Saya mendedikasikan diri saya pada panggung-panggung kecil dan intim, menggemari konser yang mungkin hanya satu-dua orang penontonnya. Lagu yang saya persembahkan biasanya bernuansa minimalis, karena seringnya tampil dengan gitar dan vokal saja, tema religi mewarnai lirik-lirik yang saya bawakan. Selain menulis sendiri pun saya kerap memusikalisasi puisi (#mupus) karya beberapa sahabat penyair.
Kali ini saya akan membahas beberapa lagu saya, biar mudah aja sih ... 🤭🤣. Selamat menikmati.
Lagu ini saya dedikasikan untuk para pejalan. Lagu ini termasuk yang cepat nulis liriknya, lebih cepat dari lagu "Dia Danau" ... semoga bisa memberi sebaik-baik manfaat.
Saya kenal cuman lewat tv, belom pernah ketemu. Suka banget suaranya, saya vote beliau waktu masih jaman-jaman berkompetisi di X Factor, suka juga komposisi musiknya. Bikin hatiku porak-porandaaaa!! 🤣🤣🤣
Ary Klangit (@aryklangit) dan Zizi Kirana (@zizi_kirana) mengaku sempet emosionil waktu latihan dan rekaman.
Demo-tape pertama dibantuin Adit (@aditto28), ini termasuk yang paling banyak disukai karena minimalis, bikin lirik jelas dan vokal Adit kerasa banget karakternya.
Semoga Sang Pemilik Cahaya berkenan meminjami cahaya-Nya, bikin kita bisa belajar membaca diri.
Semoga kita bisa selalu mesra dengan kedua sahabat kita yang selalu bisa menasihati dengan sebaik-baik nasihat itu. Barrakallah.
Sebagian saja yang saya kupas dalam lagu ini, semoga bisa dinikmati sambil nemenin cuci-cuci, cuci hati :) .... please enjoy!
Pembacaan ulasan lagu Malam Ini oleh @utamiisharyani di blog pribadinya:
https://ranselsaya.com/2020/03/10/malam-ini-panji-sakti-utami-isharyani/
Saya menafsirkan Noor itu sebagai Nur yang Paling Nur, Nur yang hakiki, Nur yang presisi, Nur yang paling di cari para pejalan, Nur yang paling syahdu, Nur yang paling mantul, Nur yang hanya bisa ditangkap dan dipantulkan oleh dadanya orang-orang salih yang sudi bersusah payah melayani Rabbnya, Nur yang sulit didefinisikan, perlu berdarah-darah mendeskripsikannya, mustahil mengerti jika tidak diperkenankan oleh Sang Pemilik Nur itu sendiri. Nur yang mungkin perlu waktu seumur hidup untuk mengenalinya. Tapi jika Dia Sang Sumber Cahaya berkehendak, tentu Dia dengan suka cita menunjukkan jalan-jalan cahaya itu. Waalahualam.
Berkali jatuh dan terpuruk
Kalau mengeluh malah busuk
Semakin buruk dan terhina
Jika tak ridho mensyukurinya
Saat senang
Sering lupa
Manis dan lapang tak semata
Untuk membeli
Yang diingini
Hati-hati jangan lupa diri
Mari belajar mati
Mati sebelum mati
Kecilkan api tungku
Taubat jangan ditunggu
Pasrahlah pelita-Nya
Menembus tabir kaca
Bekal untuk membaca
Isyarat bayangan-Nya
Belajar jadi hamba
Hamba yang paling hamba
Lirik & Lagu: @panji_sakti
Ada yang sedang seperti menyendiri/
tapi nyatanya dia tidak sendiri/
dia sedang asyik bercengkrama/
dengan semesta yang membuatnya/
menjadi tiada/
Duduknya menghamba/
Duduk dalam danau air mata/
Ingin rasanya aku tenggelam bersamanya/
mensyukuri luka perjalanan cinta/
meski akhir cerita tak seperti doa dan rencana/
sungguh dia tak pernah menjadi kecewa/
Hidupnya menghamba/
Menghamba hanya pada Allah saja//
Composed by Panji Sakti//
Bagaimana bisa bosan pada-Mu/
Jika qadar-Mu indah melulu/
Bagaimana ku bisa membenci-Mu/
Kau gugurkan cintaku satu per satu/
Bagaimana ku tidak mencintai-Mu/
Jika Kau bangunkan ruang untukku/
Malu-malu menghiba pada-Mu/
Ragu-ragu, Engkau tahu itu/
Namun selalu Engkau tunggu aku/
Meski dengan tangis kepalsuanku/
Betapa aku rindu hancur karena-Mu/
Seperti yang Kau mau/
Bukan yang aku mampu/
Bagaimana bisa aku/
Melepas tali rindu-Mu/
yang Kau julurkan khas untuk aku/
Bagaimana bisa/
Bagaimana ku bisa merindu-Mu/
Jika Kau tak buat begitu//