Lima bagian sederhana, bahasa dari lima indra. Kau maknai larik-larik puisi melalui hirup sebagai media. Selamat mendengar dan membaca, rampaian sastra Lima dari Lima.
...Yang membakarmu habis dan ia tak kembali. Lalu kau hirup racun yang semalam ia bagi. Kau habis termakan dirimu yang serupa ia. Tercekik tajam racun yang kau sebut tanda cinta...
...Apa lagi baunya memenuhi lahat yang dulu kau kutuk. Kau caci, kau teriaki, kau pukuli saat pulang dari mabuk. Bila nanti kau sanggup menjadi diriku, bisa kau sebutkan apa lagi yang belum ku tahu? Selain bau mulutmu yang sebusuk sampah...
...Ku ingat lagi sejak terakhir kali hampir mati. Siapa sosok yang mengeluarkanku dari peti. Yang baunya busuk menyengat seperti ini...
...Yang membekaskan jejak bau tak beda. Sejak wangi liang di atas makamnya. Kini ia tinggalkan bekas luka lama. Serupa bangkai menusuk hingga kepala. Sesak rasa tak tangkap udara pun cahaya...
...Bau kematian bersama kenangan kelamnya. Konon busuk di aroma tapi baik di Sang Maha. Menyengat, mengingat, menyayat, merapat...
...Makanan membusuk dari dalam perutnya. Rambut tebal hangus terbakar deritanya. Cerita lalu tinggal dan tumbuh di tubuhnya. Pertanda betapa kuat benteng pertahanannya. Terus berjalan sampai tak tahu lagi harus apa. Tak punya siapa selain diri serta liangnya...
...Kutandai dari bau asap jalanan di tubuhnya. Katanya bukti bahwa dirinya sudah berusaha. Bau limbah gedung tua memperkuat sengitnya. Bukan hanya keringat di punggung kekarnya...
...Katanya ini bau setumpuk dusta dan pengkhianatan. Tapi ku terka sarangnya menyengat serupa kotoran. Ku telusuri bersama memori landasnya perasaan. Ditemani kuatnya jejak telisik aroma bayangan. Semakin jelas busuknya dekat dengan alam...
...Ku racik malam jadi macam aroma. Sengat anyir lahir dari sapaannya. Hangus terbakar gosong dibuatnya. Tajam menusuk dihirup tak kuasa...
...Tumpukan bekas makan jadi karang. Juga kotoran yang dibuang sembarang. Lekat pada tubuh jadi timbunan bayang. Busuk menyatu dari ufuk sampai petang...
...Ibu teriak kematian itu menusuk ingatannya. Ibu mohon hadirku untuk singgah lebih lama. Ku bilang pada ibu gelap malam sudah datang. Ku bilang pada ibu bagi udara agar lebih lapang...
...Coba dulu hirup bir dan pertemuan. Lantas beku dalam perumpamaan. Akhirnya kita bilang, kita ini kurang suka penderitaan. Tapi bau mayatnya lekat sekujur badan...
...Tuanku, masih ku ingat betul sesak yang kuhirup sampai dahak. Lantas kau malah mempercepat lajunya tak berotak. Kau lihat aku sekarat tercekik dan tersedak. Tanpa sedikit pun hatimu tergerak...
...Menghirup racun tanpa henti. Katamu itu semua bukan apa-apa. Karena kau dapat dari belahan jiwa. Katamu bau pekatnya biasa-biasa saja...
...Pun sesak yang tak karuan lagi rasanya. Udara menusuk polusi sebabnya. Busuk limbah erat memeluk pekerja. Bertambah timbunan sampah ibu kota. Basi makanan jadi sumber lainnya...
...Katanya semua yang hidup mungkin berakhir sama. Bangkai mayatnya abadi dalam penantian tak berusia. Baik atau buruk meninggalkan busuk tak jauh beda.