Sesekali tentang cinta, kadang tentang Jakarta, sering kali tentang yang di antaranya atau bukan keduanya. Kadang berima, seringnya semaunya. Nakal, jenaka, dosa, ruang aman untuk berbagai jenis puisi dan cerita || dikelola oleh @budskiy || Sebagian besar tulisan di sini adalah karya original || Juga menerima request || IG: https://www.instagram.com/sajak_virtual/
Selama ini kamu pikir
hidup adalah perjuangan
tapi tidak hari ini
hari ini
hidup adalah perayaan
"ku minum kopi-kopi fancy semata agar nyawa tak tergoda kembali ke alam mimpi. (maaf saja, perutku sombong tak cocok dengan kopi murah). peduli setan tak punya rumah dan duit milyaran meski umur sudah 30-an. punya dan bisa kerja saja sudah lumayan". Tentang jajan kopi yang sering dituduh jadi penyebab mengapa kita gak kaya kaya. Padahal, masalahnya lebih kompleks dari itu. Puisi ini mencoba menceritakannya secara sederhana.
Aku ingin mencintaimu tidak dengan sederhana. Aku ingin mencintaimu dengan usaha dan kerja keras, dengan pengorbanan yang tak selalu ikhlas
"...kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. hari besok punya kesusahannya sendiri". Tentang hal dalam hidup yang tak perlu dipikir sekaligus semuanya sekarang
"hari hari ini kita bersembunyi di dunia Netflix. karena di dunia nyata yang penuh kesedihan, kekhawatiran, dan ketakutan, hanya di sana lah kita bisa chill"
"mereka berisik! tak bisa diam! meski sudah ku minta berhenti sampai aku menangis sekaligus menjerit, sampai suaraku habis". tentang segerombolan laki-laki yang tak paham mengapa seorang anak laki-laki yang mereka rundung lebih suka bergaul dengan perempuan
"kelak, ketika kita sudah bisa menerima bahwa rupa rupa manusia itu itu saja, tak ada pola dan rumusan yang pasti dan merasa itu lumrah lumrah saja, mungkin kita akan dipertemukan dengan rupa rupa manusia yang lain. tak akan terkejut ketika mereka yang terlihat baik memperlihatkan sisi buruknya, tak berprasangka jelek pada mereka yang dianggap buruk, siapa tahu mereka ternyata baik"
"di banyak perkampungan dan perumahan padat penduduk kehidupan tenggelam. tak bisa kerja apalagi liburan. semua kendaraan dan akses jalan terendam. tak bisa rebahan atau tidur tiduran". tentang keadaan beberapa kelas sosial di Jakarta saat banjir melanda
"semua cokelat yang ku beli di hari valentine berakhir di perutku sendiri. semua bunga yang ku beli ku tanam di halaman rumah dan ku sirami tiap hari. jatuh cinta pada perempuan tak terasa sesalah itu, tapi juga tak pernah terasa benar". sebuah cerita mini tentang harapan seseorang yang tak pernah benar-benar merasakan cinta dari seorang kekasih saat ia masih remaja
"tiba tiba aku tersenyum dan merasa senyumanku manis. alis, kumis, dan janggutku semuanya rapi, membuatku merasa aku agak lebih tampan dari biasanya". di hari ke-14 rangkaian #30HariBersuara bertema Self Love ini saya bercerita tentang bagaimana Cupid juga bisa membantu membangkitkan rasa cinta pada diri sendiri
"maaf saja tapi aku tak akan pernah mau jadi pemuja rahasiamu. saat aku mencintaimu, aku akan memastikan kau tahu". di hari ke-13 rangkaian #30HariBersuara dengan tema Pemuja Rahasia ini, saya bercerita tentang mengagumi dan mencintai bukanlah dosa yang perlu dirahasiakan
"Malaikat juga tahu aku hanyalah seorang budak cinta". di hari ke-12 rangakaian #30HariBersuara dengan tema Bucin ini, saya menulis puisi mini yang diadaptasi dari puisi sekaligus lagu dari Dewi Lestari yang berjudul "Malaikat Juga Tahu"
"gay itu tidak belok. heteroseksual itu tidak lurus. kita tidak berada di persimpangan di mana kita bisa memilih". di hari ke-11 dalam rangkaian #30HariBercerita yang bertema di Persimpangan ini saya menceritakan bagaimana menjadi gay bukanlah pilihan, sama halnya seperti menjadi heteroseksual
Hari ke-10 dalam rangkaian #30HariBersuara dengan tema Pertemanan ini saya menceritakan bagaimana cinta punya berbagai bentuk. Bahkan dalam beberapa kasus, persahabatan adalah bentuk cinta tertinggi. Episode ini adalah rilisan ulang dari yang sudah pernah tayang sebelumnya
"keluargaku adalah mereka yang ada saat aku menangis, sakit, dan tak punya uang yang juga ada saat aku tertawa, sehat sentosa, dan punya cukup banyak uang untuk foya foya". di hari ke-9 rangkaian #30HariBersuara bertema keluarga ini, saya menceritakan tentang keluarga yang berdasarkan hubungan darah dan yang tidak
"aku adalah seorang pasangan yang melakukan hal-hal yang mungkin lebih buruk tapi tak bisa ku ingat lagi yang jelas masih terbenam dalam kepala aku tak siap jadi pasangan yang baik”. Hari ke-8 dalam #30HariBersuara menceritakan tentang bagaimana saya belum pernah jadi pasangan yang baik
"aku mendekatimu bukan dengan sapaan "lagi apa?" atau "udah makan?" bukan pula dengan menanyakan "kamu kenapa?" yang dilanjutkan dengan "sini cerita"". Hari ke-7 dalam rangkaian #30HariBersuara kali ini bertema PDKT. Dalam puisi ini, saya menceritakan bagaimana proses pendekatan bisa gagal karena muak mendengar penolakan yang tak terang terangan
"Jika suatu saat nanti Yesus bertemu dengan seorang laki-laki gay seperti ku apa kira kira yang akan Dia katakan atau lakukan?". Hari ke-6 dari rangkaian #30HariBersuara kali ini bertema perjumpaan. Lewat puisi ini saya melihat kembali perjumpaan Yesus dengan orang-orang yang dipinggirkan
"waktu dewasa dan sudah bekerja baru ku sadari ternyata aku tak pernah punya keinginan menjalin hubungan romansa di masa remaja sementara teman temanku sudah menikah dan berkeluarga". Hari ke-5 dalam rangkaian #30HariBercerita ini saya menceritakan tentang keinginan masa dewasa yang telat datang karna semasa muda merasa tak pantas memiliki keinginan semacam itu
"bersyukurlah kamu jika segala rencana nyata berubah jadi maya atau gagal sepenuhnya. setidaknya nyawamu masih ada, kesehatanmu masih terjaga, dan cintamu masih kuat terasa". Hari ke-4 bertema rencana dari #30HariBersuara ini, saya bercerita tentang segala rencana yang gagal di pandemi ini memang sebaiknya disyukuri saja. Setidaknya kita masih hidup dan masih sehat
"hari ini ku putuskan untuk menghirup napas dalam dalam, untuk melanjutkan hidup sekali lagi, setidaknya hari ini". Hari ketiga dengan tema Keputusan dalam rangkaian #30HariBersuara ini bercerita tentang keputusan terbaik yang bisa diambil ketika burn out dan hendak menyerah; melanjutkan hidup setidaknya hari ini
"kita bisa bermula dari hubungan satu malam di sebuah apartemen di Kalibata sebagai sesama orang asing, atau dari lingkaran pertemanan sebagai sesama yang sudah saling mengenal". Hari kedua dalam rangkaian #30HariBersuara ini bertema Awal Mula. Dalam puisi ini saya bercerita bagaimana hubungan antara 2 orang bisa berakhir sebelum dimulai
"di hari lahirnya ia sudah tahu tak ada wadah untuk air mata saat ia sudah dewasa". di hari pertama #30HariBersuara dengan tema "hari lahir" ini, gue bercerita tentang ekspektasi yang disematkan pada seorang manusia, lebih spesifiknya laki-laki, dari sejak kita dilahirkan.
Memasuki penghujung tahun, selama bulan Desember gue berniat mengikuti tantangan dari the Podcasters Indonesia untuk membuat 1 episode podcast setiap hari selama 30 (+1) hari berturut-turut dengan tema yang telah ditentukan. Tentu saja podcast ini tetap akan menghadirkannya dalam bentuk puisi atau cerita mini, dan gak janji akan bisa full. Tentang #30HariBersuara, dengarkan selengkapnya di episode ini
Selamat datang di Ruang Juang Berbasis Algoritma, tempat di mana Anda bisa mengusahakan perubahan hanya dengan bermodalkan jempol, gawai, dan kata-kata. Untuk memulai panduan, tekan "putar" atau "play"
"Ku mainkan sebuah lagu ber-genre City Pop di Spotify. Aku tidak ingat siapa aku tahun 1980-an. Aku cuma ingat aku pernah berbagi cinta dengan seorang laki-laki". Tentang jejak cinta di kehidupan masa lampau yang hampir terlupakan seluruhnya
"Kalau boleh jujur. Bagaimana kalau aku bilang tidak? Akankah jujur langsung membalikkan badan, melangkah pelan, menjauh perlahan, menunggu mengejar, memanggil. Akankah tetap kau utarakan kebenaran tanpa mengemis izin, tanpa memohon restu, tanpa menganggapnya sebuah tindak kriminal?". Ditulis dan dibacakan oleh @firnnita, penulis buku kumpulan puisi String Attached.
"Damai datang bukan hanya dari kitab suci, tapi juga lewat matahari yang hadir mengusir mendung untuk mengeringkan pipi yang seketika basah akibat air mata yang sama sekali ogah diajak berkompromi". Ditulis dan dibacakan oleh Yunita dari podcast Abjad Tersirat. Tentang kedamaian yang datang dari kesederhanaan yang dekat.
"Tapi di balik lelucon itu ternyata kamu yang paling tahu. Kalau di balik semua pelukan dan ciuman di hari mendatang akan menjadi simbol perlawanan terbesar kita untuk melawan waktu yang sudah cepat-cepat mengajakmu keluar dari kota Jakarta… selamanya". Ditulis dan dibacakan oleh Yunita dari podcast Abjad Tersirat
"mereka semua mati. tinggal tersisa batu-batu berlumuran darah. Yesus tak mau bangkit lagi". Puisi original. Tentang bagaimana manusia takkan pernah berhenti menghakimi, meski berkali-kali diingat oleh Sang Nabi.
Di episode ini, saya membacakan artikel yang saya tulis untuk Magdalene dengan judul yang sama. Lewat "cerpen curhat" ini, saya menceritakan bagaimana kata cinta dan sahabat adalah kata yang begitu sulit terucap terutama di antara 2 orang laki-laki. Saya sendiri adalah seorang gay, pernah (berkali-kali) berhubungan seksual dengan laki-laki, juga pernah berkencan bahkan berpacaran dengan mereka. Tapi cinta dalam kisah ini BUKAN cinta yang seperti itu. Ini bahkan sama sekali BUKAN kisah cinta di mana "aku mencintaimu, tapi karena kamu hetero dan kita gak bisa pacaran, mari kita sahabatan aja". Lewat tulisan ini, saya bermaksud menceritakan bagaimana cinta punya berbagai bentuk. Bahkan dalam beberapa kasus, persahabatan adalah bentuk cinta tertinggi
"Dalam sorot mata Cicik Lili, Uni Viki, Teteh Nia, dan Mbak Nina, ada kilas sorot matamu, bu". Dibacakan oleh Yoshi Fe. Puisi ini ada di buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul "syair-syair sekedar mengingatkan".
"Sampai Budi sudah tidak kecil lagi, sampai Budi sudah dewasa (setidaknya secara usia), ia tidak pernah paham maksud dari "seperti perempuan". Mengapa sesuatu hanya boleh untuk dan dilakukan oleh laki-laki, sementara yang lain hanya boleh untuk dan dilakukan oleh perempuan? Di usianya yang sudah tidak lagi terdiri dari 1 angka saja, Budi melawan semua laki-laki yang menghinanya". Tentang si Budi Kecil yang menjadi teman penguat bagi si Budi dewasa
"Lalu teriak hingga pekak namun tak ada senafaspun yang bergerak kecuali luka yang semakin menganga. Luka yang seumur hidup akan terbuka. Semua berkecamuk mencoba kuliti rasamu. Sementara aku terpasung diantara bunyi dan sunyi. Dan tanpa kabar yang berarti". ditulis dan dibacakan oleh Al Muhtadi.
Podcast Secangkir Puisi Sebait Kopi sekarang berubah jadi Sajak Virtual. Mengapa diubah dan apa saja isi podcast ini? Sila didengarkan
"Being gay is about defining who we are. choose and make our own family. become best friends, girl friends, sisters. welcoming, supporting, comforting, and giving as much love as we can give to each other". An original poem about what being gay is all about. Start with what being gay is NOT all about.
"maka kembali aku ke sosial media. mengenang normal format lama. mengenang nongkrong nongkrong kala senja. mengenang karaoke 3 jam di Inul Vizta. mengenang puisi puisi yang masih memiliki rasa dan permainan kata yang jenaka. terpejam, lalu masturbasi, aku juga mengenang cinta yang cuma sementara tapi begitu panas membara. mengenang masa lalu dan segala yang dulunya nyata dari balik jendela maya". Puisi original tentang kenormalan lama yang kini hanya bisa dikenang
"Semoga kita semua tidak lelah untuk terus belajar dan mencoba mencintai dengan sederhana. kita mungkin takkan bisa bahagia bersama. tapi semoga rasa sakit, takut, dan perjuangan hidup yang kita bagi dan jalani bersama membuat kita merasa cukup". Puisi original. Tentang menerima kekurangan, rasa takut, dan rasa sakit.
Selamat pagi/siang/sore/malam kak! Berhubung banyak di antara kakak kakak yang masih belum memahami produk produk orientasi seksual yang ada, berikut penjelasan dari sales representative kami. semoga membantu. (Monolog ini dibacakan dalam rangka memperingati International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia atau IDAHOBIT)
"Katakan pada ibu, si buyung mau lebih lama merantau. Rumah itu mungkin selalu akan menanyakan kepulangan, pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan. Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan". Sebuah puisi karya salah satu penyair favorit saya, Joko Pinurbo. Dibacakan dalam rangka Hari Puisi Nasional yang jatuh tanggal 28 April
"siapa kamu tanpa teman kencan malam minggu, seks bebas padahal baru pertama bertemu, circle julid paling seru, teman teman indie, kiri, edgy, penikmat senja, hujan, kopi dan puisi". Puisi original. Tentang bagaimana social dan physical distancing membuat saya melihat bahwa (banyak) manusia itu terlalu kolektif untuk bisa melihat diri sendiri sebagai individu yang tunggal. Saat kita tak lagi berhadapan dengan pekerjaan, sekadar hobi, apalagi manusia lain, kita bingung karena kita tak lagi tahu bagaimana mendefinisikan diri sendiri.
"waktu ku besar hidupku amatlah susah, susah dipangku, dipangku dipeluknya, serta dicium, dicium dimanjakan, namanya diperkosa". ditulis dan dibacakan oleh Sekar Surowijoyo
"kepingan rasa yang hambar
dan potongan cerita yang sudah ambyar adalah alasan mengapa ‘kita’ tak lagi relevan". Puisi original. Tentang definisi yang samar di dekat perbatasan.
"di ranjangmu, setidaknya desahanku tidak direndam dan teriakanku tidak dibungkam". Puisi original. Tentang bagaimana saya (terkadang) memaknai anal seks sebagai coping mechanism dari rasa sakit di dunia yang sering kali tidak bisa saya kendalikan.
"Kau ingin tiba di usia di mana dunia tak lagi misterius: (1) tak lagi perlu seseorang memahamimu, karena kau telah memahami dirimu sendiri. (2) tak lagi mendamba dicintai karena kau telah mencintai dirimu sendiri". Puisi karya Norman Erikson Pasaribu dari buku Sergius Mencari Bacchus
"Ku tak tahu apakah demokrasi dapat mengantarku ke pelukanmu dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya". Ditulis oleh Joko Pinurbo, dibacakan oleh Budi Winawan.
"Kita hidup di dunia nyata. Mencari lalu kehilangan. Berjalan dan tersesat. Lelah dan menyangkal banyak hal. Membenamkan diri di dunia maya hanya untuk menemukan hal yang sama. Pergi ke tempat tidur hanya untuk mimpi buruk, atau melihat gelap yang sama sama menakutkan". Puisi original
"semoga kita tidak mati saat kita hidup". tentang lahir dan mati yang begitu sederhana, dan hidup yang begitu kompleks prosesnya
"thanks for the help. for the snap, clap, and slap. for the love and laugh. for lending me your ears and wiped away my tears. for sharing the best memories and the worst tragedies". k bye for now
"Dalam sajak rindu yang kau tulis dengan benci, sebenar-benarnya itu cinta. Yang tentunya kau pura-pura, kau mengumpat di balik kata di tiap rima". ditulis dan dibacakan oleh @adalahkata
"aku hidup di perbatasan antara puisi dan Jakarta. tak kuat menjadi 'sekaligus' bosan menjadi 'saja'". Puisi original. Tentang hidup di tengah-tengah
"Kesalahan apa lagi yang kau buat? Alasan untuk tidak betah apa lagi yang kau buat-buat? Di kota ini, di kota kita, aku mau jadi cantik, jadi sepi, jadi senewen, asal kudapat jawaban untuk 1 pertanyaan: Apa jadinya Jakarta tanpa seseorang, untuk dijatuhcintakan?" ditulis dan dibacakan oleh Sarita Larasati (IG: @srtlrst)
"aku tak tahu bisakah aku dan kamu sampai pada kita. Haruskah aku tahu? Haruskah kamu tahu? Haruskah kita sampai?" Puisi original. Tentang "sampai" yang tidak pasti. Tapi pasti tidak sampai kalau tidak dijalani dulu
"tapi kamu membentengi diri
bukannya menghadapi apa yang kamu takuti, tapi kamu begitu membenci ide tentang jodoh tapi sebegitu idealisnya tentang ide berpasangan, hingga kamupun
berpasangan dengan ide menikah dengan ide "berjodoh" dengan ide yang tak pernah bisa bahkan tak pernah mau dieksekusi. Hidupmu adalah ide, cintamu adalah ide, dan berhenti selamanya sebagai ide". Puisi original. Tentang antara mencari sang idaman atau menjadi sang ideman
"Kita tak akan pernah mengetahui kapan waktunya untuk mencinta, kita hanya bercinta. Kita tak pernah mengetahui kapan waktunya membenci, kita hanya bertengkar. Kita tidak akan tahu kapan waktunya senang dan sedih, kita hanya mendekat dan menjauh". Puisi karya Agung Setiawan S dari buku antologi puisi "Compassion". Dibacakan oleh Idha dari podcast I Think I Wanna Date You
"...sebab ciuman terakhir itu akan bertahan bersamaku, ia tertinggal, selamanya, tak tanggal dari mulutmu, dengan begitu turut bersamaku, ikut dalam matiku." Sebuah puisi dari buku 100 Soneta Cinta karya Pablo Neruda yang diterjemahkan oleh M Aan Mansyur. Aslinya puisi puisi di buku ini tidak berjudul, tapi menurut saya pribadi, Ciuman Abadi adalah judul yang tepat untuk puisi yang satu ini.
"Maka kamu pun meledaklah! Melahirkan lubang hitam. Menghisap segala yang dekat, menghisap segala yang hidup. Sementara, jauh dari jangkauan bintang mati dan lubang hitam, aku adalah segala yang ada di jagat raya". Puisi original. Tentang beberapa saling yang terjadi antara aku dan kamu, dan ketidaksepakatan yang terjadi setelah ledakan yang ditimbulkan
"Sementara para suami yang melakukan kekerasan pada istri (atau sebaliknya) dibiarkan saja karena katanya "urusan rumah tangga". Sementara pejabat negara, tidur nyaman di kasur empuk bahkan meja kerja, padahal korupsinya meraja lela. Sementara daerah yang sumber daya alamnya dijajah, dikeruk habis habisan, tak dibiarkan merdeka. Sementara hutan yang dibakar katanya adalah musibah yang direstui oleh Yang Maha Kuasa". Sebuah puisi original mengenai iklim politik Indonesia saat ini. Sstt! Jangan bilang bilang pemerintah ya. Sumber gambar dari tirto.id
"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, diituduh subversif dan mengganggu keamanan,
maka hanya ada satu kata: lawan!". Saya merasa pemerintah sedang sangat tidak bersahabat dengan rakyatnya, dan saya merasa puisi Wiji Thukul yang ditulis tahun 1986 ini relevan dengan keadaan saat ini
"Nothing good happens after 2 A.M
But when is that exactly? 1 A.M, 23 hours after 2 A.M when we spill some (or probably even all) of our worries on social media? Is it when we're whining or try to make a positive affirmations, like 'good things happen to good people', or 'karma will always have our back'?". My original poem. About something good that probably will happen if we change something. In this case, the concept of time, the concept of after and before.
"Kita ingin berharap bahwa segala sesuatu di dunia cuma punya satu pola. Bahwa cinta hanya untuk pasangan laki laki perempuan saja. Agar bisa dicinta, kita harus elok rupa menawan raga, berkencan lama sebelum mengikat janji bersama selamanya. Kita ingin percaya bahwa dengan self love
segalanya akan baik baik saja". Puisi original. Tentang bagaimana kita merasa bahwa segala dunia ini cuma punya satu rumusan
"pada akhirnya, kita abadi dalam keheningan. kau tetap lebur dan aku hancur. kata-kata tak lagi bergerak hingga kau lenyap, hingga aku mati dalam harap". Ditulis dan dibacakan oleh @raraiswahyudi. Musik oleh David Kristomi. Tentang kisah yang telah berlalu dan kini hanya sekadar bayang-bayang dalam kenang, tentang segala harap yang perlahan lenyap.
"Tubuhmu luka tapi kau lebih tidak sanggup melihat mereka yang kau cinta bergelimang luka. Lalu kau menyalib dirimu sendiri sebagai tanda kau tidak hidup untuk dirimu sendiri. Seketika di mataku kau tampak seperti nabi." ditulis dan dibacakan oleh @bentarabumi. Bentara Bumi adalah penggagas Malam Puisi Indonesia, ruang membaca puisi untuk siapapun yang hadir sejak bulan Maret 2013. Dengan moto “datang, dengar, dan bacakan puisimu!” Malam Puisi hadir sebagai sebuah ruang aman untuk berekspresi secara jujur tanpa penghakiman. Saat ini Malam Puisi telah hadir di lebih dari 40 kota di Indonesia.
"Aku tertawa. Getir. Sempat ku berharap kisahku hanyalah kisah drama televisi. Setelah beberapa waktu ada sutradara teriak CUT! Tak ku sadari bahwa akulah sang sutradara. Sekaligus penulis naskah, sekaligus pemain". Tentang berdamai dengan kisah di masa lalu
"Rintik kecil di bulan itu masih sedikit malu-malu. Diceritakannya kisah lewat gerimis di garis waktu. Tentang perjuangan anaknya yang pernah gagal. Masa kecilmu yang sedikit nakal". Puisi kiriman dari Aisah Nur Rahmawati
"Jakarta selalu punya cara untuk membuat mataku sakit. terlalu banyak polusi di sini. polusi udara, polusi cahaya, sampai polusi hati dan polusi jiwa. di saat yang sama, Jakarta juga selalu punya alasan untuk membuat mataku enggan terpejam dan istirahat". Bukan puisi, mungkin bisa disebut prosa, tapi lebih mirip cerita pendek banget. Tentang isi kepala yang membuat mata berputar sampai sakit; udara yang beracun, perkencanan, pola pertemanan, keuangan, sampai melibatkan Didi Kempot dan beberapa lokasi dalam lagu-lagunya
"puisi adalah mantra-mantra paling
gelap. lorong-lorong tak tak berujung.
kesedihan yang tertampung. dan duka
yang belum rampung". Puisi kiriman dari Jerome Marciano (ig: @callmeyourromeo)
"... lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang". Puisi ini diambil dari buku "Tidak Ada New York Hari ini" karya M Aan Mansyur, sebuah buku kumpulan puisi yang sebagian dipakai di film AADC 2
"di dunia nyata aku akan bisa bertemu salah satu dari ya, tidak, dan mungkin, lalu menghapus dua sisanya dari dalam kepalaku". Tentang tinggal di dalam kepala, padahal dunia nyata sebenarnya tidak seburuk itu
"what matter is each other, what matter is together to infinity and beyond". About how Woody is us; who think that what matter the most is the happiness of others. Pretty sure this is not a poem, not even a prose I guess, but I just want to share how I feel about the movie
"semua toh hanya secarik kertas. sama lah seperti hidup ini. disobek, dibuang, dilupakan sampai akhirnya habis". Puisi karya Gratiagusti Chananya Rompas dari buku NON-SPESIFIK
"Salahkan semuanya sampai tidak ada yang bisa disalahkan. Salahkan semuanya sampai kamu sadar bahwa kamu tidak punya kendali terhadap apa pun selain dirimu sendiri"
"Bukan hanya yang di atas atau yang di bawah. Jakarta juga tentang yang di tengah tengah. Bukan hanya tentang pemenang dan pecundang, Jakarta juga tentang mereka yang memandang hidup bukanlah kompetisi". Puisi original tentang hidup di Jakarta. dipublikasikan dalam rangka ulangtahunnya yang jatuh pada tanggal 22 Juni
"...saya tidak menyembunyikan, saya mengekspresikan. Karena saya bangga, meski kadang, saya dibilang pendosa". Puisi original. Tentang kebanggaan hidup sebagai diri sendiri, jujur, apa adanya, meski kerap dibilang pendosa. Dibacakan dalam rangka memperingati International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia yang jatuh pada tanggal 17 Mei
"pada suatu malam, seseorang memeluk tubuh telanjangmu. kulit kalian bertemu, bergesekan, saling merasakan kelembutan". Puisi original saya sendiri. Tentang pujian terhadap tubuh yang terasa lebih istimewa ketimbang pujian terhadap kecerdasan.
"Dalam perhelatan itu, kepalanya ditetak, selangkangannya diacak-acak, dan tubuhnya dibirulebamkan dengan besi batangan. Detik pun tergeletak, Marsinah pun abadi". Puisi karya Sapardi Djoko Damono dalam buku Melipat Jarak. dibacakan dalam rangka Hari Buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei
"Ia menyalibkan hidupnya ke dalam lantunan 150 mazmur. Setiap mazmur mewakili duri-duri mawar yang ditancapkan ke kepalanya oleh orang-orang yang memanggilnya 'Raja'". Puisi karya Mario F. Lawi dari buku "Lelaki Bukan Malaikat". Buku tersebut banyak memuat refrensi dari alkitab, tradisi, dan ajaran agama Kristen. Berisi kesedihan, kemarahan, kegetiran, dan kritik yang bisa dipahami juga oleh orang beragama lain karena pesannya yang universal
di episode perdana #poeTalks ini, gue ngobrol ngobrol sama @kraie_ yang baru aja menerbitkan buku kumpulan ilustrasi dan puisi berbahasa Inggris pertamanya "the Great Fairy Ritual". di tengah segmen, Kraie juga membacakan salah satu puisi dalam bukunya tersebut "the Truth About Where We Came From", sebuah puisi yang menceritakan tentang bagaimana seorang perempuan boleh jadi feminin sedangkan laki laki tidak. Femininitas laki-laki ini juga jadi salah satu dari dari banyak hal yang kami bahas di episode ini.
"Ia telah menghayati sentuhan, terpaan, dan bantingannya; mungkin itu tanda bahwa ia telah mencintainya. Ia barulah layang-layang jika melayang, meski tak berhak membayangkan wajah angin". Puisi karya Sapardi Djoko Damono, dibacakan oleh @budskiy
"Sayangnya kamu hanya hantu fana. Berdarah tanpa luka, datang membawa duka. Belati di bibirmu menodong limpa dan hati. Hati hati menuduh aku yang membunuhmu". ditulis dan dibacakan oleh @saktipranandya. Tentang obsesi dari seseorang yang sudah lalu, tak bernyawa, tak bermakna
"Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana. Aku ingin mencintaimu segigih Zeus memerangi Sang Titan, menenggelamkan para Telkhine, mencabik-cabik takhta Kronos dan membuangnya jauh di dasar perut Tartarus; sebelum akhirnya mempersunting Hera di Kreta". Ditulis dan dibacakan oleh @hey_annisa. Tentang kesediaannya menjalani cinta yang tidak sederhana. Karena mencintai seseorang memang tidak akan pernah bisa biasa
"Itulah alasan mengapa aku memilih pergi. Aku percaya Gereja-Mu ada di dalam ku." Ucapan terimakasih dan selamat tinggal kepada gereja fisik. Judul diambil dari petikan lirik lagu Panbers, berjudul Gereja Tua yang rilis tahun 1986
"Apakah mencintaimu harus rumit? Serumit apa sih? Harus bisa membangun 1000 candi dalam semalam? Harus bisa membuat danau lengkap dengan perahunya, juga dalam semalam?". Tentang cinta yang sebenarnya tidak sederhana karena berbagai macam hal
"Mulai sekarang aku akan berkata 'kau sungguh tangguh' atau 'kau luar biasa'. Bukan karena aku tak menganggapmu cantik, tetapi karena kau sungguh lebih dari itu". Dalam rangka memperingati International Women's Day yang jatuh tanggal 8 Maret, kali ini saya membacakan puisi karya Rupi Kaur dari buku Milk and Honey versi terjemahan Bahasa Indonesia halaman 179
"Untungnya, aku tidak setampan itu, karena jika iya, akan sangat sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Mana yang benar benar berarti dan mana yang semu". Tentang bagaimana menjadi tampan, sebenarnya tidaklah begitu menyenangkan.
“Pikirmu, menulis puisi itu susah, membaca puisi itu berat, mendengarkan orang membacakan puisi itu aneh”. Tentang apa yang kamu tahu dan (mungkin) tidak kamu tahu atau sadari tentang puisi
"Rokok, keringat, dan aroma tubuhmu. Campuran ketiganya sempat menjadi candu bagiku". Tentang ingatan yang masih bersisa, tapi tak lagi berkesan
"Aku bukannya pelit, tapi kalau bisa keluar duit cuma sedikit, mengapa tidak dimanfaatkan? Persetan dengan 'merayakan valentine'. Aku cuma mau merayakan cinta yang hemat biaya". Selamat hari valentine sobat miskinku! Enjoy your cheap date! ❤️❤️
"Ketika sedih aku tak menangis, aku menjerit. Ketika senang aku tak tersenyum, aku menyala. Ketika marah aku tak berteriak, aku meledak". Puisi karya Rupi Kaur dalam buku Milk and Honey versi terjemahan Bahasa Indonesia halaman 109.
"Ada sumpah serapah yang hinggap di bibirmu, yang seakan berseru 'persetan semua yang tidak mengikuti perintah Tuhan'. Tapi adakah Tuhan-mu senang mengumpat?" ditulis dan dibacakan oleh Andani. Tentang ciptaan yang menjelma menjadi pencipta
"Kita punya kacamata dan peta yang berbeda, dan memang tak harus sama. Tak harus jadi masalah". Puisi original. Tentang akhir yang sama dari jalan yang berbeda
"Cinta bukan tentang teduhnya pandangmu, atau telinga cantikmu pun derajat senyummu. Bukan pula tentang caramu berjalan atau nada tertawamu". Request dari @ramaparamahamsa01. Puisi karya dia sendiri, tentang apa yang dia tahu soal cinta. Mau puisimu juga dibacakan? Atau mau request puisi orang lain untuk saya bacakan? Atau mau kirim audio kamu sedang membacakan puisi? Silakan kontak saya via Instagram :))
"Sekadar mengingatkan, yang boleh mengatur cara berekspresi, menentukan identitas diri, dan kepada siapa jatuh hati, ya cuma diri sendiri. Jangan pernah merasa kamu memiliki dan berhak mengatur siapa pun dan apa pun yang ada di luar dirimu". Mengingatkan kembali apa yang sebenarnya boleh dan tidak harus dilakukan oleh laki-laki dan oleh perempuan
Ted Mosby, dalam serial How I Met Your Mother pernah berkata "When it's after 2am, just go to sleep. Nothing good ever happens after 2am". Sayangnya hidup tak melulu baik. Maka saya bilang, "Lewat pukul 2. Mari kita cicipi hal-hal yang tidak baik, bersama-sama". Sebuah puisi original karya saya sendiri
"Ia mengajari saya cara mengarang ilmu sehingga saya tahu, bahwa sumber segala kisah adalah kasih; bahwa ingin berasal dari angan; bahwa ibu tak pernah kehilangan iba; bahwa segala yang baik akan berbiak...". Sebuah puisi karya Joko Pinurbo dalam buku "Buku Latihan Tidur". Tentang bahasa Indonesia yang pintar dan lucu walau kadang rumit dan membingungkan
"Beberapa hadir dalam rupa sama, beberapa lebih baik dari rencana". Tentang kejutan dari Semesta yang ada ada saja. Salah satu puisi favorit dari buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini (NKCTHI)
Puisi terakhir di 2018. Ucapan terimakasih pada Semesta, Cinta, Keluarga, teman teman, dan orang orang yang singgah sementara. Juga pada beberapa acara, dan tentunya pendengar podcast saya :)
Sebuah puisi karya Bulan dan Pohon. Tentang ucapan syukurnya pada Semesta atas Natal yang begitu sederhana dan bahagia
"...stay alive, even when the only option is dead". I made this a year ago when some part of my life was such a big mess. I didn't know how to fix it. Until "Who You Are", a song by Jessie J started to made sense. Just like some part of the song, I thought that maybe "it's okay not to be okay", and just let it flow. Then this poem happened
"Desember sudah menanggung beban terlalu banyak, terlalu lama". Puisi original. Tentang keharusan keharusan yang disematkan manusia pada Desember.
"Yang patah tak selalu tumbuh, Yang hilang tak selalu berganti". Puisi original. Tentang mereka mereka yang pergi dan satu satunya hal yang kita miliki
"Merangkai hal indah tentangnya saja aku tak sanggup. Apalagi kalau nanti aku jatuh. Bisa bangun tidak ya?" Puisi original. Untuk kamu yang hitam manis :)
"Di ufuk engkau terbenam, aku terbit. Di teluk engkau tenggelam, aku pasang." Beberapa baris terakhir puisi Dewi Lestari (Dee) yang menjadi pembuka dalam serial penutup Supernova, Inteligensi Embun Pagi.
Ucapan terimakasih gue kepada kalian yang udah dengerin dan follow podcast SPSK ini, sekaligus promo podcast gue yang satu lagi; Bibir Budi #2. Ngomongin apa aja yang gue bahas di podcast tersebut. Silakan dengarkan dan follow :)
"Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia.... Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati". Puisi karya M Aan Mansyur dari buku Melihat Api Bekerja.
"Saya akan terus lahir lagi dengan banyak nama. Sampai dunia tak lagi jadi penjara, tapi jadi istana". Puisi original. Tentang pengalaman menjalani kehidupan yang berbeda. Lagi dan lagi
"Tak ada yang nyaman di lapisan Langitnya masing-masing". Puisi original. Tentang kita yang selalu melihat ke arah yang lebih tinggi, hanya melihat, dan tak nyaman tinggal di tempat kita berpijak
Puisi karya saya sendiri. Tentang kesedihan dan kegelisahan yang bertebaran di sekitar rumah sakit. Terlalu besar. Terlalu banyak
"Maybe life is like working out at the gym. It doesn't feel right unless it hurts you. Your progress doesn't count, unless you can see the results immediately." Puisi original. Tentang bagaimana olahraga mungkin saja merupakan suatu refleksi dari hal hal yang kita lakukan dalam hidup sehari hari. Seperti misalnya lari dari tanggung jawab, masa lalu, penyesalan, yang tidak membawa kita ke mana mana. Seperti halnya lari di treadmill.
"Lagu, puisi, kata, yang semula adalah tumpahan kesedihan, berubah jadi ramalan yang kemudian menjadi nyata di masa depan." Puisi karya saya sendiri. Tentang mendamaikan Kesedihan, Kebahagiaan, dan diri sendiri.
"aku bukan wiski yang kau dambakan, akulah air yang kau perlukan". Puisi karya Rupi Kaur yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Diambil dari buku Milk and Honey yang puisi puisinya tidak berjudul (dan gue sendiri bingung mau ngasih judul apa kira kira)
Sebuah puisi berbahasa Inggris untuk kita semua yang masih muda, yang konon katanya naif, sembrono, konyol, dan sering diremehkan oleh mereka yang lebih "tua"