salib. Tidak ada yang dapat dilakukannya, oleh sebab penderitaan itu harus terjadi sebagaimana yang dikatakanya dahulu. Di ujung tanduk kematian, Yesus justru masih menunjukkan kepedulian-Nya kepada sang Ibu. “Ibu Inilah anakmu” dan kepada para murid-muridnya, “Inilah Ibumu” Dia tidak meninggalkan kita walau tengah menderita, namun menyatukan. Yesus berjuang hingga kesudahan-Nya, Sudah selesai. Perjuangan-Nya hingga titik nadir kehidupan sebagai manusia. Walau berakhir pada kematian di kayu salib, namun menghidupkan dan mendamaikan kehidupan manusia.
Kebaktian Kamis Putih
Kamis, 14 April 2022
Kerendahan hati untuk kehidupan
Lebih baik musuh yang jujur ketimbang teman yang berkhianat. Ungkapan ini menegaskan tentang sesaknya sebuah pengkhianatan. Mereka yang melakukannya ditolak oleh semua pihak dan selalu berujung kepada kematian yang tragis. Salah satu kisah pengkhinatan yang terkenal adalah kisah Yudas atas gurunya. Tetapi Yesus yang mengetahui niat dan rencana Yudas, justru tetap mengasihinya sampai akhir. Yesus tidak hanya di khianati oleh Yudas, melainkan juga oleh Petrus dalam bentuk yang berbeda yaitu penyangkalan diri. Dengan membasuh kaki para murid Yesus menyentuh hati setiap murid agar memilih kehidupan. Tindakan Yesus menggambarkan kerendahan hatinya, untuk membangun kehidupan. Oleh sebab kehidupan manusia telah lama rusak disebabkan pengkhianatan, kekecewaan dan kecurigaan. Yesus menunjukkan solusi atas hidup manusia yaitu mengasihi. Sebagai guru, Yesus tidak hanya memberikan pengetahuan semata, tetapi mendorong agar kasih itu diwujudkan dalam kehidupan.
Kebaktian Minggu
Minggu, 10 April 2022
Taat Menghadapi Penderitaan Hidup
Seandainya bisa, semua orang pasti ingin menghindari penderitaan. Ada 3 sikap orang saat berhadapan dengan penderitaan, Melarikan diri, menunda-nunda atau menghadapinya secara langsung. Yesus sosok yang siap menghadapi penderitaan. Dia melakukannya dalam satu ketaatan kepada Sang Bapa yang mengasihi-Nya. Sekalipun tahu bahwa Yerusalem akan menolak dan membunuh-Nya, namun Yesus tetap masuk ke sana. Dia menunggangi seekor keledai betina diiringi para murid. Bak seorang raja penahluk kota yang datang menunggangi seekor kuda. Tetapi tidaklah demikian. Yesus tidak datang dengan pedang dan perang. Dia datang dengan cinta kasih yang besar, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Orang banyak menyambutnya dengan menghamparkan pakaian mereka, dan bersorak Hosiana. Yesus tahu apa yang akan terjadi kelak. Semua orang yang menyambutnya, justru akan memusuhinya.
Kebaktian Minggu
Minggu, 3 April 2022
Karena kasih-Mu hidupku Baru
Setiap pemberian yang baik tentunya dipersiapkan dan dibuat sedemikian rupa untuk mendatangkan sukacita bagi mereka yang menerimanya. Terlebih lagi bila pemberian itu di dasarkan pada ungkapan syukur atas rasa terima kasih yang besar. Sikap ini bukanlah sebuah pemborosan, karena kebaikan dan rasa syukur tidak dapat diukur dengan materi. Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu yang mahal dan menyeka dengan rambutnya. Inilah pernyataan syukur yang diungkapkannya setelah Tuhan membangkitkan Lazarus – Saudaranya itu dari kematian. Maria telah berhutang nyawa dengan Yesus, sehingga hidupnya menjadi baru di dalam kasih-Nya. Sekalipun apa yang dilakukannya mendapat kritik dari Yudas Iskariot sebagai sebuah pemborosan, namun Tuhan mengetahui apa yang menjadi motif ungkapan tersebut. Yudas tidak memiliki kepedulian terhadap orang miskin, tidak juga mengasihi Yesus. Yudas hanya mencintai dirinya sendiri dan kepentingannya. Apakah yang dapat kita berikan kepada Tuhan yang telah membuat hidup kita menjadi baru? Berikanlah yang terbaik.
Kebaktian Minggu
Minggu, 20 Maret 2022
Menghidupi Biji Sesawi
Manusia selalu terpesona dengan hal yang spectakuler, namun mengabaikan hal-hal yang kecil dan receh, karena dianggap rendah dan tidak bernilai. Padahal ada sejumlah contoh dalam Alkitab yang memperlihatkan hal yang berbeda. Tuhan Yesus memberikan perhatian kepada Biji sesawi dan ragi yang kecil, sebab demikianlah orang tidak pernah menyadarinya. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi – biji yang paling kecil – namun setelah ditanam di tanah yang baik akan bertumbuh menjadi pohon yang besar hingga mencapai 2 atau 3 meter. Di mana burung-burung akan bersarang dan bernaung. Demikian juga dengan ragi yang sedikit, namun mampu mengubah tepung yang banyak berproses menjadi roti. Demikianlah Kerajaan Allah dinyatakan dalam hidup manusia. Kerajaan Allah nampak nyata dan menjadi besar, Ketika kita melakukan hal-hal yang selama ini kita pandang kecil, sederhana bahkan receh. Tindakan kasih kita bukanlah hal yang kecil, kesabaran kita, pelayanan kita, pertobatan kita. Semuanya itu mengerjakan perubahan besar dalam hidup kita dan semua orang.
Kebaktian Minggu
Minggu, 13 Maret 2022
Janji Allah Menguatkan Hidupmu
Rasa takut seringkali menghambat iman dan pengharapan dalam hidup manusia. Ketakutan muncul di tengah penderitaan, kesakitan bahkan pergumulan. Tetapi manusia selalu berupaya untuk saling menguatkan hidup satu sama lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Yesus, tatkala diingatkan akan ancaman kematian oleh Herodes. Yesus tetap hadir untuk mengusir setan, menyembuhkan orang sakit dan menyelamatkan kehidupan kita. Tuhan sendiri menangisi Yerusalem yang telah dikalahkan oleh ketakutan, sehingga mereka membunuh nabi Tuhan. Tindakan yang menggambarkan penolakan atas perlindungan Tuhan yang telah memberkati mereka selama ini. Di sinilah kita dapat melihat bagaimana Yesus tetap melakukan karya kasih Allah di tengah ketakutan hidup manusia, agar semua mereka beroleh keselamatan di dalam Dia.
Kebaktian Minggu
Minggu, 06 Maret 2022
Hidup Harus Berlanjut
Semua manusia menghadapi Krisis pandemic saat ini. Tetapi ada yang lebih ringan ada juga yang lebih berat lagi. Dibutuhkan ketangguhan hidup manusia. Karakter tanggung tidak dilahirkan pada seseorang melainkan dibangun melalui waktu, pengalaman dan juga iman kepada Tuhan. Inilah salah satu aspek yang membedakan seseorang apakah dia mampu menghadapi krisis atau tidak. Tuhan Yesus menunjukkan ketangguhan-Nya menghadapi krisis yang dihadikan oleh Iblis dalam pencobaan di padang gurun. Dia di jebak dalam rayuan untuk mempergunakan kekuasaan, kedudukan dan pengaruhnya agar dapat memenuhi segala keinginan-Nya sendiri. “Jikalau Engkau Anak Allah” Iblis memberikan dilemma dalam diri Yesus untuk memilih jalan yang paling mudah. Tetapi Tuhan tidak terkecoh oleh perkataan di Jahat. Dia memilih untuk setia pada karya Kasih Allah yang harus di wujudkan di dunia ini. Yesus memilih untuk merangkul ketulusan dan hidup penuh solidaritas dengan semua manusia. Karena itu Iblis pun undur, namun dia tidak mundur. Iblis sedang mencari waktu mencobaik Saudara dan saya dengan ketiga hal yang dilakukannya kepada Yesus. Apakah Saudara siap menghadapinya?
Kebaktian Minggu
Minggu, 20 Feb 2022
Cara Membalas Musuh
Pribadi yang mudah memusuhi dapat membunuh diri kita. Itulah sebabnya bagi mereka yang sering membangun tembok pemisah, akan selalu dipenuhi dengan kegusaran, kemarahan dan dendam. Sikap bermusuhan yang muncul sering membawa kita kepada keinginan untuk membalaskan dendam agar menjadi puas dan tenang. Ini pemahaman yang keliru. Tuhan Yesus hadir untuk memberikan jawaban dan solusi bagi permusuhan yang menyebabkan manusia mengalami penderitaan. Kristus mengajarkan bagaimana kita mengakhiri permusuhan yaitu dengan menyatakan kasih. Ini merupakan karakter tertinggi yang patut dimiliki oleh semua orang percaya. Kasih mendorong kita membalas kejahatan dengan kebaikan, mengakhiri status permusuhan ganti pertemanan. Saat membalas musuh dengan kasih, kita membawanya kepada keselamatan yang Tuhan berikan. Di sinilah kemurahan hati patut ditunjukkan, seperti Bapa Yang Murah hati. Tidak ada jalan lain mengakhiri permusuhan dan dunia pun tidak memiliki jalan keluar.
Kebaktian Minggu
Minggu, 13 Feb 2022
Mengikuti Suara Allah
Manusia mengalami kebisingan suara di dalam hidupnya. Ada 3 suara yang tarik menarik dalam mempengaruhi keputusan manusia.
Pertama ada suara keinginan kita sendiri (cenderung egois, merasa benar, penting dan emosional).
Kedua, suara si jahat, yang cenderung sok tahu, bisa juga lemah lembut merayu tapi menyesatkan, bahkan cenderung menawarkan yang instan).
Dan ketiga, Suara Ilahi yang terus mengajak kita mawas diri, evaluative, bersabar dan mengajak terus bertanya akan kehendak Ilahi. Suara Tuhan terus diperdengarkan agar kita mencapai kebahagiaan di dalam hidup kita. Kebahagiaan yang tidak diukur oleh harta benda dan kecukupan dan kesenangan, tetapi oleh hati yang selalu hidup mengandalkan Tuhan.
Yesus menegaskan berbahagialah orang yang miskin, lapar, menangis dan teraniaya karena nama-Nya, oleh sebab mereka akan menerima semuanya itu di dalam Kerajaan Allah yang sudah datang. Di sisi lain Yesus mengecam orang yang kaya, yang karena kekayaan dan semua yang dimilikinya tidak lagi mengandalkan Tuhan dan memperhatikan sesama.
Kebaktian Perjamuan Kudus Awal Tahun
Minggu, 06 Feb 2022
Dipanggil Jangan menolak
Manusia belajar dari kegagalan untuk berhasil, sebab kesuksesan berjalan dari satu kegagalan kepada kegagalan tanpa kehilangan semangatnya. Orang yang gagal seringkali menyimpan amarah dalam dirinya, sehingga sulit untuk menerima masukan, panggilan atau saran dari orang lain. Simon mengalami kegagalan, setelah seharian menangkap ikan. Ia pulang dengan tangan hampa. Saat dirinya perasaan gagal tersebut, Yesus datang memintanya untuk pergi menebarkan jala lagi ke tengah. Simon mengungkapkan penolakannya, tetapi juga sedia melakukannya karena dia mengenal Yesus, yang telah datang ke rumahnya dan menyembuh-kan ibu mertuanya. Keputusannya sangatlah luarbiasa, sehingga setelah melakukannya, mereka mendapat tangkapan ikan yang banyak sekali, hingga perahu mereka hamper tenggelam. Yesus mengajak Simon dan yang lain menjadi penjala manusia; agar manusia yang mengalami kegagalan dalam hidup dapat dibawa kepada kehidupan yang baru di dalam Tuhan.
Kebaktian Minggu
Minggu, 30 Januari 2022
Menghadapi Penolakan dengan kasih
Setiap orang mengalami penolakan dalam hidupnya.
Penolakan merupakan hal yang wajar bagi mereka yang lebih suka membicarakan masalah ketimbang hadir untuk memberikan solusi.
Sejarah mencatat sejumlah tokoh dunia terkenal, yang juga dulu mengalami penolakan. Yesus sendiri juga mengalami penolakan di kampung halamannya sendiri di Nazaret. Penolakan atas kehadiran-Nya yang datang sebagai anugerah Allah untuk menggenapi nubuatan Nabi Yesaya. Orang banyak awalnya kagum kepada-Nya, namun akhinya merasa kesal dan marah, sebab kehadiran Yesus di rasakan akan menimbulkan masalah pada keberadaan hidup mereka. Puncak dari penolakan adalah penyaliban bagi Yesus.
Tetapi Tuhan menghadapinya dengan tenang dan kasih.
Kasihlah yang dapat mengakhiri semua penolakan.
Kebaktian Minggu
Minggu, 16 Januari 2022
Allah Masih Terus Berkarya
Gempa merupakan salah satu bencana alam yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Gempa itu mengejutkan diri manusia. Gempa bisa juga terjadi dalam kehidupan manusia, melalui berbagai peristiwa. Gempa kehidupan terjadi di Kana dalam sebuah pesta pernikahan. Ketika mereka mengalami kehabisan anggur. Ini sebuah malapetaka yang mengancam. Maria, Ibu Yesus mengatakan hal ini sebagai sebuah permohonan agar Yesus membantu di tengah krisis yang dihadapi. Walau Maria tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya, namun dirinya percaya, Yesus pasti bertindak. Yesus mengubah air menjadi anggur dan menyelamatkan pesta itu. Ia tidak sekedar mengubah menjadi angur yang biasa, melainkan luar biasa, hingga mendapat pujian. Di sini kita belajar bahwa karya Tuhan selalu hadir di tengah kesulitan yang kita alami. Apakah kita sedia percaya kepada-Nya?
Kebaktian Minggu
Minggu, 2 Januari 2022
Manifestasi Kebajikan Allah Kepada Seluruh Bangsa
Melihat merupakan salah satu kemampuan yang luarbiasa Tuhan berikan kepada manusia. Tetapi bukan hanya itu saja, Tuhan memberikan kemampuan kepada kita untuk melihat lebih jauh melalui perenungan dari apa yang kita lihat. Sayangnya, manusia juga bisa tidak melihat apa yang persis di depan matanya sendiri. Kemampuan itulah yang diberikan Tuhan juga kepada Orang Majus dari Timur saat melihat Bintang besar di Timur dan akhirnya menemukan Sang Jurus’lamat di Betlehem. Sebaliknya Raja Herodes tidak mampu melihat peristiwa besar itu, padahal terjadi di wilayah kekuasaannya. Dia marah, sebab kelahiran Sang Raja Yahudi itu telah menggemparkannya dan seluruh penasehatnya pun tidak tahu. Kisah orang Majus ini merupakan manifestasi Allah yang memperlihatkan diri kepada dunia. Ada 2 polanya di dalamnya, dimana keduanya memperlihatkan kepada kita, betapa keselamatan dikerjakan Allah untuk seluruh bangsa melalui kelahiran Tuhan Yesus Kristus.
Kebaktian Perjamuan Kudus Akhir Tahun
Minggu 31 Des 2021
Permenungan Kehidupan
Melihat ke belakang itu berbahaya, sebab hidup ada di depan. Kita hanya perlu melihatnya sesekali untuk merenungkan dan belajar, agar mampu memberi perubahan bagi hidup ke depan. Kedatangan para gembala yang melihat bayi Yesus di palungan merupakan peristiwa yang mengherankan Yusuf dan Maria. Mereka tidak pernah memberitahukannya. Tetapi cerita pada gembal yang berjumpa dengan malaikat Tuhan memperjelas, latar belakang kehadiran mereka. Sungguh para gembala sangat bersukacita sebab apa yang mereka dengan dan apa yang mereka telah lihat itu semua adalah benar. Sikap berbeda dimiliki oleh Maria. Sang perempuan bijaksana itu menyimpan dalam hatinya dan merenungkannya. Dia menangkap apa yang dijanjikan Allah dengan apa yang dijumpainya sebagai satu keyakinan hidup. Di sini Maria memiliki daya perenungan yang luar biasa. Dia tidak termakan eforia sesaat, melainkan mampu berefleksi tentang hidup ke depannya.
Kebaktian Malam Natal
24 Desember 2021
Sang Raja yang merapuh
Tidak ada manusia yang sungguh-sungguh kuat, paling mungkin mereka bersikap sok kuat atau berusaha menjadi kuat. Ironisnya manusia juga tidak sedia mengakui kerapuhannya. Dengan berusaha mencari kekuatan (power) manusia hendak menampilkan dirinya kuat. Sebaliknya manusia juga tidak mampu percaya dan menerima Allah yang menjadi rapuh. Allah telah merapuh menjadi manusia yang fana dalam peristiwa Natal. Allah berganti identitas menjadi manusia yang terbatas. Sang Raja berganti identitas menjadi jelata. Tindakan Allah ini ditolak manusia karena tidak mampu menerima Kasih-Nya sebagai dasar kehadirannya. Allah yang merapuh, justru hendak menerima kerapuhan manusia tersebut. Dia menggunakan pribadi Yusuf dan Maria yang rapuh, memanggil dan membisikan rahasia sorgawi kepada para gembala yang rapuh dan menerima kerapuhan manusia itu untuk dikuatkan, diteguhkan dan diselamatkan-Nya.
Kebaktian Minggu Adven III
Minggu 12 Desember 2021
Apakah Sumber Sukacitamu?
Dunia kita kehilangan sukacitanya melalui sejumlah peristiwa yang menimbulkan penderitaan, kesakitan dan kesengsaraan, Bencana alam, gelombang covid yang ke-3, perang saudara, kudeta, terrorisme dan lain sebagainya. Ini membuat dunia dipenuh dengan kecurigaan, saling membenci, curiga dan lain sebagainya.
Pada minggu Adven ke-3 ini, kita dingatkan akan sukacita atas kehadiran Kristus yang telah datang bagi dunia. Dia membawa perubahan luar biasa yang mampu mengubah hidup manusia menjadi lebih baik lagi. Perubahan itu hanya dapat kita alami saat kia menerima seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis. Oleh sebab tidak ada waktu lagi bagi kita untuk menunda, karena Kapak sudah siap untuk menebang pohon yang tidak menghasilkan buah-buah yang baik. Tidak ada jaminan apapun yang bisa membawa kita terhindar dari hukuman dosa yang adalah maut. Penting bagi kita untuk mengubah hidup dengan mencari sumber sukacita kita.
Kebaktian Minggu Advent II
Minggu 5 Des 2021
Di tengah kerapuhan, maukah aku di utus?
Kecenderungan mengabaikan hal-hal kecil akan menimbulkan masalah besar dalam kehidupan kita. Sadar atau tidak, sikap mengabaikan itu merupakan dosa terbesar manusia. Dengan memandang diri sendiri tidak bermasalah, melakukan kebohongan kecil, pergaulan yang keliru dan lain sebagainya. Padahal semuanya itu berpotensi memberikan kehidupan yang rapuh di kemudian hari. Diri kita pun rapuh dalam berbagai hal. Kerapuhan karena tidak dicintai, rapuh dalam hal berelasi dengan orang lain dan Tuhan. Dan rapuh karena memiliki luka lama, hidup sendirian, tidak memiliki teman dan merasa tidak berarti. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan sebagai bagian dari pemulihan atas hidup kita yang rapuh. Proses pertobatan adalah proses kesembuhan, penguatan dan pemulihan. Tuhan mengehndaki kita semua pulih karena kita berharga di mata-Nya.
Kebaktian Minggu Advent I
Minggu 28 Nov 2021
Berjaga-jaga dan Berdoalah
Hidup itu hakekatnya adalah berjaga-jaga, seperti seorang petarung dengan kuda-kudanya mengantisipasi serangan musuh. Demikianlah juga diri kita dalam hidup siap menghadapi pergumulan yang datang silih berganti. Saat ini banyak orang berjaga-jaga tentang kesehatannya, usahanya, keluarganya, Hidup yang berjaga itu meresahkan pastinya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, sebab sejumlah peristiwa bisa hadirkan keputus asaan, kegelisahan, kesedihan dan sikap yang menyerah. Tetapi sekaligus di dalam keresahan itulah, kita di ajak untuk berjaga di minggu adven pertama ini. Kristus mengingatkan kita untuk belajar dari alam di sekitar kita, yang mengajak kita untuk berhikmat dalam berjaga-jaga. Tuhan justru membuka rahasia sejumlah peristiwa melalui apa yang terjadi di sekitar kita. Dibutuhkan sikap hati untuk mengantisipasi. Itulah sikap berjaga-jaga. Sikap hati yang tahu dan bersiap diri, adalah sikap hati yg siap dibentuk, ditolong dan dilindungi Allah. Doa adalah sumber kekuatan dalam berjaga, sumber penghiburan, sumber pikiran positif bagi kita yang menantikan Tuhan.
Kebaktian Minggu
Minggu 7 Nov 2021
Terpanggil untuk Memberi
Jemaat GKI Ampera terbentuk karena keterpanggilan orang per orang untuk memberi bagi Tuhan. Pemberian diri yang tulus ini telah diberkati Tuhan berlipatkali ganda. Sayangnya banyak orang kesulitan untuk memberi, karena takut kekurangan. Memberi itu berarti menyerahkan sebagian hak kita kepada yang lain, sedangkan pada Tindakan mengambil kita merebut hak orang lain bagi kita. Tuhan Yesus melihat persembahan janda miskin itu adalah yang terbesar, sebab telah beri dari segala kekurangannya, yaitu seluruh hidupnya. Sebaliknya orang kaya yang memberi dalam jumlah banyak itu memberi dari kelimpahannya. Itu adalah wajar, sebab memang Tuhan telah memberikan yang banyak kepada mereka. Kita memberi, karena semua yang kita berikan berasal dari Tuhan. Dalam pemberian itu, tidak terjadi kekurangan melainkan melipatgandakan. Dan Tindakan memberi itu menyehatkan kita secara rohani. “We make a living by what we get, but we make a life by what we give.”- "Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan.” Wiston Churchill
Kebaktian Minggu
Minggu 17 Oktober 2021
Kristus Imam Besar keluargaku
Rumah adalah Ecclesia Domestika atau gereja keluarga. Di dalamnya setiap kita didik dan dibangun untuk memiliki jiwa pelayanan. Tetapi dalam perkembangannya, pelayanan yang berkembang dari rumah ke arah yang lebih luas lagi (gereja) seringkali disertai pemahaman lebih penting atau lebih utama. Di sinilah perkembangan motivasi pelayanan mulai muncul. Pelayanan dilihat sebagai suatu kedudukan yang penting dan utama. Lebih jauh lagi bergeser dari arah melayani berkembang kepada tuntutan mau dilayani. Yakobus dan Yohanes meminta kedudukan di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus dalam kemuliannya kelak. Para murid yang lain marak kepada mereka, bukan karena permintaan yang kurang pantas, melainkan karena mereka pun menginginkan hal yang sama. Tuhan Yesus menegaskan bahwa kedudukan di sebelah kiri dan kanan merupakan anugerah Ilahi yang diberikan kepada mereka yang pantas. Utamanya mereka yang meminum cawan dan menerima baptisan seperti diri-Nya. Yesus mengajarkan perihal pengorbanan dan penderitaan sebagai bagian dari pelayanan yang harus dilalui. Jadi jangan melihat pelayan sebagai kedudukan yang harus dikejar, melainkan kesediaan untuk melakukannya bagi banyak orang
Kebaktian Minggu
Minggu 10 Oktober 2021
Keluarga Hidup dalam Pemulihan
Keluarga itu paradoks, ada canda tawa sekaligus tangisan air mata. Saat ini merasakan kasih dan belaian, namun esok penuh kebencian dan pertengkaran. Itulah yang membuat setiap keluarga membutuhkan pemulihan. Pemulihan merupakan karya Agung Ilahi yang dikerjakan atas hidup manusia. Fokus dari pada Allah adalah pemulihan atas hidup manusia. Pemulihan dibutuhkan semua orang termasuk orang kaya. Orang kaya yang mengejar Yesus bertanya soal tentang hidup yang kekal. Pertanyaan ini menujukkan bahwa dirinya mengalami ketakutan, kebimbangan dan kekosongan sekaligus. Yesus menegaskan soal melakukan hukum Tuhan. Dan orang kaya itu pun telah melakukannya. Tetapi saat Yesus memintanya untuk menjual seluruh hartanya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin, di sanalah hatinya menjadi sedih dan meninggalkan Yesus. Orang kaya ini membutuhkan pemulihan dari hati yang diikat dengan ketidak pedulian. Lepaskanlah ikatan kita agar menjadi pulih.
Kebaktian Perjamuan Kudus Sedunia
Minggu 03 Oktober 2021
Keluarga yang dirahmati Tuhan
Keluarga dibangun atas dasar cinta, kasih sayang dan penerimaan. Di dalamnya semua anggota keluarga diperlakukan dengan cinta dan mendapat tempat. Kesatuan keluarga merupakan karya Agung Sang Ilahi untuk menyatukan manusia yang berbeda. Tetapi sayangnya dosa membuat manusia memiliki pikiran yang berbeda. Doa mendorong manusia untuk memikirkan keterpisahan sebagai “jalan yang baik” padahal itu merupakan hal yang Tuhan tidak kehendaki. Di sisi lain keluarga menjadi rapuh karena ketimpangan akan kuasa di tengah keluarga. Kuasa yang timpang membuat hati setiap anggota keluarga bisa terluka. Tuhan Yesus menegaskan rahmat Allah yang besar bagi setiap keluarga. Allah merancangan pernyatuan dan menghendaki itu terjadi sebagai wujud dari kasih Allah kepada manusia. Laki-laki dan perempuan, orangtua dan anak adalah bagian keluarga yang harus mewujudkan kesatuan Allah. Oleh sebab itu apa yang dipersatukan Allah tidak boleh di ceraikan manusia.
Kebaktian Minggu
Minggu 19 September 2021
Menyambut dan bukan disambut
Salah satu keinginan manusia adalah mau menjadi yang terbesar, terkemuka dan terpandang. Dengan demikian diri kita akan disambut dan diterima oleh orang lain. Pemahaman ini yang membuat banyak orang mengejar kedudukan dan kehormatan dalam hidupnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh para murid Yesus. Mereka berselisih paham bahkan bertengkar untuk menentukan siapa yang terbesar di antara yang lain. Ironisnya, mereka melakuannya setelah mendengar penderitaan dan kematian Sang Guru. Tuhan Yesus memberikan sudut pandang yang berbeda bagi mereka. Langkah pertama untuk menjadi terbesar dan disambut oleh orang lain adalah justru menjadi pribadi yang terkecil (no body). Dengan menghadirkan seorang anak, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa menjadi yang terbesar adalah dengan sedia menyambut dan menerima seorang anak kecil. Tidak ada sambutan dan nama besar tanpa ada pengorbanan dan kerelaa hati
Kebaktian Minggu
Minggu 12 September 2021
Apa Katamu tentang Aku?
Pengenalan yang baik adalah pengenalan yang dialami langsung, bukan yang bersifat asumsi atau dugaan semata. Pengenalan para murid Yesus diuji oleh pertanyaan, menurutmu Siapakah Aku ini?
Para murid hanya bisa menjawab dari apa yang dikatakan oleh orang lain tentang Tuhan. Engkau adalah Yohanes Pembaptis, atau nabi Elia atau salah seorang nabi. Pengenalan yang baik dari Petrus memberikan jawaban yang luar biasa. Engkau adalah Mesias. Inilah satu pengakuan iman yang luar biasa.
Sekalipun demikian, Petrus masih belum memahami konsekuensi dari pengakuannya itu. Dia menjadi kuatir Ketika Yesus menyampaikan bahwa Anak Manusia harus menderita dan mati. Petrus pun ditegur Tuhan, sebab ia tidak memahami Karya kasih Ilahi yang sesungguhnya. Saudara, siapakah Yesus bagi kita?
Bahkan siapakah kita bagi Yesus?
Kebaktian Minggu
Minggu 29 Agustus 2021
Hidup Beriman yang benar
Adat istiadat seringkali menghalangi kita untuk dekat dengan Tuhan. Ritual keagamaan seringkali dibangun oleh banyaknya aturan manusia, ketimbang perintah Tuhan. Ritual ditegakkan dan mereka yang melanggar dihakimi, dihukum bahkan dibedakan. Tuhan Yesus melihat inilah pemikiran yang eksklusif dan sempit dari orang Farisi yang menekankan aturan hukum. Tuhan mengajarkan kepada mereka untuk hidup beriman yang benar. Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan seseorang melainkan yang keluar dari mulut. Kita tentu akan selalu memasukkan yang baik kepada tubuh kita, tetapi dari luar tubuh kita seringkali mengeluarkan hal-hal yang rusak, menimbulkan penderitaan bahkan kemarahan bagi banyak orang. Kita patut membangun hidup yang benar dari perkataan yang membangun bukan kata kotor, makian dan sumpah serapah. Bangun iman dengan benar- dari rasa takut kepada Allah. Takutlah bilamana kehilangan relasi dengan Allah. Hidup orang beriman tidak dibangun dalam semangat eksklusifnya, melainkan selalu terbuka dan belajar dari kehidupan Bersama dengan Tuhan.
Kebaktian Minggu
Minggu 15 Agustus 2021
Makanan dan Minuman Sejati
Banyak orang memahami diet sebagai cara mengurangi makanan untuk menurunkan berat badan. Padahal diet sesungguhnya adalah cara hidup untuk membuat diri kita sehat. Iya banyak dari kita makan makanan secara sembrono, sehingga membuat badan kita menjadi sakit. Kristus menegaskan tentang makan daging dan minum darah-Nya, bukan dalam pemahaman makanan jasmani, melainkan satu pengajaran tentang makanan rohani untuk memperoleh hidup yang kekal. Kristus telah memberikan tubuh dan darah-Nya bagi penebusan hidup manusia. Oleh sebab itu dengan “makan tubuh dan minum darah Kristus’ kita semua diminta untuk menjadi sama dalam pengajaran dan pemikiran Kristus. Hidup tidak lagi asal memuaskan keinginan daging atau minum minuman yang memuaskan nafsu semata, melainkan hidup tertib dan teratur agar semakin sehat secara rohani dan jasmani serta beroleh hidup yang kekal.
Kebaktian Minggu
Minggu 8 Agustus 2021
Roti yang Menghidupkan
Setiap kita memiliki peluang di dalam hidup, namun sangat bergantung pada respon atasnya. Ada yang cepat menangkap, ada yang tidak butuh saat ini ada juga yang melupakan dan membiarkannya. Tuhan Yesus memberikan peluang hidup yang kekal bagi setiap kita, saat berkata, Akulah Roti Hidup. Barang siapa yang datang akan menjadi kenyang dan barangsiapa yang percaya tidak akan haus lagi. Kristus membuka satu kesempatan bagi semua orang untuk bisa beroleh hidup yang kekal. Tetapi orang banyak meragukan Dia. Mereka hanya percaya pada Manna sebagai roti sorga yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Belajar dari nenek moyang bangsa Israel di padang gurun, mereka makan roti sorga, namun tidak percaya, sehingga mereka pun mati binasa. Tetapi Roti yang sesungguhnya adalah Kristus yang memberikan hidup yang kekal.
Kebaktian Minggu
Minggu 1 Agustus 2021
Hati yang terarah kepada Roti Hidup
Salah fokus atau Salfok, sebuah akronim yang muncul di kalangan anak remaja dewasa ini, ketika seseorang teralihkan perhatiannya kepada hal yang tidak seharusnya diperhatikan. Salfok ini salah satu bentuk keadaan terdistrack yang dialami oleh manusia. Kita pun juga mengalami gangguan fokus hidup saat datangnya pandemik ini.
Banyak masalah, hambatan, sakit penyakit dan gangguan yang membuat hidup kita terhambat atau tidak tercapai. Salfok juga dialami oleh orang banyak yang sudah makan kenyang saat Tuhan Yesus mengubah 5 roti dan 2 ikan untuk makan 5000 orang. Mereka terus mencari Yesus dengan tujuan mau menjadikanya raja agar bisa makan kenyang.
Tuhan menegur dan meminta mereka untuk bekerja bagi makanan yang tidak binasa, melainkan dapat membawa kepada hidup yang kekal. Yesus sendiri mengatakan bahwa Akulah Roti hidup, barang siapa makan tidak akan lapar dan haus lagi.
Yesuslah jawaban dari kelaparan hidup kita akan banyak hal.
Kebaktian Minggu
Minggu 18 Juli 2021
Gembalaku, Sahabatku yang baik
Rasa lelah seringkali membuat kita tidak mau lagi memikirkan situasi di sekitar kita, apalagi orang lain. Fokus kita berkurang dan semangat kita meredup. Dalam kelelahan kita membutuhkan istirahat. Ini bukan keegoisan, melainkan kebutuhan hakikat hidup setiap orang. Tuhan pun memahami bahwa kita membutuhkan istirahat dan bersyukur bahwa Tuhan Yesus walaupun mengalami kelelahan, namun hati-Nya tetap tergerak untuk melayani orang banyak yang membutuhkan-Nya. Hati Tuhan tergerak oleh belas kasih melihat mereka yang mencari Dia. Tanpa banyak perhitungan dan pikiran panjang, Yesus bergerak seperti seorang Gembala yang menjaga kawanan domba. Spiritualitas gembala Nampak pada tanggung jawab dan kepeduliannya yang luar biasa. Tuhan memberi ruang bagi yang letih dan lelah, pada satu sisi dan di sisi lain memberi kesembuhan dan penguatan bagi mereka yang sakit dan membutuhkan.
Kebaktian Minggu
Minggu 11 Juli 2021
Pandai Mendengar dan Berkata-kata yang benar
Banyak orang yang suka berbicara, namun tidak mau mendengar. Padahal apa yang kita bicarakan salah satunya berasal dari apa yang kita dengar. Disinilah pentingnya memiliki kepandaian mendengar agar dapat berkata-kata dengan benar.
Herodes sangat suka mendengar pengajaran Yohanes Pembaptis. Hidupnya dibangun secara positif atas pengajaran orang suci tersebut, namun sayang, dirinya masih belum mampu berkata-kata dengan benar sebagai seorang penguasa. Dalam kesukacitaan dan kemabukannya, justru Herodes sesumbar untuk menghadiahkan apapun bagi puteri Herodias yang membuatnya mabuk dengan tari-tarian.
Alhasil dirinya tidak bisa mengelak Ketika yang diminta kepadanya adalah kepala dari Yohanes Pembaptis. Hati Herodes menjadi sangat sedih. Syndrom Herodes selalu ada pada diri kita. Dalam “kemabukan” oleh banyak hal kita berkata-kata dalam ketidak benaran, sehingga menimbulkan penderitaan dan kerugian.
Kebaktian Minggu
Minggu 4 Juli 2021
Siap untuk ditolak
Setiap orang mengalami penolakan di dalam hidupnya, namun tidak semua orang siap untuk mengalaminya. Ada yang berdampak negative – patah semangat, menyendiri, putus asa dan lain sebagainya. Padahal pengalaman ditolak dapat diubah menjadi pengalaman yang memberikan dorongan positif bagi hidup kita. Tuhan Yesus mengalami penolakan di kampung halamannya sendiri yaitu Nazareth. Mereka awalnya terkagum-kagum mendengar pengajaran dan pemberitaan Injil, tetapi kemudian menjengkali Yesus sebagai orang tukang kayu. Seolah apa yang mereka telah dengar tidak patut untuk dipercayai. Bagaimana sikap Yesus atas penolakan? Tuhan justru mengutus para murid-murid mengabarkan Injil Tuhan dan mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi penolakan. Penolakan bagi Yesus adalah jalan pembuka bagi Injil untuk di sebarkan. Dia tidak membenci orang yang menolaknya, namun justru mengasihi mereka dalam ketidak tahuan mereka. Terimalah Kristus dalam hidup kita jangan menolak-Nya sebab Dia mengasihi kita.
Kebaktian Minggu
Minggu 20 Juni 2021
Ia Bersamamu diburitan
Rasa takut dimiliki oleh semua orang. Itu hal yang manusiawi.
Apa yang membedakan rasa takut itu pada semua orang?
Jawabnya adalah respon kita masing-masing. Para murid yang notabene adalah kebanyakan nelayan itupun alami ketakutan saat naik perahu bersama Tuhan Yesus.
Saat badai taufan dan ombak menerjang, mereka berteriak-teriak dan membangunkan Yesus. Walaupun Yesus tertidur, namun dirinya memilih berada di buritan kapal itu. Di tempat yang paling kuat dan pusat pengendali kapal itu. Ironisnya, badai dan deru ombak yang menakutkan itu tidak dapat membangunkan Yesus.
Tuhan terbangun karena ada jiwa-jiwa penakut yang kehilangan pengharapan dalam hidupnya. Oleh sebab itu Tuhan bersabda, Diam dan Tenanglah.
Kata-kata ini bukan saja ditujukan untuk Ombak dan Taufan, melainkan pada hati mereka yang kurang percaya.
Jangan takut selama Yesus ada pada buritan kapan kehidupan kita.
Kebaktian Minggu
Minggu 13 Juni 2021
Tunduk dibawah Kedaulatan Allah
Manusia tidak memiliki kedaulatan penuh atas dirinya mau pun kehidupan lain di luar dirinya. Oleh sebab manusia adalah ciptaan Allah yang menerima kekuasaan serta kehendak bebas untuk kita pergunakan. Allah adalah pribadi yang berdaulat dan berkuasa penuh atas hidup kita. Di sinilah kita sepatutnya tunduk kepada Allah. Tidak ada satu pun yang terjadi bila tidak seijin diri-Nya.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita kedaulatan Allah melalui perumpamaan benih yang tumbuh. Allah mengerjakan pertumbuhan itu secara rahasia dan luar biasa. Dia mampu mengubah hal yang paling kecil sekalipun menjadi amat besar, melampau yang lain dan menjadi berkat. Demikian juga hidup manusia.
Tuhanlah yang menumbuhkan dan membuatnya berhasil.
Kebaktian Minggu
Minggu 6 Juni 2021
Kita adalah Saudara
Salah satu karakteristik yang dikenal dari bangsa kita adalah hidup di dalam persaudaraan.
Di dalamnya terkandung makna menjadi manusia yang mau hadir bagi orang lain. Persaudaraan lahiriah memang tidak bisa kita pilih, namun persaudaraan yang lebih luas lagi merupakan anugerah Allah.
Tuhan Yesus sedia menjadi Ssaudara bagi sesama yang berdosa, sakit dan tersingkirkan. Dia menyembuhkan dan mengajar mereka. Tetapi Tindakan yang baik ini, tidak selalu diterima baik oleh orang lain. Ada juga orang yang iri hati dan membenci Yesus, bahkan menuduhnya menggunakan kuasa jahat Beelzebul.
Tuduhan itu mencemaskan bagi keluarganya, sebab Yesus disebut sudah tidak waras lagi. Tetapi bagi Tuhan tuduhan itu hanya memecah belah pelayanan yang dilakukannya.
Tuhan Yesus tidak ambil pusing, bahkan mengajarkan kepada mereka bahwa Iblis saja tahu bilaman dirinya terpecah maka mereka akan gagal.
Tuhan Yesus menyatakan bahwa Saudara-Ku dan Ibu-Ku adalah setiap mereka yang melakukan kehendak Allah. Dengan demikian persaudaraan dalam Tuhan adalah Anugerah Allah. Marilah kita hidup dalam dalam ikatan Saudara dalam kebenaran.
Kebaktian Minggu Pentakosta
Minggu 23 Mei 2021
Berani Menyongsong Hidup
Titik nadir kehidupan mampu mengubah hidup manusia dalam dua kemungkinan, masuk dalam jurang putus asa, atau bangkit Kembali dan menjadi pemenang. Setiap kita yang tengah di titik nadir akan memandang kehidupan orang lain yang berhasil sebagai ketidak adilan. Tetapi kita bersyukur kepada Allah yang memberikan kepada kita Roh Kudus di hari Pentakosta, yang dapat mengubah kegundah gulanaan kita.
Roh Kudus adalah wujud janji Tuhan Yesus bagi kita yang dikasihi-Nya. Roh Kudus menjadi Roh penghibur yang mengubah rasa kegagagalan kita menjadi kekuatan, kerapuhan kita menjadi daya baru. Roh Kudus hadir sebagai Roh Kebenaran yang menginsafkan kita dari dosa. Roh kudus menolong kita untuk menyongsong kehidupan bukan dengan gentar melainkan keteguhan iman.
Kebaktian Minggu
Minggu 16 Mei 2021
Teguh atau Runtuh di Dunia yang Keruh
Hidup manusia adalah sebuah ujian kedewasaan. Kita diperhadapkan pada situasi yang tidak menentu, pada keruhnya persoalan dan jalan-jalan keluar yang sulit.
Tidak jarang berhadapan dengan fatamorgana, yang membuat kita tersesat.
Himpitan hidup dapat mengubah diri manusia. Tetapi kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus dalam doa-Nya mengingat, mendoakan dan menitipkan kita kepada Bapa di Sorga.
Tuhan Yesus tahu bahwa kita akan mengalami beratnya tekanan hidup yang mengubah diri kita. Oleh sebab itu, Tuhan meminta agar Bapa di sorga memelihara hidup kita.
Marilah kita menyatu dengan Allah dalam menghadapi beratnya kehidupan agar kita tidak runtuh. Tuhan siap sedia membantu kita.
Kesatuan adalah visi Allah dalam hidup manusia, bukan perpecahan atau kehancuran.
Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus Ke Sorga,
Kamis 13 Mei 2021
Tak terbatas ruang dan waktu
Perpisahan Yesus Kristus dan para murid pada peristiwa kenaikan justru berakhir sukacita, karena para murid diyakinkan mereka akan terus bersama dengan Yesus di dalam kehadiran Roh Kudus. Kebersamaan Yesus dan para murid khususnya selama sebelum kenaikanNya, menyebabkan transformasi iman yang luar biasa bagi para murid.
Peristiwa kenaikan Kristus ke surga adalah puncak dari sejarah keselamatan.
Yesus telah menyempurnakan karyaNya di dunia. Sekarang giliran saya dan saudara untuk meneruskan misiNya.
Pandemi ini sesungguhnya mengajarkan kita bahwa ibadah kita tidak terbatas ruang dan waktu. Bagaimana kita hidup, itulah yang menunjukkan Yesus pada orang lain.
Karena Injil adalah tentang membebaskan manusia dari segala bentuk ketertindasan dan khotbah terbesar adalah tentang sukacita dari wajah kita serta getaran kasih yang diterima orang lain dari kita.
Amin.
Kebaktian Minggu
Minggu 9 Mei 2021
Dipersatukan dalam Iman dan kasih
Melakukan pekerjaan, belajar dan pelayanan dengan setengah hati hanya akan mendapatkan hasil yang kurang maksimal. Sebaliknya, mereka yang melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati akan menerima hasil yang luar biasa dan sukacita yang penuh. Tuhan selalu bertindak dengan sepenuh hati bagi setiap kita. Dia melayani, mengasihi, menderita bahkan mati dan dibangkitkan. Semua dilakukannya dengan sepenuh hati oleh karena kasih. Itulah sebabnya Yesus memberi perintah baru kepada kita, yaitu supaya kita saling mengasihi. Dan meminta kita pun untuk tinggal di dalam kasih-Nya. Di dalam iman dan kasih Kristus semua kita dipersatukan. Kasih-Nya telah membuat kita semua menjadi manusia baru dan membuka kehidupan baru bagi setiap kita.
Kebaktian Minggu
Minggu 2 Mei 2021
Bersama Yesus: Berbuah Kemenangan dan Keberanian Bersaksi
Hidup manusia bergantung pada relasi yang dibangunnya. Bukan saja kepada sesama manusia, melainkan juga kepada Tuhan. Tetap sayangnya banyak yang mengganggu relasi kita dengan Tuhan, sehingga kita kehilangan kontak. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tinggal di dalam Dia, sebab “Akulah pokok anggur yang benar”. Kita bagaikan ranting yang menjadi bagian dari pohon anggur Tuhan. Kita beroleh segala sesuatu di dalam hidup kita dari Allah itu sendiri dengan tujuan agar kita pun menghasilkan buah-buah. Setiap kita yang tidak berbuah akan dipotongnya, sebab hanya menerima berkat semata, tanpa menjadi berkat bagi orang lain. Penting bagi kita untuk tinggal di dalam Tuhan, sebab kita tidak bisa hidup di luar Dia. Ada banyak ancaman kematian di luar Tuhan. Oleh sebab itu Kristus memberikan kepada kita keselamatan di dalam Dia. Marilah kita bersaksi agar setiap orang sedia hidup dan berbersaksi bagi Tuhan.
Kebaktian Minggu
Minggu 18 April 2021
Pertobatan dan Pengampunan Bukan Cuma Wacana
Hakekat manusia pada dasarnya adalah berpikir. Namun sayang, banyak orang yang jatuh pada pola pikir yang rumit sebab terjebak pada skenario berpikir apa dan bagaimana.
Pola pikir rumit membangun mental block pada diri seseorang sehingga menimbulkan banyak masalah. Salah satu masalah terbesar saat dikaitkan dengan pergumulan iman yang adikodrati. Iman menjadi goyah dan penuh dengan kebimbangan.
Tuhan adalah pribadi yang sederhana dan simple. Dia membuktikan Kebangkitan-Nya dengan cara-cara yang mudah untuk kita terima. Tuhan tidak mau terjebak dalam pikiran rumit manusia. Oleh sebab itu Tuhan menampakkan diri kepada para murid berulang kali. Dia menyapa dan memberkati mereka, bahkan Tuhan pun menunjukkan bukti kemanusiaannya dalam kebangkitan, yaitu meminta ikan goreng untuk dimakannya.
Iman kepada Kristus adalah iman yang sederhana, bukan iman yang rumit.
Keselamatan Allah ditunjukkan secara sederhana agar dapat ditangkap oleh pikiran manusia. Kebangkitan-Nya memberikan pengampunan dosa bagi dunia.
Oleh sebab itu pertobatan menjadi Langkah awal bagi pengampunan dosa.
Kebaktian Minggu
Minggu 11 April 2021
Penerima Damai Sejahtera
Perasaan sepi dan kesendirian merupakan pengalaman kehidupan kita. Tetapi situasi ini berbahaya dalam iman, sebab merupakan gambaran orang yang kehilangan damai sejahtera. Inilah yang dirasakan oleh Tomas, saat dirinya sendiri yang belum berjumpa dengan Tuhan Yesus, sedangkan murid yang lain bercerita tentang kebangkitan-Nya. Sebelum aku mencucukan jariku aku sekali-kali tidak akan percaya. Tuhan pun datang untuk menampakkan diri kepada Tomas, sebab Tuhan hendak meneguhkan keragu-raguan dan kebimbangan mereka tentang Tuhan. Damai sejahtera merupakan fokus daripada kebangkitan Kristus. Itulah jawaban dari kegelisahan hidup manusia. Damai Sejahtera memulihkan kehidupan kita dan relasi dengan orang lain. Oleh sebab percaya kepada Allah tidak akan membuat kita mengalami kesendirian dan kesepian.
Kebaktian Paska
Minggu, 4 April 2021
Menjadi Manusia Paska
Setiap orang pasti pernah lupa, namun bagi orang yang mengalami amnesia terkadang lupa untuk menyadari bahwa dirinya sedang lupa. Hal ini tentu menjadi bahayanya. Peristiwa Paska berkaitan dengan pengalaman para murid Yesus yang lupa akan perkataan Sang Guru, bahwa Ia akan menderita, mati dan pada hari ketiga akan bangkit dari antara orang mati.
Hal ini yang membuat mereka menjadi panik, dan terperangkap dalam kesedihan, kegalauan dan keputusasaan. Maria yang datang kekubur Yesus hanya bisa panik yang memberitakan mayat Yesus di curi. Begitu juga para murid yang lain berusaha menyelidikinya.
Tuhan tahu apa yang mereka alami, sehingga Yesus menampakkan diri sebagai bukti kebangkitan-Nya. Tuhan menyapa Maria, sehingga ia menjadi percaya dan mengalami perubahan.
Dari perasaan sangsi menjadi percaya. Aku telah melihat Tuhan. Paska adalah perubahan – dari kesedihan menjadi kesukacitaan, karena kematian telah dikalahkan Tuhan.
Mari bersiaplah untuk menjadi manusia Paska.
Kebaktian Jumat Agung
Minggu, 2 April 2021
Mungkinkah Allah telah kalah?
Pengalaman “sudah jatuh tertimpa tangga pula” merupakan bagian dari kehidupan manusia. Pergumulan yang datang bertubi-tubi diterima sebagai “kesialan” sehingga harus dilakukan ritual penolak bala. Hati kita pun bertanya, kenapa Tuhan tidak bertindak dan seolah membiarkan kita? Perasaan yang sama dialami oleh semua orang di tengah Pandemic ini. Ketika sejumlah besar keluarga kita harus menjalani isolasi, diantaranya ada yang meninggal, kita kehilangan pekerjaan bahkan mengalami kebanjiran. Semua seolah menjadi “alasan yang sah” untuk tidak lagi mempercayai Tuhan. Benarkah demikian? Jauh sebelum kita mengalami penderitaan, Tuhan Yesus telah lebih dahulu masuk, menghadapi dan mengalami penderitaan itu seorang diri. Dirinya berhadapan dengan sejumlah orang atau seluruh dunia yang mempermalukan dan mempermaikan diri-Nya. Tetapi penderitaan dan kematian adalah pilihan-Nya sendiri untuk dapat menyelamatkan manusia yang berdosa. Allah tidak pernah dikalahkan oleh apapun juga, sebab Dia memilih kasih. Walau Nampak ‘lemah” tetapi justru Kasih Allah yang membalikkan keadaan menjadi kemenangan Sorgawi. Tuhan mengalahkan kekerasan, pengkhianatan dan persekongkolan yang dilakukan oleh manusia.
Kebaktian Kamis Putih
Minggu, 1 April 2021
Kerendahan Hati Kemuliaan Kasih
Permintaan terakhir seseorang yang akan mengakhiri hidupnya dalam hukuman mati, bisa jadi istimewa. Mulai dari makanan yang mahal, atau jarang dijumpainya hingga benda-benda aneh lainnya. Semuanya itu tentu berfokus pada kesenangan diri sendiri. Hal berbeda dilakukan oleh Yesus, menghadapi kematian justru dirinya menunjukkan Tindakan kasih yang begitu besar, yaitu membasuh kaki murid-murid-Nya. Tindakannya di tengah ancaman pengkhianatan, penyangkalan dan hati para murid yang pengecut. Tindakan simbolis tersebut merupakan wujud kerendahan hati Allah sebagai manusia, yang juga sedia menjadi hamba yang menjamah bagian terkotor dalam hidup kita. Inilah wujud kasih kemuliaan Allah yang menyelamatkan manusia.
Kebaktian Pra Paska 5
Minggu 21 Maret 2021
Kasih melampaui Penghukuman
Penghukuman seringkali telah kehilangan tujuannya, ketika hasilnya mengancam jiwa atau menimbulkan kecacatan pada mereka yang terhukum. Penghukuman dalam dunia Pendidikan dilakukan untuk mengarahkan nara didik agar mencapai proses Pendidikan. Hukuman bukanlah tujuan, melainkan proses. Penghukuman dari Tuhan seringkali membuat kita percaya bahwa Tuhan itu kejam, padahal hukuman Tuhan bertujuan meluruskan jalan hidup orang percaya yang bengkok. Di dalam penghukuman ada kasih Allah yang sejati. Kasih Allah yang melebihi penghukuman yang dilakukan. Tujuan Allah bukanlah kematian karena hukuman, melainkan keselamatan di dalam kasih karunia yang Dia berikan. Aku Tuhan menghendaki kematian orang fasik melainkan pertobatan mereka dari dosa mereka (Yeh 33:11). Tuhan Yesus memberitahukan penderitaan dan kematiannya agar kita semakin menghargai akan pengorbanan kasih-Nya bagi umat Manusia.
Kebaktian Pra Paska 4
Minggu 14 Maret 2021
Kasih Allah yang menghidupkan
Hidup manusia seringkali bisa disamakan dengan boneka tali atau mobil remote kontrol. Tindakan kita menjadi salah sebab dikendalikan oleh dosa. Dosa mengakibatkan kelumpuhan dan kematian. Dosa membawa dampak kekacauan dan kehancuran dimana-mana. Manusia tak berdaya melawan kekuatan dosa ini. Hanya oleh anugerah kasih Allahlah manusia bisa diselamatkan. Anugerah kasih Allah memiliki kekuatan yang ajaib, menyelamatkan, menyembuhkan, mengubahkan dan menghidupkan. Sayangnya banyak orang kurang merasakan anugerah kasih Allah di dalam hidupnya. Kasih Allah yang bergitu besar memberi perhatian kepada dunia. Manusialah yang dituju oleh kasih Allah tersebut. Oleh sebab Tuhan membenci dosa, namun mengasihi manusia yang berdosa. Kasih TUhan memberikan ruang hidup bagi manusia, kesempatan baru.
Kebaktian Pra Paska 3
Minggu 7 Maret 2021
Cintaku Pada Rumah-Mu
Cinta buta membuat kita tidak mampu untuk merasakan dan melihat secara normal atau realistis. Cinta seperti ini tidak jaang kita jumpai dalam diri para muda-mudi atau pun pada relasi orangtua dan anak. Kesalahan tidak dilihat sebagai kekurangan, sedangkan kebenaran dipandang hal yang mengada-ada. Cinta buta juga terjadi dalam hal rohani. Cinta kita kepada Tuhan bisa menjadi cinta buta. Orang dapat mengemas atau mengklaim cintanya kepada Tuhan begitu besar, tetapi sesungguhnya apa yang dilakukan hanyalah untuk hidupnya sendiri. Tuhan Yesus membongkar cinta buta di pelataran Bait Allah dengan mengusir pegangan hewan dan membalikkan meja-meja penukar uang yang ada di sana. Tindakan-Nya mengajarkan kita untuk mencintai Tuhan dengan ketulusan. Ukuran cinta pada Tuhan bukan pada hewan korban atau persembahan yang diberikan, melainkan pada hati yang rindu datang kepada Tuhan dan menyesali perbuatan dosa. Oleh sebab Cinta Tuhan kepada kita adalah cinta yang melihat, berpihak, peduli, bergerak, dan menyelamatkan.
Kebaktian Pra Paska I
Minggu 21 Februari 2021
Berpengharapan dalam Perjanjian Allah
Menepati janji rupanya menjadi PR bagi banyak orang; lebih sulit daripada menjanjikannya. Banyak orang menjadi kecewa karena janji yang telah dikatakan oleh sesamanya, namun tidak dapat diwujudkan.. Tetapi hal itu tidak terjadi pada Tuhan. Janji Tuhan Ya dan Amin. Dia berjanji menyelamatkan hidup manusia yang berdosa. Itulah sebabnya, Yesus mengalami tiga peristiwa yaitu Pembaptisan dan pengakuan sebagai Sang Mesias, Pencobaan di padang guru dan Pelayanan bagi semua orang. Sang Mesias yang dijanjikan telah datang dalam diri Tuhan Yesus, namun manusia tidak memahami-Nya. Itu sebabnya banyak orang meragukan pertolongan Tuhan di tengah kehidupan yang sulit sekarang ini. Padahal saat Tuhan berjanji dan Dia setia untuk menepatinya. Masa raya Paska mengajak kita membuka hati melihat bagaimana Tuhan mewujujudkan janji-Nya di dalam hidup manusia.
Kebaktian Rabu Abu
Rabu, 17 Februari 2021
Koyakkan Hatimu
Sebuah peribahasa berbunyi “Nasi sudah menjadi bubur” menggambarkan tentang keberdosaan kita pada saat ini. Penyesalan yang tiada akhir. Tidak ada yang dapat diubah selain menanggung apa yang sudah terjadi.
Tuhan datang untuk mengubah kehidupan manusia melalui pertobatan. Satu Tindakan penyesalan, yang sering dilakukan melalui ratap tangis, dan mengoyakkan pakaian. Banyak budaya yang menggambarkan pertobatan. Sayangnya pertobatan seringkali hanya menjadi ajang pamer semata; melalui puasa, pemberian persembahan hingga berdoa atau Tindakan rohani lainnya. Tuhan menghendaki pengoyakan hati manusia. Bukan secara fisik melainkan penyesalan yang sungguh dan sepenuh hati. Pertobatan sejati yang mengoyakkan hati merupakan kehendak Allah di dalam hidup kita.
Saudara sudah bertobat? Mari kita bertobat dengan penuh penyesalan.
Kebaktian Minggu
Minggu, 14 Februari 2021
Transfigurasi: Antara Penderitaan & Kemuliaan
Pergumulan, kesulitan dan tantangan membangun kehidupan seseorang. Bagi para pembelajar, tentu akan membawa kepada keberhasilan, kesuksesan dan kemuliaan. Tetapi sebaliknya, bagi mereka yang suka mengeluh akan terus mengalami kegagalan. Oleh sebab kesuksesan hidup tidak dapat diraih hanya semalam. Yesus melarang para murid yang terkagum-kagum menyaksikan kemuliaan-Nya di atas gunung. Perubahan rupa yang berkilau-kilauan disertai penampakan Musa dan Nabi Elia yang berbicara dengan-Nya. Yesus mengalami transfigurasi. Dia sungguh Anak Allah, Sang Mesias yang datang ke dalam dunia. Para murid begitu terpesona dan hendak mengabadikan moment tersebut dalam bentuk membangun kemah. Yesus menolaknya, sebab mereka belum mengerti bahwa Anak Manusia harus menanggung penderitaan yang besar, terlebih dahulu. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Itulah pola hidup dan pelayanan Kristus.
Kebaktian Perjamuan Kudus Awal Tahun 2021
Minggu, 7 Februari 2021
Beritakanlah Kabar Baik
Sebuah kabar baik pastilah memberikan sukacita dan selalu di nantikan setiap orang di masa pandemik ini. Dunia tidak selalu menghadirkan kabar baik, justru sebaliknya kita banyak mendengar tentang kabar musibah, kesakitan, bencana alam, penderitaan dan lain sebagainya. Semuanya itu menambah beban kehidupan dan pergumulan umat manusia.
Tetapi karya Kristus hadir untuk memberitakan Kabar Baik.
Kabar keselamatan pertama-tama melalui pengajaran Tuhan agar setiap orang bertobat dan percaya kepada Allah. Kabar baik sebagai kabar keselamatan diwujudkan Yesus melalui kesembuhan kepada banyak orang. Orang-orang yang sakit di jamah-Nya, dipulihkan-Nya dan disembuhkan-Nya. Orang yang kerasukan setan di bebaskan dari roh jahat yang membelenggunya.
Mereka yang tidak punya daya diberikan-Nya tenaga dan sukacita yang baru. Dan semua orang yang menerima Kabar baik itu melanjutkan pemberitaan kabar baik itu kepada orang banyak lainnya. Yesus menyembuhkan Ibu Mertua Simon Petrus dan juga orang banyak yang datang berbondong-bondong ke rumahnya, bahkan keesokan harinya Tuhan pergi mengajar dan menyembuhkan banyak orang lainnya di kota-kota lain.
Kebaktian Minggu
Minggu, 31 Januari 2021
Takjub pada Kuasa Allah
Salah satu yang mempengaruhi kehidupan manusia yang sadar untuk melakukan ketidak sadarannya adalah masuknya roh jahat dalam diri kita.
Pergumulan seperti ini merupakan hal yang berat, sebab roh jahat akan membawa manusia melakukan tindakan-tindakan yang buruk, tidak sesuai nilai bahkan merusak dirinya sendiri. Tuhan Yesus yang mengajar di Kapernaum mendapat sambutan luar biasa dari orang banyak.
Mereka takjub mendengar pengajaran Yesus yang berkuasa. Mereka bertambah takjub ketika Yesus bertindak mengusir roh jahat yang masuk dalam diri seseorang, yang ada dalam rumah ibadah itu. Roh jahat itu mengenali Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Pengakuan ini sekaligus menunjukkan bahwa roh jahat itu takut dan tidak dapat membantah apa yang dikatakan Yesus kepadanya.
Kuasa Allah pada Yesus menyuruh roh jahat itu keluar dari tubuh manusia yang telah dibuatnya menderita, dan roh itu pun tunduk kepada-Nya. Orang banyak semakin takjub atas pada Yesus yang memiliki Kuasa Ilahi. Mereka menbicarakan semuanya itu hingga ke seluruh wilayah Galilea.
Kebaktian Minggu
Minggu, 24 Januari 2021
Menyembah Tuhan dalam Roh Kebenaran
Ibadah merupakan sarana perjumpaan antara Tuhan dan umat-Nya, yang diprakarsai oleh Allah itu sendiri. Kita menjalani ibadah dalam suatu dramaturgi yang di mulai dari pernyataan Allah dan diakhiri oleh respon manusia.
Praktek ibadah kita berbeda di masa pandemi ini, apakah yang Saudara rasakan?
Tuhan Yesus mengajak kita melakukan pembaharuan penyembahan yaitu menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran. Kritik Tuhan Yesus dilakukan pada praktek menguatnya peribadahan ritual dan hal lahiriah lainnya. Hal ini berulang kali mendukakan Tuhan. Oleh sebab itu penyembahan dalam Roh dan Kebenaran mengajak kita untuk fokus pada kesiapan hati.
Penyembahan dalam Roh, ditekankan sebab kita telah menjadi anak-anak Allah.
Roh Allah membawa kita kepada kebenaran Ilahi. Kesediaan menyembah dalam Roh dan Kebenaran berarti kesungguhan hati untuk berjumpa dengan Allah dalam ibadah kita.
Mari persiapkan diri mengikuti ibadah online, sebab ibadah bukan perkara hadir semata, melainkan cara Allah memelihara iman dan kehidupan kita.
Kebaktian Minggu
Minggu, 17 Januari 2021
Roh Kudus dan Baptisan
Kemampuan memperbaharui diri sendiri paling sering ditemukan pada diri binatang; contohnya ular, rusa dan cacing pita. Keinginan ini pun sangat besar pada diri manusia, utamanya atas memperbaiki diri dari kesalahan dan kekeliruan di masa lampau.
Seruan pertobatan Yohanes Pembaptis dan memberi diri di Baptis menjadi viral pada masa itu. Banyak orang membutuhkan pengampunan dosa-dosa, sehingga memberi diri dibaptis di sungai Yordan. Praktek baptisan dengan air sesungguhnya bukan yang pertama di Israel. Baptisan proselit sudah lama di kenal.
Tetapi baptisan Yohanes menjadi sangat terkenal, karena mengajak umat untuk mengakui kesalahan, memohon pengampuan dan perubahan kehidupan.
Tuhan Yesus turut mengambil bagian dalam baptisan itu. Kesediaan-Nya terkait erat dengan pemenuhan nubuatan para nabi atas dirinya. Tetapi baptisan yang Tuhan Yesus terima tidak merujuk pada diri-Nya yang berdosa.
Sebaliknya wujud solidaritas, keteladanan dan penyataan Ilahi atas kehadiran-Nya.
Suara Allah pun menyambut-Nya sebagai anak yang dikasihi.
Kebaktian Minggu
Minggu, 10 Januari 2021
Banyak Tantangan, Teruslah Berkarya
Manusia ingin selalu tampil dan dikenal oleh orang banyak, oleh sebab itu segala cara ditempuh utamanya melalui karya. Berbeda halnya dengan cara Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada dunia.
Minggu Epifani merupakan minggu penyataan Allah menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Salah satunya adalah dalam kisah Orang Majus yang mencari Yesus. Dengan dituntun Bintang Besar, mereka datang dari Timur ke Yerusalem. Kehadiran mereka menggemparkan, baik bagi Herodes maupun Yerusalem. Herodes geram mendengarnya, dan dengan sikapnya yang licik hanya memberitahu sedikit saja informasi, sambil meminta agar dirinya diberitahu bilamana para Majus sudah menemukan-Nya.
Tuhan menolong dan memimpin para Majus hingga berjumpa dengan Sang Bayi Kudus.
Itu sebuah kesukacitaan. Usaha dan karya mereka tidak sia-sia sebab Tuhan menolong.
Mereka pun tidak mau Kembali pada Herodes, sebab Tuhan mengingatkan mereka.
Kebaktian Minggu
Minggu, 3 Januari 2021
Menjadi Anak Terang
Perayaan Hari Terang dirayakan oleh sejumlah agama dan kepercayaan. Hari Raya Dipavali/Diwali merupakan tradisi perayaan festival Cahaya. Tapi dalam perayaan itu siapakah yang dirayakan? Peringatan symbol kemenangan Terang atas kegelapan, kebaikan atas keburukan dan pengetahuan atau ketidaktahuan. Dalam Kekristenan, tidak ada perayaan Hari Terang. Oleh sebab Terang sesungguhnya telah datang dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Sang Firman yang telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Tuhan memanggil kita kepada Terang-Nya yang ajaib dan itulah gereja. Persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil dari dalam gelap kepada Terang Tuhan yang ajaib. Orang percaya memiliki status baru yaitu Anak Terang dengan tugas membagikan Terang Tuhan kepada banyak orang. Mari penuhi panggilan hidup kita menjadi Anak Terang. Dengan sedia diterangi oleh Firman Tuhan setiap saat dan menjauhi kejahatan dalam hidup kita
Kebaktian Tahun Baru
Jumat, 1 Januari 2021
Keseimbangan Hidup Kristen
Selamat tahun baru 2021!
Hari pertama mengarahkan pandangan ke jalan penuh harapan di dalam kasih Tuhan Allah. Pengalaman pergumulan selama setahun yang sudah berlalu di dalam pertolongan Allah memampukan kita memasuki tahun baru dengan terus menunjukkan keseimbangan hidup Kristen yang nampak dari setiap perilaku yang mencerminkan kedewasaan spiritual dalam kesadaran bahwa setiap manusia adalah pancaran ilahi dan sudah semestinya memancarkan kemuliaan Bapa di manapun berada, melakukan segala sesuatu dengan rela dan sukacita sampai masa kembali ke surga, menerima yang sudah tersedia.
Kebaktian Akhir Tahun
Kamis 31 Desember 2020
Menjadi Manusia Mulia.
Momen akhir tahun biasanya digunakan sebagai momen selebrasi atas keberhasilan dan meluapkan emosi. Tetapi di akhir tahun 2020 ini adalah momen yang tepat untuk melakukan Anamnesis (perenungan dan pengingat) atas cinta Kasih Allah yang besar di dalam kehidupan kita. Pandemic Covid-19 yang menimbulkan penderitaan, kesulitan dan dukacita telah memporak-porandakan ekonomi, aktivitas dan kehidupan semua manusia.
Tetapi tahun ini tidak hanya berisi penderitaan, melainkan justru dipenuhi dengan pertolongan, dan cinta kasih Allah yang sejati. Maria melakukan Anamnesis setelah melahirkan Kristus. Dia menyandingan antara janji-janji Ilahi dengan realitas yang dijumpainya.
Sungguh luarbiasa campur tangan Tuhan Allah atas diri Maria. Dirinya menjadi manusia mulia sebab percaya bahwa hidupnya dalam penyelenggaraan Ilahi. Maria tunduk pada rencana Allah dan bersukacita atas segala yang dilihatnya. Kita terpanggil menjadi manusia mulia dengan percaya atas penjagaan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Dan belajar merenungkan campur tangan Tuhan dalam hidup kita.
Kebaktian Hari Natal
Minggu 27 Desember 2020
Sukaria Menyambut Sang Penebus
Pengumuman Vaksin Covid-19 yang datang ke Indonesia memberikan kesukariaan bagi banyak orang. Terlebih lagi Ketika diumumkan bahwa vaksinasi diberikan secara gratis bagi seluruh masyarakat.
Apakah ini juga menjadi sukaria kita? Natal berkisah tentang kesukariaan di tengah penantian dan penderitaan umat. Sebagaimana Simeon dan Hana yang melihat bayi Yesus yang dibawa oleh Yusuf dan Maria untuk di sunatkan di Yerusalem.
Mereka bersukaria dan mengucap syukur.
Hati mereka memuji-muji Tuhan, sebab mereka telah menjadi saksi dan melihat janji keselamatan Tuhan telah datang.
Mesias yang akan membebaskan umat Tuhan telah hadir. Simeon dapat dengan lega undur dari kehidupan dan imannya diteguhkan oleh bukti kasih Allah. Sukaria Natal harus terus digemakan, utamanya rahmat Allah yang datang menjumpai Saudara dan Saya di tengah pandemi ini.
Kebaktian Hari Natal
Jumat 25 Desember 2020
Firman itu Menjadi Manusia
Merayakan Natal di tahun 2020 ini berbeda dibandingkan Natal di tahun-tahun sebelumnya. Sukacita Natal itu tetap ada, sebab tidak bergantung pada keadan dunia, melainkan anugerah Allah yang dinyatakan bagi hidup manusia.
Kisah Natal pada kitab Yohanes bukan peritiwa kelahiran, melainkan kedatangan.
Dia yang datang ke dalam dunia.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Bayi Yesus.
Firman itu telah menjadi manusia merupakan pernyataan bahwa janji atau perkataan Tuhan Allah telah digenapi.
Manusia tidak mampu membuka jalan keselamatan bagi dirinya sendiri.
Tetapi Tuhan merasakan apa yang kita butuhkan, alami dan rasakan di tengah masa pandemic ini. Walau ada polemik yang menerima dan menolak akan kedatangan Sang Firman, tetapi bagaimana kita saat ini.
Nikmatilah, syukurilah dan bersukacitalah atas kasih karunia Sang Ilahi yang menyelamatkan kita hingga pada saat ini.
Kebaktian Malam Natal
Kamis, 24 Desember 2020
Raja Damai Telah Lahir
Kelahiran Yesus mengajak dunia untuk menyebarkan kedamaian bagi setiap orang yang membutuhkan.
Damai sejahtera harus menyentuh hidup setiap orang yang ditemui agen pembawa damai.
Peringatan natal Yesus Kristus tidak sekedar selebrasi, melainkan ajakan akselerasi dengan kehendak Allah, bukan saja ritual melainkan spiritual.
Pemilik damai sejahtera adalah mereka yang hidup dan bertindak sesuai kebenaran Allah.
Kebaktian Minggu Advent 4
Minggu 20 Desember 2020
Penerus Takhta Daud
Identitas diri itu penting bagi semua orang. Bila identitas diri tidaklah jelas, maka bisa berdampak hilangnya arah kehidupan seseorang. Negara kita pun mengatur identitas diri pada setiap anak yang lahir, termasuk anak di luar nikah, agar ada kejelasan bagi kehidupan mereka. Maria seorang perawan mengalami pergumulan identitas diri, saat menerima kabar dari Malaikat Tuhan bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Terbayang oleh Maria pergumulan dan berat atas status tersebut.
Tetapi Allah memberikan penjelasan dan mendukung dirinya.
Pertama anak itu dikandung dari Roh Kudus, bukan hasil hubungan suami dan istri.
Kedua, Maria perempuan yang dikaruniai oleh Allah.
Dan ketiga Anak itu akan menjadi besar dan penerus dari tahkta Daud.
Dia akan membawa keselamatan bukan saja kepada bangsa Israel, melainkan juga kepada seluruh manusia. Walau dalam keterbatasannya Maria, tetap tunduk dan taat kepada rencana Tuhan, sebab ia memahami dirinya sebagai hamba.
Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu. Dengan kabar berita yang dibawa oleh malaikat Tuhan, maka Maria justru mendapat identitas baru dan dirinya harus membangun identitas tersebut.
Kebaktian Minggu Advent 3
Minggu 13 Desember 2020
Memberi kesaksian tentang sang terang
Hidup adalah untaian penantian, dari satu penantian ke penantian yang lain.
Minggu advent ke-3 ini merupakan minggu Gaudete (Sukacita), kita diajak bersukacita setelah menjalani penantian yang sudah panjang.
Penantian kita tidak berfokus pada diri sendiri melainkan pada Kristus itu sendiri.
Yohanes Pembaptis memperlihatkan bagaimana dirinya bersikap jujur, bahwa dirinya hanyalah suara yang berseru-seru di padang gurun.
Dia bukan Mesias, bukan Nabi Elia, bukan juga Nabi yang ditunggu umat Tuhan.
Dia adalah saksi bagi Mesias yang akan datang. Mesias yang akan datang itu menerangi hati manusia. Oleh sebab itu, mari kita berkisah tentang Terang Tuhan yang nyata mengubah hidup kita. Mari kita bersaksi bagi Sang Terang yang datang.
Kebaktian Minggu Advent 2
Minggu 6 Desember 2020
Persiapan Menyambut Kedatangan Tuhan
Semua orang mau selalu menjadi nomor satu. Tetapi tidak semua orang mau menjadi pioneer atau pembuka jalan. Mengapa demikian? Karena pembuka jalan itu sulit dan penuh dengan tantangan. Pembuka jalan harus sedia melakukan hal-hal yang orang lain belum lakukan. Yohanes diutus sebagai pembuka jalan bagi Sang Mesias yang dinantikan oleh umat Tuhan.
Dia hadir sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi Yesaya sebagai orang yang berseru-seru di padang gurun. Yohanes Pembaptis bertugas mempersiapkan diri kita bagi kedatangan Tuhan. Utamanya kehidupan manusia yang dipenuhi dengan dosa.
Persiapan yang harus kita lakukan adalah melalui pertobatan dari dosa-dosa kita.
Advent adalah masa persiapan menyambut kedatangan Tuhan.
Bukan dengan pernak pernik Natal dan semua pesta poranya, melainkan hati kita yang mau dikuduskan bagi Tuhan melalui pertobatan. Sebagaimana Yohanes Pembaptis membuka jalan, maka sediakah Saudara juga membuka jalan bagi kehidupan pribadi kita, keluarga kita dan persekutuan kita?
Kebaktian Minggu Advent 1
Minggu 29 November 2020
Berdoa dan Berjaga
Stress merupakan salah satu reaksi tubuh dalam menghadapi penderitaan, tekanan dan ancaman. Secara obyektif penderitaan akan mendorong pengharapan. Pada masa Pandemic ini, kita semua menderita dan mengharapkan sesuatu yang baik terjadi.
Minggu Advent merupakan masa penantian akan kedatangan Yesus kedua kali untuk menyatakan keselamatan oleh Sang Immanuel. Kita semua diminta untuk berjaga dan berdoa. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk bijak melihat tanda-tanda zaman. Tidak perlu takut dan gentar sebab itu baru permulaan akan kedatangan Anak Manusia.
Kita diajak berjaga agar tidak menjadi lemah. Berjaga dalam doa; bukan saja untuk diri kita sendiri melainkan untuk orang lain juga. Dan pada akhirnya kita harus juga mengajak dan memberitahukan kepada orang lainnya.
Kebaktian Kristus Raja
Minggu 22 November 2020
Raja yang menggembalakan
Hidup adalah sebuah pemberian yang istimewa dari Tuhan, namun sekaligus harus dipertanggung jawabkan. Tuhan meminta pertanggung jawaban dengan cara yang berbeda; bukan dengan ukuran kuantitas dan kualitas. Ukuran Tuhan unik, sebab yang dilihatnya adalah kesediaan hati kita untuk bertindak, dan kerelaan diri kita untuk berkorban. Bukan hasil, melainkan pengorbanan cinta. Tuhan Yesus sebagai Raja yang akan datang, akan menggembalakan umat manusia, memilih dan memilih siapa diantara kita yang telah bertindak menurut ukuran Allah. Utamanya, membantu orang yang miskin, lapar, terasing terpenjara dan lain sebagainya. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan utnuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Disinilah Tuhan mengajak kita untuk memiliki hati yang peduli, menunjukkan perbuatan dalam iman percaya kita. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 15 November 2020
Hamba yang Dipercaya
Kepercayaan itu mahal harganya, itulah sebabnya sulit untuk mencari orang yang dapat dipercaya. Pada diri orang yang dapat dipercaya, akan berlaku rendah hati, bekerja keras dan siap sedia untuk bertindak.
Tuhan Yesus mengisahkan tentang perumpamaan Talenta, sebagai pengajaran tentang kepercayaan yang diberikan. Hamba yang mampu menggandakan talenta mereka dari 5 menjadi 10 dan dari 2 menjadi 4, menerima sambutan dan penghargaan. Mereka dikatakan sebagai hamba yang setia. Tetapi bagi hamba yang punya 1 talenta dan tidak melakukan apapun dengan talenta itu, ditolak sebab kemalasan ada pada dirinya, hingga membuat sang tuan tidak dapat mempercayainya.
Jadilah pribadi yang dapat diandalkan oleh Tuhan dan sesama, dengan menggandakan talenta kehidupan kita yang adalah anugerah. Tidak semua donator orang kaya, utamanya punya hati untuk mencinta. Jadilah pribadi yang dapat dipercaya. Dalam perkataan dan Tindakan jadi bukti nyata.
Gereja yang Bijaksana dan Inisiatif
Orang yang tidak memiliki rencana adalah orang yang berencana gagal.
Oleh sebab tujuan tanpa perencanaan hanya merupakan angan-angan semata.
Perayaan HUT GKI Ampera ke-20 pada tahun ini merupakan satu titik kedewasaan dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan.
Dibutuhkan perencanaan ke depan bagaimana gereja Tuhan akan berjalan, sebagai tindakan yang bijaksana dan inisiatif. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang ke-5 gadis bodoh dan ke-5 gadis bijaksana. Semua gadis itu mengalami satu situasi yang sama, yaitu menantikan mempelai laki-laki. Semua telah membekali diri dengan pelita, tetapi sayang hanya 5 orang gadis itu yang bijaksana. Mereka berinisiatif mempersiapkan diri dengan membawa minyak cadangan pada buli-buli, sedangkan ke-5 gadis bodoh tidak. Padahal mereka mengalami kelemahan yang sama, yaitu tertidur saat penantian. Buah dari kebijaksanaan nampak, saat mempelai laki-laki datang. Ke-5 gadis bijaksana bisa menyambut dan diajak turut dalam perjamuan kawin. Tetapi ke-5 gadis bodoh mengalami pelita yang padam, hingga harus pergi mencari minyak di saat mempelai laki-laki tiba.
Orang yang bijaksana tidak membiarkan pelitanya, kehidupannya padam. Ini merupakan tantangan bagi Gereja untuk menjadi bijaksana dan berinisiatif.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 1 November 2020
Keluarga yang Berhasil di jalan Tuhan
Wisuda secara online yang dilakukan di rumah-rumah tidak mengurangi kebahagiaan setiap keluarga dalam menyaksikannya. Justru semua keluarga merasa terlibat dan menghargai keberhasilan salah seorang anggota keluarga mereka sebagai keberhasilan keluarga.
Pada dasarnya keberhasilan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan rancangan Allah yang dipersiapkan sejak keluarga itu Tuhan berkati. Kunci keberhasilan sesungguhnya adalah tunduk akan Tuhan, dengan sepenuh hati bukan dalam kepura-puraan.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada orang banyak agar mencontoh keberhasilan hidu para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka merupakan salah satu kelompok religious terbesar bangsa Yahudi, yang memiliki pemikiran yang terbuka, dan mampu menerjemahkan Hukum Taurat Musa dan kita para nabi-nabi ke dalam pola Pendidikan hidup beriman; yang diajarkan dari rumah-rumah hingga pada masa kita.
Keberhasilan mereka tentu sangat membanggakan, walau sayangnya, mereka lupa untuk melakukan apa yang mereka ajarkan tersebut. Keluarga yang berhasil tentu keluarga yang sedia meneladani kebaikan-kebaikan lainnya.
“Sebuah palu memecahkan kaca, namun palu membentuk baja”
Bagaimana daya tahan diri dan keluarga kita selama 7 bulan masa pandemic Covid-19. Bilamana mentalitas keluarga kita seperti kaca, tentu alami kehancuran bukan?
Sebaliknya bila mentalitas seperti baja, maka kita semua tengah dibentuk menjadi baru di tengah masa pemurnian keluarga oleh Tuhan saat ini.
Proses pemurnian akan cinta dilakukan Tuhan di masa pandemik ini, sebab dunia kehilangan kuasa dan makna cinta di dalamnya. Orang Farisi dan ahli Taurat pun, alami kesulitan memahami maksud cinta kasih Allah. Ada banyak hukum dan perintah Tuhan, namun manakah yang utama?
Tuhan membawa mereka pada pengertian lebih dalam akan Cinta Allah. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Keduanya adalah inti dari seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi.
Adalah penting bagi kita melatih Cinta akan Allah dan sesama, sebab di dalamnya terkandung perasaan, pengenalan yang benar, tanggung jawab, perhatian dan saling menghormati. Ada 3 alasan mengapa cinta harus terus dilatih:
Pertama, Keluarga yang memiliki tujuan berbahagia.
Kedua, keluarga perlu mengenali jenis Bahasa cinta yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga.
Dan Ketiga, latihlah cinta dalam perwujudan di masa pandemic ini. Cinta bukan hanya teori yang dipelajari, melainkan dilakukan dalam realitasnya. Masa pandemic, semua orang membutuhkan cinta bagi hidup dan keluarganya. Amin
Minggu 18 Oktober 2020
Mengelola Kekuasaan dalam Keluarga
Kekuasaan dalam keluarga seringkali menjadi masalah dan sumber pertengkaran. Siapakah yang berkuasa di tengah keluarga? Suami atau istri? Kekuasaan dikatakan sebagai kemampuan mempengaruhi orang lain; di dalamnya ada dimensi wewenang dan dimensi pengaruh. Hal ini berbeda dengan konsep dalam Alkitab. Bicara keluarga kita bicara soal satu kesatuan. Ketika orang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus apakah boleh membayar pajak atau tidak? Yesus menegaskan pengajarannya tentang Hakekat hidup manusia. Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah. Yesus menegaskan perimbangan hak dan kewajiban. Demikian juga hakekat kekuasaan dalam keluarga. Allah membentuk manusia menjadi satu daging (satu kesatuan) yang utuh di dalam keluarga. Di dalamnya, suami dan istri dihadirkan bukan untuk saling bersaing, saling mengalahkan, melainkan saling bekerja sama. Kekuasaan diberikan oleh Allah, maka setiap kekuasaan merupakan wujud pembagian peran dan tanggung jawab satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, kekuasaan suami dan istri bukan untuk dibeda-bedakan apalagi dibandingkan.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 11 Oktober 2020
Keluarga yang Mendengarkan Tuhan
Mendengarkan bukanlah hal yang mudah bagi kita. Pesta kawin di Tegal menjadi viral sebab dilakukan oleh pejabat dan di tengah masa pandemik tanpa penerapan protokol Covid-19. Akhirnya sejumlah orang menjadi tersangka dan sejumlah pejabat harus dicopot. Tuhan Yesus pernah menggunakan pesta kawin sebagai salah satu perumpamaan. Raja mengadakan pesta kawin dan mengundang semua tamu terhormat, namun para undangan itu tidak mau mendengarkan dan tidak mau hadir, bahkan menganiaya dan membunuh suruhan sang raja. Sukacita raja itu di rusakkan dengan ketidak setiaan. Tetapi Raja tetap melaksanakan jamuan perkawinan dengan mengundang semua orang di perempatan jalan; mengundang orang baik dan orang Jahat. Dan semua yang datang mendengar undangan itu menjadi tamu istimewa. Tetapi di antara tamu yang datang, Sang Raja menemukan tamu tanpa menggunakan pakaian pesta. Orang itu tidak mempersiapkan diri, sehingga dia harus dihukum dan diusir.
Sebagai keluarga Kristen, kita turut diundang Tuhan dalam kesukacitaan-Nya. Tanggung jawab kita adalah mendengarkan dan memenuhi undangan itu. Sikap mendengar ditunjukkan dengan kesediaan mengikuti aturan. Itulah yang akan membuat kita menjadi orang yang terpilih.
Perjamuan Kudus Sedunia
Minggu 04 Oktober 2020
Keluarga Bagai Kebun Anggur
Rasa bosan tinggal di rumah semakin menguat di tengah masa pandemik.
Itu merupakan tanda bahaya bagi sebuah keluarga. Barbara Bush, mantan Ibu Negara Amerika pernah berujar, “keberhasilan kita sebagai masyarakat bukan bergantung pada apa yang terjadi di Gedung Putih, melainkan apa yang terjadi di rumah kita sendiri".
Keluarga kita adalah kebun anggur milik Tuhan, yang dipercayakan kepada kita sebagai penggarap-penggarapnya.
Tuhan telah membangun dan mempersiapkan segala sesuatu sejak awal keluarga kita. Kini sebagai pengarap kebun anggur Tuhan, kita semua bertanggung jawab untuk memelihara kebun anggur itu, menghasilkan buah yang manis dan memberikan hasilnya. Ketiga tanggung jawab itu penting sebab berarti setiap anggota keluarga dipanggil saling menjaga satu dengan yang lain, menghasilkan buah-buah yang manis sebagai wujud pemeliharaan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang lain.
Oleh sebab Tuhan akan meminta pertanggung jawaban dari kepercayaan yang diberikan kepada kita. Untuk itu kita membutuhkan seni untu merawat keluarga kita.
Kebaktian Minggu
Minggu 27 September 2020
Mentalitas Menyalahkan
Rasa bosan tinggal di rumah semakin menguat di tengah masa pandemik.
Itu merupakan tanda bahaya bagi sebuah keluarga. Barbara Bush, mantan Ibu Negara Amerika pernah berujar, “keberhasilan kita sebagai masyarakat bukan bergantung pada apa yang terjadi di Gedung Putih, melainkan apa yang terjadi di rumah kita sendiri. Keluarga kita adalah kebun anggur milik Tuhan, yang dipercayakan kepada kita sebagai penggarap-penggarapnya.
Tuhan telah membangun dan mempersiapkan segala sesuatu sejak awal keluarga kita.
Kini sebagai pengarap kebun anggur Tuhan, kita semua bertanggung jawab untuk memelihara kebun anggur itu, menghasilkan buah yang manis dan memberikan hasilnya. Ketiga tanggung jawab itu penting sebab berarti setiap anggota keluarga dipanggil saling menjaga satu dengan yang lain, menghasilkan buah-buah yang manis sebagai wujud pemeliharaan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang lain.
Oleh sebab Tuhan akan meminta pertanggung jawaban dari kepercayaan yang diberikan kepada kita. Untuk itu kita membutuhkan seni dalam merawat keluarga kita.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 20 September 2020
Bekerja untuk Tuhan dengan Sukacita
Upah adalah motivasi terbesar seseorang mau bekerja atau melakukan sesuatu.
Begitu juga Petrus yang bertanya kepada Yesus, “apakah upahnya mengikut Engkau?” Yesus menjawab pertanyaan itu dengan sebuah perumpamaan pekerja di kebun anggur. Pemilik kebun anggur memanggil pekerja pada jam 5 pagi dan sepakat memberi upah 1 dinar sehari. Kemudian, sang tuan memanggil pekerja lainnya pada jam 9, jam 12, jam 3 dan jam 6 Sore. Semua mendapatkan upah yang sama.
Tetapi, muncul rasa protes dari pekerja yang bekerja sejak pagi. Mereka bersungut-sungut dan merasa seharusnya mendapat upah yang lebih banyak. Mereka lupa, kalua diri mereka telah sepakat bekerja 1 dinar/hari. Pikiran seharusnya adalah pikiran jahat yang meracuni hidup mereka dengan rasa iri, dengki, dan kebencian kepada yang lain.
Perumpamaan ini tidak bicara soal upah, tetapi kebaikan Tuhan yang menghargai semua orang yang bekerja dengan harga yang layak, yaitu keselamatan. Allah sangat bermurah hati, hingga tidak pantas kita bersungut-sungut, apalagi akhirnya menjadi iri hati dan benci kepada orang lain.
Kita patut bersukacita saat bekerja untuk Tuhan, sebab kita bukan orang-orang upahan, melainkan Anak Allah yang telah mendapatkan upahnya.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 13 September 2020
Pengampunan Memulihkan Semua
Setiap hutang harus dibayar Kembali.
Semua orang yang berani berhutang wajib bertanggung jawab untuk mengembalikannya. Namun demikian ada sejumlah hutang yang sulit untuk dibayarkan kembali, yaitu hutang budi, hutang nyawa bahkan hutang dosa. Perumpamaan Tuhan Yesus menggambarkan tentang seorang yang berhutang kepada raja namun tidak mampu membayarkan hutangnya, saat ditagih. Kemudian Sang Raja tergerak hatinya untuk membebaskan orang itu dari hutangnya yang besar.
Sayangnya, selepas orang itu dari hutangnya, dia justru bertindak kejam dengan temannya yg berhutang kepada dirinya. Dia mencekik leher temannya dan memaksanya untuk membayar hutang hingga lunas. Tidak ada belas kasih dari hatinya atas ketidak mampuan temannya itu. Dia lupa bahwa dirinya telah menerima pengampunan dari Sang Raja. Perumpamaan ini adalah jawaban Tuhan bagi Petrus yang bertanya "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?.
Pengampunan adalah sebuah pilihan dari tindakan kasih, bukan berdasarkan hitungan semata, tetapi pilihan untuk sedia memulihkan semuanya.
Oleh sebab orang yang tidak mengampuni justru adalah orang yang berhutang kebaikan, atas pengampunan yang Tuhan telah berikan lebih dahulu.
Pengampunan memulihkan semua orang; meneguhkan iman, memadamkan amarah dan kebencian, serta memberikan kedamaian dalam hati kita.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 6 September 2020
Menjaga dengan Kasih
Kematian atas 100 orang tenaga medis karean Covid-19 adalah peristiwa yang menyedihkan. Mereka telah berupaya tanpa jarak menyembuhkan para pasien. Namun banyak orang yang justru tidak mau menjaga jarak hingga terhindar dari virus ini. Gereja adalah persekutuan yang dipanggil untuk saling menjaga.
Dengan mengingatkan, menegur dan mendoakan kita menjaga satu dengan yang lain. Teguran dilakukan dengan penuh kasih dan bertujuan untuk mendapatkan saudara yang berdosa itu kembali.
Dengan menegur, kita menjaga, bukan menghakimi apalagi membicarakan kesalahannya kepada orang banyak. Yesus mengajarkan agar teguran dilakukan secara bertahap, bukan bertingkat. Tanggung jawab baik secara pribadi hingga tanggung jawab sebagai persekutuan untuk mendapatkan dan memperjuangkannya kembali dari kesalahannya.
Di sinilah setiap teguran kasih sudah sepatutnya diterima dengan kasih juga. Oleh sebab mereka yang bersitegang leher dan mengabaikan teguran akan mengalami kesesatan. Mari saling menegur dengan kasih. Tuhan Yesus Memberkati
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 30 Agustus 2020
Memahami yang dipikirkan Allah
Dialog adalah salah satu cara untuk dapat memahami pikiran orang lain di dalam hidup kita. Tanpa dialog, kita barangkali hanya bisa menebak-nebak pikiran orang lain saja. Tidak jarang kita juga punya kendala saat memahami pikiran kita sendiri. Pikiran kita yang cepat berubah-ubah membuat kita pun mengalami banyak kebimbangan dan tidak fokus.
Petrus pun sulit memahami pikiran Kristus, utamanya saat Tuhan berbicara mengenai penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Kesulitan Petrus lebih disebabkan karena pikirannya tidak mengharap-kan hal yang demikian terjadi pada Sang Guru. Karena itu dia mencoba mencegah Tuhan.
Tetapi bagi Yesus, sikap dan Tindakan Petrus justru menjadi batu sandungan bagi Allah. Oleh sebab pikiran Allah adalah mereka-reka yang baik. Fokus pikiran Allah bagi manusia adalah ada keselamatan dan damai sejahtera.
Tuhan menegaskan 3 langkah untuk memahami pikiran Allah. Pertama, menyangkal diri. Menolak dan berkata tidak pada pikiran-pikiran kita yang lebih mendominasi di dalam hidup. Tidak semua dapat kita pikirkan rencanakan dan inginkan. Kedua, memikul salib. Kesediaan kita untuk memahami pikiran Allah harus dimulai sejak awal hingga akhir. Ketiga, mengikut Dia. Memahami pikiran Allah berarti mengikuti Langkah-langkah Tuhan dari belakang. Orang percaya pantang untuk mendahului Tuhan agar beroleh keselamatan.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 23 Agustus 2020
Gereja yang terus membaharui diri
Tradisi merayakan ulang tahun gereja telah mengalami perubahan drastis semenjak masa pandemik terjadi. Begitu juga dengan Gereja Kristen Indonesia yang merayakan HUT ke-32 pada tahun ini. GKI menggumuli dirinya siap mengalami perubahan di masa pandemik tahun 2020 ini. Gereja yang terus membaharui diri menunjukkan pertumbuhan dan syukurnya. Petrus adalah murid Tuhan Yesus yang menggambarkan dinamika gereja hingga saat ini. Satu sisi jadi berani, namun sekaligus takut; satu sisi dipenuhi dengan keyakinan, namun sekaligus juga alami keraguan; satu sisi memiliki rasa percaya teguh, di sisi lain mengalami penyangkalan. Menariknya, hanya Petrus yang tegas memberikan jawaban Ketika Tuhan bertanya, menurutmu siapakah Aku ini? Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pertanyaan yang sama diajukan Tuhan kepada gerejanya. Siapakah Aku ini? Gereja harus menemukan jawaban yang sesungguhnya dari pengalaman pelayanan dan pengakuan imannya. GKI perlu membaharui diri menjadi Masker di masa pandemik. Pelindung yang menolong dan menyelamatkan semua orang.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 16 Agustus 2020
Kasih Lintas Batas
Manusia yang hidup dalam konteks keragaman seringkali enggan melangkah keluar melintasi segala batas yang diciptakan oleh komunitasnya karena ketakutan yang sesungguhnya tidak memiliki alasan kuat dan jelas. Orang menyebutnya dengan istilah zona nyaman. Padahal istilah itu sesungguhnya menyiratkan ketakutan dan penjara yang menghambat kita menjadi makna bagi sesama. Yesus Kristus mengajak kita untuk menggenggam kemerdekaan sejati, kebebasan yang berdasarkan kesadaran penuh dalam keteguhan keyakinan bahwa kasih itu universal dan tak mampu dibendung batas apapun.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 9 Agustus 2020
Percayalah
Setiap manusia mengalami badai kehidupan, baik pada diri, keluarga maupun persekutuannya. Badai kehidupan bisa membuat hidup kita hancur porak-poranda, atau karam atau juga tetap selamat. Dan badai terbesar kita alami bersama di masa pandemic ini. Bukan saja meninggalkan korban, tetapi lebih berat lagi menghadirkan wajah-wajah ketakutan dan stress yang luar biasa. Kedua hal terakhir menimbulkan keruntuhan iman, kehilangan harapan dan hilangnya kepercayaan. Pengalaman ini yang dirasakan oleh para murid Yesus. Mereka sudah berlayar sejak pukul 9 malam hingga jam 3 pagi, namun perahu mereka dihadang badai luar biasa. Walau mereka berpengalaman, namun badai itu membuat mereka takut dan melumpuhkan nalar. Tuhan Yesus yang datang menolong mereka, disangka sebagai hantu. Mengapa Tuhan bisa hadir di tengah situasi para murid? Sebab Tuhan memperhatikan mereka dari atas puncak bukit saat diri-Nya berdoa. Tuhan tidak membiarkan mereka sendirian. Kehadiran-Nya membuat Petrus berusaha untuk bangkit Kembali. Ia memilih untuk beriman, walau iman itu beresiko. Percaya kepada Yesus itulah yang membuat dirinya mampu berjalan di atas air.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 2 Agustus 2020
Arahkan Hatimu Kepada Tuhan
Hati manusia seringkali tidak fokus karena dipengaruhi oleh berbagai situasi. Akibatnya banyak kegagalan, kekecewaan dan sakit hati yang muncul. Itulah pentingnya mengapa kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Tuhan. Ajakan mengarahkan hati berarti focus kepada satu tujuan utama. Dan Tuhan menjadi satu-satunya tempat yang utama bagi kita, sebab Dia tidak pernah berubah. Tuhan Yesus menunjukkan hal itu kepada para murid, di tengah dukacita yang dirasakan oleh kematian Yohanes Pembaptis, diri-Nya tetap tergerak oleh Kasih melihat orang banyak yang mengikuti-Nya. Dia meminta para murid untuk memberi mereka makan, dan bertanya apa yang ada pada diri mereka. Sikap Tuhan berbanding terbalik dengan sikap para murid yang terbeban/kuatir, merasa direpotkan dan lepas tangan saat melihat orang banyak. Apakah diri kita juga memiliki kecendruangan demikian saat melihat orang lain? Mari kita arahkan hati kepada Tuhan. Dia mengapresiasi ketakutan, namun sekaligus memberikan mukjijat bagi orang yang mengarahkan hati kepada-Nya.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 26 Juli 2020
Warga Kerajaan Allah
Manusia selalu menampikkan hal kecil yang dalam kehidupan harus dilakukan atau di mulai. Kita lebih tergiur padahal yang besar, megah dan spektakuler. Padahal dari hal yang sederhana ada kekuatan untuk menjadi besar. Yesus mengajak kita memperhatikan bagaimana Biji sesawi dan ragi pada roti yang bekerja. Demikianlah sesungguhnya warga kerajaan Allah mewujudkan dan memberlakukan kehendak Allah di dalam kehidupannya. Semua dimulai dari hal yang kecil. Kehidupan di dalam Tuhan menghargai segala yang dimiliki, sebab itulah pemberian Tuhan. Hal itu menjadi harta yang terpendam dalam diri manusia yang lebih berharga dari segala yang kita cari dan kejar di dunia ini. Oleh sebab pada akhirnya, Tuhan akan bertanya kepada kita, bagaimana kehidupan kita diberlakukan sebagai warga Kerajaan Allah. Marilah kita belajar memprioritaskan apa yang berharga di dalam hidup.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 19 Juli 2020
Lalang di Tengah Gandum
Manusia cenderung menginginkan segala sesuatu cepat selesai; dengan motto efektif dan efisien. Kemajuan science dan teknologi mendorong manusia mencari jawaban demikian; yang lambat dianggap menghambat sedangkan yang cepat dipandang hebat. Tetapi manusia terbentur pandemic, satu situasi yang membuat manusia harus stop atau memperlambat gerak hidupnya, untuk belajar sesuatu. Tuhan bukan pribadi yang suka buru-buru. Tuhan selalu memberi peluang dan kesempatan kepada manusia untuk berproses. Semua peristiwa berakhir pada Tuhan. Perumpamaan Lalang tumbuh di antara gandum menggambarkan kesabaran Tuhan. Lalang tumbuh dengan tujuan menghancurkan gandum yang baik. Tuhan mengijinkannya bertumbuh, bukan mendukung kejahatannya, melainkan melindungi gandum agar tidak tercabut dari kehidupannya. Tuhan tidak buru-buru, melainkan memberi kesempatan kepada kita untuk membuktikan diri apakah menghasilkan bulir yang berbuah (menjadi gandum) atau tidak menghasilkan apapun (Lalang semata-mata).
Kebaktian Minggu Biasa -
Minggu 12 Juli 2020 -
Bersiap Menabur -
Orang yang mencintai harus siap kecewa. Tapi bukan kekecewaan yang menjadi tujuan utama, melainkan kehidupan yang berbahagia. Sayangnya manusia selalu terbelenggu oleh sebab kegagalan dalam hidupnya; kita mengingat, bahkan mengukur orang dari kegagalan. Tuhan Yesus mengalami penolakan dan problematic dalam mengabarkan Injil Kerajaan Sorga; baik dari orang yang mengikutinya; hanya menginginkan kesembuhan semata, atau menyaksikan mukjizat hingga para kritis para pemuka agama dan ahli Taurat. Tetapi bagi Yesus, Cinta Tuhan itu fokus kepada hasil, bukan kegagalan. Perumpamaan Penabur menjadi jawaban dari Kristus, dengan simpulan utama, siapa bertelinga hendalah mendengar. Penabur menaburkan benih yang jatuh pada ke empat jenis tanah, yang menggambarkan tipe pendengar. Tipe pertama, orang yang tertutup, tipe kedua tipe pendengar yang pikirannya dangkal. Tipe ketiga pendengar yang kebanyakan minat dan tipe keempat pendengar yang baik (terbuka pikirannya, penyiapkan diri, sedia mengerti dan mempraktekkan). Seorang penabur adalah penting untuk tetap focus pada kerja yang menghasilkan. Tidak mudah patah semangat, putus asa atau kehilangan arah.
Kebaktian Minggu Perjamuan Kudus Tengah Tahun
Minggu 5 Juli 2020
Jangan Terus Menentang
Sikap menentang kita kenali pada diri anak-anak atau remaja. Sikap ini bisa menjadi salah satu jenis gangguan prilaku yang disebut Oppositional Defiant Disorder. Sikap tidak bisa kooperatif, suka menentang, marah-marah, uring-uringan dan bermusuhan terhadap figure otoritas. Sikap menentang adalah sikap kita kebanyakan yang dihasilkan dari kehendak bebas manusia yang berlumuran dengan dosa. Sikap inilah yang diterima Yesus dari orang Farisi dan ahli Taurat yang mendengar pengajaran-Nya. Sikap yang mencari alasan atas Kerajaan Allah yang diberitakan. Sikap menentang tidak akan menemukan kebenaran. Sesungguhnya penolakan pun tidak akan membuat Allah berhenti berkarya untuk mengasihi dan menyelamatkan manusia, walau manusia menentang karya Allah. Hikmat Allah dibuktikan dalam perbuatan yang benar dan berhasil. Itulah sebabnya, Allah membuka rahasia keselamatan kepada orang yang sederhana, bukan kepada yang pandai atau berhikmat saja. Kita pun diminta hidup berkenan kepada Allah. Tidak hanya berdiri sebagai penentang, tetapi juga memberikan solusi untuk membangun. Dan pada akhirnya kita diminta belajar kepada Allah. Sikap menentang adalah gambaran diri yang letih, lesu dan berbeban berat. Mari kita belajar agar menerima kelegaan dari Tuhan. Perjamuan Kudus tengah tahun ini adalah kelegaan yang Tuhan beri agar hidup kita tidak terus menentang kasih Allah.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 28 Juni 2020
Upah dalam Tuhan
Kesulitan ekonomi di masa pandemi mengakibatkan sejumlah pekerja mengalami kehilangan upah, karena di PHK, di rumahkan atau dipotong upahnya. Penghidupan mereka terancam. Upah yang tinggi tentu menjadi keinginan semua orang, itu sebabnya persoalan upah mengakibatkan demonstrasi banyak pekerja. Upah bukan saja berkaitan antara pekerja dan pengusaha, melainkan dalam hubungan spiritualitas. Kita mengkaitkan upah dalam bentuk kesuksesan, kekayaan, naik pangkat, hingga kalau meninggal akan masuk surga. Padahal upah berkaitan dengan iman percaya seseorang. Upah dalam Alkitab merupakan hasil pekerjaan dan perbuatan, tapi di sisi lain adalah anugrah Allah. Tidak ada penggambaran atau wujud yang pasti dari upah yang dikatakan Tuhan. Janganlah memandang siapa utusan Tuhan, melainkan fokuslah pada berita yang dibawa oleh utusan itu dari Sang Pengutus, yaitu Tuhan itu sendiri. Di sanalah upah kita akan diterima. Upah yang besar di sorga merupakan pengertian akan Allah yang memperhatikan hidup kita, termasuk dalam urusan yang kecil sekalipun. Oleh sebab itu tidak boleh menjadi beban dalam berbuat baik.
Kebaktian Minggu Biasa
Minggu 21 Juni 2020
Tetaplah Menyatakan Kebenaran Kristus
Fides Quaerens Intellectum (Iman itu mencari pengertian). Iman yang demikian hanya dapat diperoleh pada diri umat yang terbuka dan ingin belajar. Dalam percaya kita mengerti akan kebenaran Kristus yang menghidupkan, mencerahkan dan memerdekakan semua orang. Persoalannya adalah ketakutan terbesar manusia dalam mewujudkan kebenaran Kristus, padahal kebenaran Kristus itu sendiri yang akan melepaskan kita dari ikatan yang memenjarakan tubuh, iman dan pikiran kita. Tuhan Yesus melengkapi para murid dan diri kita untuk diutus menyatakan Injil Kebenaran Tuhan. Seperti domba ke tengah-tengah serigala. Gambaran pilihan hidupdalam menghadapi bahaya dengan percaya, menghadapi kelicikan dengan kecerdikan dan menjaga ketulusan di tengah kebusukan. Kita adalah murid Kristus, yang akan menghadapi tantangan yang sama, namun tidak lebih berat. Kristus adalah kebenaran yang sudah membuktikan kemenangan atas tantangan itu. Oleh sebab itu jangan pernah kita menjadi takut, karena Allah menguasai hidup kita. Marilah kita menyatakan kebenaran Tuhan dengan menjadi hidup lebih transparan di dalam Tuhan.
Kebaktian Minggu
Minggu 14 Juni 2020
Diutus menghadirkan tanda Kerajaan Allah
Pandemi Covid-19 menghadirkan bahaya gangguan mental berupa stress dalam diri setiap orang. Ada stress yang baik, ada juga stress yang buruk; yang keduanya bisa muncul dalam secara fisik, mental dan sosial. Kita pun bisa stress melihat kumpulan orang banyak pada saat ini. Tetapi berbeda dengan Tuhan Yesus, hatinya tergerak oleh belas kasihan saat melihat orang banyak. Oleh sebab itu Tuhan melakukan 3 hal kepada mereka. Pertama, mengajar mereka. Tuhan mengajarkan kasih sebagai tanda Kerajaan Allah bagi orang banyak untuk menjadi penuntun hidup. Kedua, Tuhan memberitakan Injil, yaitu kabar sukacita bagi orang banyak di tengah pergumulan dan kesulitan hidup. Dan ketiga, Tuhan menyembuhkan dan mengatasi kelemahan. Ketiganya dilakukan karena dua alasan yang kuat. Tuhan melihat orang banyak seperti domba yang tidak memiliki gembala. Mereka kehilangan tuntunan dan arahan hidup. Kedua begitu banyak orang yang membutuhkan dukungan, kelepasan dan pertolongan. Sebaliknya terlalu sedikit orang yang sedia memberi diri untuk melayani mereka. Tuhan mengajak kita memperjuangan hidup di tengah masa pandemic ini. Jangan biarkan orang lain mengalami kesulitan sendiri hingga mengalami stress. Mari kita saling membantu dan mendukung.
Kebaktian Trinitas
Minggu 7 Juni 2020
Terlibat Memulihkan Ciptaan
Demonstrasi dan kerusuhan terjadi di Amerika menentang rasisme yang menjadi persoalan hingga pada masa sekarang. Rasisme merupakan salah satu kerusakan ciptaan yang terjadi. Dunia membutuhkan situasi New Normal, sebab dunia sebelumnya adalah dunia abnormal. Kita mengalami Hiperealita. Hidup overdosis, yaitu hidup dalam pencitraan diri semata. Kehidupan palsu yang mendorong konsumerisme semata. Minggu Trinitas menegaskan akan karya Sang Bapa, Putera dan Roh Kudus yang menyatu. Karya Allah yang sungguh amat baik mengalami kerusakan luar biasa, hingga Yesus harus hadir untuk menyelamatkan dan Roh Kudus bekerja memulihkan ciptaan. Tuhan melibatkan kita melalui Amanat Agung-Nya. Kita dimintanya pergi memberikan teladan dan membawa lebih dalam orang lain kepada pengenalan karya Sang Bapa, Putera dan Roh Kudus. Pada akhirnya, kita semua diajak mengajar bagaimana memulihkan ciptaan dan kehidupan.
Kebaktian Pentakosta -
Minggu 31 Mei 2020 -
Menerima Aliran Hidup dari Roh -
New Normal dicanangkan oleh pemerintah. Apakah hal ini yang kita tunggu di tengah kehausan jiwa kita selama pandemic COVID-19? Untuk memenuhi kehausan jiwa dan dahaga hidup, Yesus menawarkan agar setiap orang datang kepada-Nya dan minum. Mereka yang percaya akan menerima aliran air yang hidup; Air yang dinamis, bekerja dan hidup setiap orang. Itulah Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan bagi setiap orang yang percaya. Kita dibawa oleh Roh Kudus datang kepada Yesus dan belajar dari pandemic COVID-19. Roh Kudus menuntun kita untuk taat, sabar dan disiplin agar siap dalam upaya membuka kembali (reopening) persekutuan dan mempertajam (reshaping) kehidupan kita sebagai gereja yang bekerja, bergerak dan membawa perubahan. Akhirnya kita harus mampu menjadi gereja yang menggambarkan aliran Roh Kudus bagi dunia. Gereja harus memberitakan kehidupan dan keselamatan, bukan menjadi pusat penyebaran Virus COVID-19 yang menakutkan apalagi menebarkan kematian.
Kebaktian Paska ke-7 -
Minggu 24 Mei 2020 -
Nafas Hidup -
Nafas bukanlah hal yang otomatis, melainkan sebuah proses yang terjadi secara luarbiasa. Orang yang kesulitan bernafas membutuhkan ventilator. Dalam kehidupan beriman, doa merupakan nafas hidup orang percaya. Doa tidak otomatis terjadi, melainkan ada proses antara kecintaan, keyakinan dan kerja. Sayangnya kita baru berdoa di saat-saat yang genting dan penuh pergumulan, sedangkan dalam situasi normal kita sering lupa “bernafas”. Tuhan Yesus berdoa di Getsemani bagi kita yang dicintai-Nya. Dia peduli kepada kita dan penuh tanggung jawab, atas keselamatan hidup kita. Tuhan meminta agar kita tidak terserai berai melainkan tetap dijaga dalam kesatuan. Berdoalah dalam kepedulian, lawan ketidakpedulian yang terjadi saat ini. Berdoalah bagi setiap hal yang kita percayakan dan berdoalah bagi kesatuan, kesehatian dan relasi kasih yang sempurna. Selamat bernafas.
Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus -
Minggu 21 Mei 2020 -
Kisah yang Belum Berakhir -
Kisah Allah mengasihi dunia ini tidak berakhir pada kisah kenaikan Yesus Kristus ke surga. Ada berita sukacita yang masih harus diteruskan oleh para murid dan semua orang yang percaya kepada Kristus, sebagai saksi yang memberlakukan kasih di manapun mereka diutus. Kasih dari surga sudah diperkenalkan oleh Kristus kepada dunia agar dunia bisa merasakan kediaman Allah di dunia. Panggilan untuk menjadi saksi adalah panggilan untuk mengambil bagian dalam rencana keselamatan Allah bagi dunia. Pilihannya ada pada setiap orang yang terpanggil untuk memberikan kesaksian kasih dari Kristus, karena di dalamnya setiap orang akan belajar untuk lebih menghayati apa yang Tuhan kehendaki untuk ia perbuat dalam hidupnya karena gereja sesungguhnya adalah yang senantiasa mau diubahkan untuk makin serupa dengan Kristus.
Kebaktian Paska VI -
Minggu 17 Mei 2020 -
Menyatakan Kasih -
Hidup manusia selalu berbicara soal kepatuhan sejak lahir hingga meninggal. Patuh pada aturan, hukum, perintah dan arahan. Tanpa kepatuhan, manusia berada dalam bahaya atau kesulitan yang besar. Berhadapan dengan COVID-19 bangsa kita menunjukkan ketidak kepatuhan dan ketidaktaatan. Kasih berbicara soal kepatuhan. Kasih Yesus dimulai dari kepatuhan-Nya pada Sang Bapa. Dia melangkah dalam kepatuhan walau menderita di kayu Salib untuk keselamatan hidup manusia. Dalam kepatuhanlah, kita menunjukkan kasih kepada Allah, sebagaimana Yesus katakan “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Artinya, Kasih itu bukan tindakan transaksional, bukan juga tanda terima kasih, sebab Kasih Allah tidak menuntut balas. Mari kita menyatakan kasih sebagai respon kita atas keselamatan Allah.
Kebaktian Paska V
Minggu 10 Mei 2020
Keberanian Menjalani Hidup
Banyak pihak membanding-bandingkan pemerintah kita dengan negara lain dalam menangani penyebaran COVID-19. Padahal tidak ada satu pun dari pemimpin dunia yang dapat yakin benar bahwa jalan yang mereka tempuh pasti adalah benar membawa keselamatan. Berbeda dengan mereka, Tuhan Yesus memberikan jalan yang pasti kepada kita semua untuk dijalani. Akulah Jalan dan kebenaran dan Hidup. Itulah yang membuat kita tidak patut menjadi gelisah. Jalan Tuhan itu adalah keberanian hidup mengikut Tuhan. Di dalam jalan Tuhan itu kita menemukan kebenaran. Kebenaran-kebenaran yang tidak dapat kita pungkiri saat ini. Kebenaran yang menunjukkan hidup yang lebih berarti. Tuhan mengajak kita untuk berani mengubah cara hidup kita dengan mengikuti jalan-Nya.
Kebaktian Minggu Paska IV -
Minggu 3 Mei 2020 -
Gembala Yang Baik -
Dalam masa-masa yang sulit, umat Tuhan seringkali lebih gampang dipengaruhi oleh berbagai hal yang membawa dampak negatif dalam hidupnya. Seakan umat lupa, mereka memiliki Yesus Kristus, Gembala yang Baik, yang tidak pernah meninggalkan kawanan dombaNya, menjaga mereka dari segala kecelakaan dan mengingatkan mereka untuk kembali ke dalam kawanan supaya tidak tersesat bahkan mengorbanan diriNya demi keselamatan umatNya. Sebagai kawanan domba, sudah sepatutnya umat mengasah kehidupan spiritual mereka dengan Allah yang mereka percayai, menemukan perjumpaan mereka dengan kuasa Allah dalam tiap peristiwa hidupnya, supaya hidupnya lebih bermakna.
Kebaktian Paska -
Minggu 26 April 2020 -
Hidup Yang Dibaharui -
Manusia suka membingkai hidupnya dengan kisah yang baik, menarik dan penuh pengharapan. Namun sayang tidak selalu yang terjadi demikian. Kedua murid Tuhan pergi keluar Yerusalem karena bingkai hidup mereka hancur berantakan. Mereka tinggalkan persekutuan, sebab kecewa atas kematian Yesus, dan kabar lain yang mengejutkan yaitu simpang siur kebangkitanNya. Yesus menampakkan diri dan memperlihatkan kebangkitan-Nya. Tujuannya membaharui hidup mereka. Tuhan mengajak mereka kembali ke tengah persekutuan. Melalui persekutuan kita ditolong untuk membaharui hidup, melalui rangkulan kehangatan kasih Tuhan. Kita pun di minta tidak lamban untuk percaya. Dan akhirnya kita diminta untuk percaya bahwa Tuhan bertindak melampaui pikiran, perasaan dan bingkai yang kita bangun selama ini.
Kebaktian Paska -
Minggu 19 April 2020 -
Duta Damai Sejahtera -
Pengalaman tentang Tuhan tidak dapat dipisahkan dari persekutuan. Dalam keterpisahan, pengalaman akan Allah justru menciptakan perkiraan dan asumsi pribadi yang menyesatkan. Tomas menjadi tidak percaya akan kebangkitan Tuhan, karena dirinya tidak hadir dalam kebersamaan dengan para murid yang lain. Dia memiliki persepsi sendiri yang cenderung menolak kebangkitan. Tomas adalah kita yang penuh dengan ketidakpercayaan. Padahal Iman selalu beranjak dari hal yang tidak selalu terlihat, tidak dipahami dan tidak diketahui. Banyak hal yang tidak kita lihat, namun kita percayai. Yesus hadir menyelamatkan Tomas dengan memberi damai sejahtera. Dia menunjukkan bukti kebangkitan agar kita percaya. Mari jadi duta damai sejahtera untuk selalu membagikan kisah sukacita, bukan ketakutan.
Kebaktian Paska -
Minggu 12 April 2020 -
Mari Beritakan Kebangkitan-Nya -
Hidup manusia selalu dihimpit oleh perasaan takut dan gembira. Saat kita senang, ada terbersit kekuatiran dan saat kita susah selalu ada ucapan syukur. Perasaan yang sama dialami oleh Maria dan para perempuan yang datang ke Kubur Yesus. Mereka takut karena terjadi gempa dan kubur Yesus kosong sekaligus mereka gembira karena Malaikat Tuhan berkata, “Ia sudah bangkit” Ini menjadi bukti bahwa kematian bukan akhir segalanya. Kematian tidak perlu ditakutkan. Yesus hidup dan menjaga manusia sebagai yang pertama dan terakhir. Pesan inilah yang dimintakan kepada kita untuk pergi dan mengatakan tentang Tuhan yang bangkit. Kebangkitan Tuhan memberi hidup, memenangkan diri kita dari dosa. Tuhan mengalahkan dosa, Tuhan pasti mengalahkan COVID-19. Mari kita beritakan kebangkitan-Nya jadi sukacita kebangkitan bagi banyak orang.
Kebaktian Jumat Agung -
Jumat 10 April 2020 -
Karena Salib-Mu, hidupku di Baharui -
Rasa bosan mulai dikeluhkan saat harus tinggal di rumah. Manusia memang tidak dapat hidup dalam paksaan, pasti berontak. Ironisnya, manusia hidup dalam paksaan oleh dosa. Tetapi ini tidak terjadi pada Yesus, walau dirinya dipaksa dalam derita, penghinaan dan kematian. Tuhan Yesus menjalaninya justru dengan kerelaan. Wujud cinta terbesar, ganti hidup manusia yang berdosa. Pada Yesuslah keagungan peristiwa Jumat Agung yang dirayakan. Yesus bukan menjadi korban, tapi Dia mengorbankan diri. Pengorbanannya diproklamirkan dalam ucapan "Sudah Selesai". Genaplah semua karya keselamatan Ilahi bagi hidup manusia. Roti dan anggur menjadi symbol kasih-Nya terbesar, yang tersalib dan membaharui hidup kita.
Kamis, 9 April 2020 -
Jadilah Hamba yang Percaya -
COVID-19 memaksa gereja memasuki era revolusi 4.0 dengan ibadah Online. Perjumpaan kita dalam ibadah adalah perjumpaan di udara. Prioritas utama pada saat ini adalah kehidupan. Tuhan pun memperjuangkan hidup manusia. Dia memberikan teladan dengan membasuh kaki kita, sebab tidak selalu kita bersih. Dia pun mengadakan perjamuan terakhir dengan memecahkan roti dan membagikan anggur yang menjadi symbol tubuh dan darah Kristus. Perjamuan ini untuk memperingati kematian Tuhan. Kita menerima perjamuan dengan iman yang dalam, harus mempersiapkan diri dan tidak bermain-main. Perjamuan mengajak kita untuk percaya akan Yesus yang mengingat kita, memelihara dan merangkul kita.
Minggu Palmarum, 05 April 2020 -
Hamba yang Rendah Hati -
Tragedi kemanusiaan terjadi di India saat Lockdown terjadi di India. Situasi kacau, penuh ketakutan menimbulkan ancaman kematian sebelum virus membuat mereka menderita. Kita harus belajar dari situasi ini. Manusia pada dasarnya berproses dalam belajar dalam kehidupan. Situasi kita mengajarkan kita untuk rendah hati. Satu karakter hidup yang menjadi perpaduan antara sifat dan prilaku manusia. Kita belajar dari sikap Yesus yang memasuki kota Yerusalem. Dia menempuh perjalanan kematian-Nya. Yesus role model kerendahan hati manusia. Oleh sebab itu kita harus memiliki jiwa seorang murid yang sedia belajar. Kita berproses menjadi pribadi yang rendah hati dan mewujudkannya dalam situasi yang mematikan.
Ibadah Minggu 29 Maret 2020 -
"Percayakah kamu akan hal ini?" -
Dalam pergumulan seringkali kita memiliki pikiran negative. Situasi covid-19 ini pun menghadirkan banyak pikiran negative lainnya yang melemahkan dan membuat tidak berdaya. Kehidupan demikian dialami juga oleh Lazarus. Maria dan Marta menangisinya dan menyalahkan Yesus yang tidak segera hadir dalam penderitaan mereka. Mengapa Tuhan tidak segera datang? Yesus menegaskan bahwa penyakit ini tidak akan membawa kepada kematian. Penderitaan menjadi ruang pembelajaran bagi manusia dari Tuhan untuk mengalami percaya. Percaya bahwa Yesuslah Kebangkitan dan Hidup. Iman percaya dalam penderitaan justru akan menjadi jalan memuliakan Tuhan.
Ibadah Minggu 22 Maret 2020 -
"Memberitakan Karya Tuhan" -
Seruan untuk tetap tinggal di rumah terus disebarkan, agar masyarakat terhindar dari bahaya mematikan virus Covid-19. Tetapi banyak orang yang menolaknya. Mereka buta akan hal ini. Kebutaan seringkali dihubungkan dengan dosa. Padahal orang buta punya kelebihan juga. Kebutaan itu bagi Yesus punya maksud agar pekerjaan Allah dinyatakan, agar kita bertindak sesuai yang Tuhan katakan dan agar kita dapat menjadi penuntun yang benar di tengah situasi yang berbahaya ini.