Kajian – Radio Unisia: Recent Episodes

None

1179 AM Stereo The Religion Radio Channel

View Details

Kita mengangkat topik ini karena kita harus peduli dan sadar bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian, karena manusia memerlukan bantuan dari orang lain dalam kehidupan.
Sehingga keluarga dan kerabat yang terdekat dari kita selain kerabat dari saudara keluarga inti kita adalah tetangga.
Merujuk dari bahasa arab, tetangga itu bahasa arab nya adalah jar’ , atau terkadang disebut jiran .

Sebelum kita memutuskan untuk tinggal di suatu tempat atau daerah, maka pertimbangkan lah dulu lingkungan atau lihat lah dulu tetangga kita sebelum memutuskan untuk membeli sebuah rumah.
Dari ulama mengatakan berapa batasan jarak rumah tetangga itu dengan rumah kita?
Mengutip dari seorang ulama Imam Syufan Al Sauri , beliau mengatakan yang disebut tetangga adalah 40 rumah di depan kita dan 40 rumah di belakang kita. 40 rumah di sebelah kanan kita dan 40 rumah di sebelah kiri kita.
Walaupun demikian di dalam hadits Nabi, beliau sendiri tidak pernah mengatakan secara spesifik mengenai berapa jarak rumah kita dari tetangga kita di sebuah lingkungan tempat tinggal yang dapat disebut sebagai tetangga.

Konflik bertetangga

Banyak peristiwa kejadian di sekitar kita yang terjadi di masyarakat yang berkaitan dengan konflik bertetangga ini. Seperti salah satu contoh kasus nya ketika ada orang penghuni lama atau warga lama di suatu pemukiman yang apabila dia memiliki kekuatan jabatan dan suara, namun dia melakukan hal-hal yang semena-mena terhadap tetangga nya yang masih baru di lingkungan tersebut.
Jangan pernah kita menyakiti tetangga, jangan pernah sampai kita menzolimi nya, kita harus respek menghormati tetangga. Terlebih lagi apabila kita mengetahui jika tetangga kita secara materi atau keuangan terbilang kurang mampu, maka sebaiknya kita memberi pertolongan kepada nya.

Rasulullah bersabda, Orang yang tidak akan diampuni dosa-dosa nya yang pertama adalah orang musyrik, dan yang kedua adalah orang yang dia sendiri belum melakukan perdamaian dengan tetangga nya. Oleh karena itu dari hadits yang telah disampaikan oleh Rasul kepada kita bahwa Islam telah memberikan petunjuk panduan kepada kita bagaimana hidup bermasyarakat dengan orang-orang di sekitar kita, baik kepada mereka yang beragama Islam ataupun mereka yang tidak beragama Islam.
Rasulullah pernah bersabda di dalam hadits nya bahwa salah satu ciri orang yang beriman adalah senantiasa memuliakan tetangga nya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul nya maka janganlah dia menyakiti tetangga nya.

Akhlak

Imam Al-Ghozali mengartikan, Akhlak adalah tingkah laku. Secara etimologi, bisa juga dimaknai akhlak itu adalah perangai atau tabiat seseorang.
Bagaimana akhlak kita kepada tetangga, yang pertama adalah kita senantiasa selalu watawa saubil haqi watawa saubil sodri , jika ada perkataan yang benar dan membawa manfaat maka dengarkanlah dengan baik. Yang kedua adalah tinggalkan perkataan yang bathil, Hal ini banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Fenomena ini bahkan sering kali terjadi misal nya, ketika ada sekumpulan orang-orang yang sedang berkumpul-kumpul kemudian mereka melakukan gosip, melakukan ghibah, menceritakan sesuatu yang tidak baik kepada orang lain. Meskipun misalnya dia menceritakan tentang kondisi tetangga nya yang sebenarnya memang tidak baik, namun kita menceritakan nya kepada orang lain maka itupun sebenarnya yang kita lakukan tidak baik. Bahkan yang lebih mengerikan adalah ketika dia melakukan gosip, dan juga melakukan fitnah kepada tetangga nya. Padahal sebenarnya tetangga nya tidak melakukan sesuatu yang seperti dia ceritakan kepada orang lain. Namun karena kebencian dia, iri hati nya, maka dia menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi kepada orang lain.
Rasulullah menyebut inilah ciri-ciri orang yang bangkrut di akhirat karena dia suka menceritakan hal tentang orang lain yang tidak benar dan memiliki kebencian dengan orang lain.

Ada banyak kisah hikmah yang dialami oleh para ulama-ulama terdahulu yang berkaitan dengan kehidupan bertetangga.
Sebuah kisah yang dialami oleh seorang ulama bernama Hasan Basri, beliau tinggal di sebuah rumah yang kebetulan diatas nya itu adalah kediaman tetangga nya. Kemudian suatu ketika ternyata di rumah Hasan Basri tersebut ada bagian dari ruangan rumah nya yang atap nya bocor, yang setelah ditelisik ternyata kebocoran itu sumber awal nya berasal dari atas rumah nya. Dan setelah ditelusuri lagi ternyata berasal dari kamar mandi tetangga nya yang tinggal persis di atas nya. Apa yang dilakukan oleh Hasan Basri? Beliau hanya diam, sampai pada waktu ketika beliau sakit, dan seorang tetangga yang biasa nya melihat Hasan Basri duduk di depan rumah saat itu tidak pernah melihat nya lagi sehingga kemudian tetangga tersebut mencari nya dan datang ke rumah beliau. Tetangga itu kemudian menjenguk Hasan Basri, sampai ketika dia masuk ke dalam rumah dan melihat di sebuah pojokan ruangan di dalam rumah tersebut yang terdapat beberapa ember yang digunakan untuk menampung air yang keluar dari atap rumah nya. Seketika tetangga itu bertanya kepada Hasan Basri sejak kapan kamu mengalami kebocoran di ruangan itu yang memang letak nya berada persis dibawah ruangan kamar mandi tetangga nya tersebut. Kemudian Hasan Basri menjawab bahwa kebocoran itu sudah berlangsung selama 20 tahun. Begitulah luar biasa nya hebat ulama kita terdahulu, bisa mampu menjaga perasaaan tetangga nya, bahkan hingga sekian tahun lama nya. Kesabaran ulama-ulama terdahulu yang luar biasa.

Dari kisah yang diceritakan diatas, disini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Islam mengajarkan bagaimana kita hidup bertetangga, dan bagaimana kita berinteraksi degan tetangga dengan baik. Karena orang yang terdekat dengan kita adalah tetangga, bahkan bila kita nanti nya membutuhkan pertolongan maka orang yang pertama mengetahui dan dapat menolong juga adalah tetangga kita yang terdekat. Ketika kita hidup di tengah-tengah masyarakat, jadilah manusia yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain, ataupun kepada tetangga nya. Rasulullah bersabda, Khoirunnas anfa’uhum linnas , yang arti nya “Sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain”.

sumber : Ustadz. Willi Ashadi, S.H.I., M.A. Dosen Hubungan Internasional Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia

View Details

Islam memberikan pemahaman kepada kita bahwa kekayaan dan sumber daya yang diberikan oleh Allah kepada kita harus dapat bermanfaat secara baik dan bertanggung jawab. Kita yang memanfaatkan semua sumber daya yang sudah disediakan oleh Allah ini harus bertangggung jawab dan tidak boleh melanggar etika. Kemudian selanjutnya adalah distribusi kekayaan. Sahabat Unisia, Islam sudah menekankan pentingnya distribusi kekayaan yang merata di seluruh anggota masyarakat.
Tentu kita pahami bersama juga bagi orang-orang yang sudah sampai pada kewajiban nya untuk memberikan zakat, maka hal itu harus dilakukan.
Zakat ini secara prinsip adalah bagaimana sebuah distribusi kekayaan itu dilakukan. Selain itu juga ada wakaf , sedekah dan sebagainya yang merupakan bentuk-bentuk distribusi kekayaan yang dilakukan untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan.

Surat Al Baqarah ayat 275

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ
الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ
فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِۗ وَمَنْ عَادَ
فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Islam berupaya untuk menciptakan sistem ekonomi yang stabil, berkeadilan dan bermanfaat bagi masyarakat. Kemudian lebih jauh lagi hal ini dapat membantu dan mencegah tekanan inflasi yang bisa saja bersifat seasonal ataupun siklikal. Indonesia memiliki beberapa inflasi yang sifat nya musiman, seperti contoh nya pada bulan Ramadhan, Idul Fitri dan pada tahun ajaran baru dan akhir tahun. Itu semua merupakan inflasi yang sifat nya musiman dan semua faktor pendorong nya adalah permintaan atau demand .
Bagaimana strategi pengendalian inflasi dalam perspektif Islam?
Ada beberapa contoh konkret peran masyarakat dalam mengendalikan inflasi.
Kita semua dan sahabat Unisia dapat memiliki peran penting dalam mengendalikan inflasi. Pemerintah memang berperan sebagai regulator pengendalian inflasi namun kita semua juga bisa memilki peran dalam mengandalikan inflasi.
Yang pertama adalah, pemberdayaan ekonomi umat. Masyarakat dan kita semua dapat aktif berpartisipasi dalam praktik ekonomi yang sesuai dengan prinsip Islam, seperti zakat, wakaf, mudharabah dan sebagainya. Jadi dengan memberdayakan ekonomi umat, maka masyarakat dapat mengurangi ketimpangan ekonomi yang merupakan salah satu faktor penyebab inflasi.

Yang kedua, penggunaan dana secara bijaksana. Masyarakat memiliki hak untuk membelanjakan dana atau pendapatan mereka masing-masing. Tetapi penggunaan nya harus bertanggung jawab, dalam arti menghindari praktik yang dapat menyebabkan ketidakstabilan ekonomi. Kemudian juga adanya praktik Spekulasi. Ini merupakan hal yang banyak sekali terjadi di masyarakat sekitar kita. Dapat kita pahami bersama bahwa spekulasi adalah salah satu aktivitas penggunaan dana yang tidak bijaksana yang kemudian dapat menimbulkan tekanan inflasi.

Yang ketiga adalah transparansi dalam transaksi. Dalam sehari-hari sangat mungkin kita melakukan transaksi lebih dari sekali. Kita harus selalu melakukan transaksi yang transparan dan jujur serta menghindari praktik yang melanggar prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Islam seperti gharar atau ketidakpastian.

Beberapa negara muslim modern berhasil mengendalikan inflasi dengan menggunakan prinsip-prinsip Islam, bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, dan juga telah mengembangkan keuangan sektor syariah yang telah membantu Indonesia dalam menghadapi tantangan inflasi dari waktu ke waktu.
Adopsi praktik keuangan syariah ini telah membantu mengurangi resiko inflasi yang berlebihan dan mendorong pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Beberapa keberhasilan dan tantangan dalam menerapkan strategi pengendalian inflasi dalam konteks Islam. Pendekatan ekonomi Islam menekankan pada prinsip: Keadilan, transparansi, dan keberkahan dalam pengelolaan keuangan. Adil dan transparan saja juga dinilai tidak cukup jika tidak berkah.
Perkembangan inovasi dalam keuangan syariah melaju sangat signifikan, sahabat Unisia dapat melihat bagaimana perkembangan dari lembaga keuangan mikro syariah dan kemudian instrumen keuangan syariah yang saat ini telah menjadi alternatif yang halal dan berkelanjutan di kalangan masyarakat luas di Indonesia.
Prinsip Islam ini mendorong pemberdayaan masyarakat yang semakin luas dan redistribusi kekayaan yang adil melalui praktik keuangan syariah yang bermacam-macam.
Tantangan untuk meningkatkan ekonomi syariah ini merupakan sesuatu hal yang penting bagi kita untuk terus berikhtiar dan membangun bersama-sama.

Yang pertama adalah penetapan prinsip dengan konsistensi. Salah satu tantangan utama adalah memastikan konsistensi dalam penerapan prinsip ekonomi Islam dalam kebijakan moneter dan fiskal. Hal ini memerlukan kerjasama yang pasti antara lembaga keuangan Islam dan pemerintah, dan semua nya itu harus dijalankan secara harmoni.

Yang kedua adalah pengembangan infrastruktur keuangan syariah. Berkaitan dengan pengembangan infrastruktur keuangan syariah ini, meskipun telah terjadi pertumbuhan yang sangat pesat sekali dalam sektor keuangan syariah, kita masih banyak sekali menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur, yaitu bagaimana menjadi lebih luas dan menjadi lebih inklusif. Dan hal ini memerlukan investasi yang sangat besar sekali untuk mewujudkan pengembangan lembaga keuangan syariah yang lebih luas lagi jangkauan nya.

Yang ketiga adalah pendidikan dan kesadaran masyarakat. Hal ini sangat penting karena pendidikan yang tidak disertai dengan kesadaran masyarakat dalam pengendalian inflasi maka tidak akan sempurna dalam penerapan nya, dan hal ini harus dilakukan secara sustainable atau berkelanjutan.
Dan yang terakhir adalah sebagai masyarakat global, maka penting sekali bagi kita semua untuk dapat mempertimbangkan berbagai perspektif dalam menjawab tantangan ekonomi yang dihadapi dunia.

Islam sebagai agama yang mencangkup aspek-aspek kehidupan dari spiritualitas hingga ekonomi , mengajarkan prinsip hingga ekonomi , menawarkan pandangan yang sangat penting dan sangat berharga dalam pembahasan masalah ekonomi dan pengendalian inflasi.
Di dalam Islam, prinsip keadilan , keberkahan dan transparansi menjadi landasan bagi pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. Lalu dengan mengikuti ini kita dapat menciptakan sistem ekonomi yang lebih stabil, adil dan berkelanjutan. Penggunaan instrumen syariah seperti zakat, wakaf, mudharabah serta larangan terhadap praktik riba dan spekulasi yang berlebihan dapat membantu pengendalian inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat. Islam sudah mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan dana kita, dan juga kita tidak boleh terpengaruh oleh lingkungan yang dapat menyebabkan masyarakat panik dalam membelanjakan penghasilan nya masing-masing.

Mari kita bersama-sama mempertimbangkan perspektif Islam dalam pembahasan masalah ekonomi. Dengan pemahaman yang kita dapatkan dan mampu melakukan nya dalam praktik ekonomi Islam , kita semua anda dan saya dapat berperan aktif dalam pengendalian inflasi. Pengendalian inflasi utama nya memang menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai regulator , namun kita sebagai anggota masyarakat juga bisa mempunyai peran yang besar dalam hal ini.

Sumber : Listya Endang Artiani, SE., M.Si. Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia

View Details

Wajib bagi setiap muslim untuk mengimani meyakini bahwa Al Quran ini datang dari Allah atau firman dari Allah bukan dari yang lain.
Al-Quran ini memang beda dengan kitab kitab sebelum nya, Al Quran ini adalah kitab yang paling agung dan sempurna.

وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلْأَمِينُ
عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُنذِرِينَ
بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ مُّبِينٍ
وَإِنَّهُۥ لَفِى زُبُرِ ٱلْأَوَّلِينَ

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),
Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
Dengan bahasa Arab yang jelas.
Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.
Jika kita membaca surat As Syura ayat 192 sampai 196, ini merupakan definisi dari Al-Quran, yaitu bahwa Al-Quran adalah kitab suci yang langsung diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang disebut Ar Ruhul Amin di surat tersebut. Dan Al-Quran digunakan oleh nabi Muhammad sebagai pemberi peringatan, dan Al-Quran turun dengan bahasa Arab karena jelas nabi Muhammad juga adalah seorang arab.
Definisi ini terlihat berbeda jika kita bandingkan dengan kitab-kitab yang diturunkan sebelum nya. Kemudian dalam buku kuliah Akidah Islam karangan Yunahar Ilyas menyebutkan, bahwa kitab kitab sebelum Al-Quran cukup untuk diimani saja sudah cukup, tidak harus lebih dari itu. Bahkan kita tidak harus tahu dan melihat sendiri kitab nya tetapi cukup untuk beriman, tetapi kalau Al-Quran tidak. Karena setidak nya ada 5 kewajiban pada Al-Quran ini yang harus kita tunaikan.

Pertama adalah mengimani. Termasuk isi nya. Segala sesuatu yang berasal dari Al-Quran, meskipun terkadang susah diterima akal kita dan pikiran, itu tetap harus kita imani bahwa itu benar. Ada beberapa hal yang di dalam Al-Quran itu dinyatakan sebagai benar, meskipun indera kita tidak bisa menangkap nya seperti hal hal ghaib, tentang Allah, tentang surga neraka , tentang malaikat dan jin, itu semua ada. Dinyatakan dengan tegas di dalam Al-Quran meskipun indera kita tidak bisa mengimani tetapi itu semua benar.
Keimanan itu harus kita tanamkan sebagaimana ketika dulu para sahabat pada awal awal nabi berdakwah ketika nabi bercerita bahwa beliau telah melakukan perjalanan Isra dan Miraj, yaitu dari Mekkah menuju ke Masjid Al-Aqsa dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha dalam waktu tidak sampai satu malam, ketika itu banyak sekali para sahabat yang sudah masuk Islam kemudian berpindah lagi menjadi kafir karena tidak percaya dengan kisah itu. Bahkan menjadi hanya satu sahabat yang percaya dengan kejadian itu, yaitu Abu Bakar As Shidiq yang kemudian beliau mendapat gelar orang yang dapat dipercaya. Apapun yang diceritakan dalam Al-Quran walaupun kita susah menerima itu sifat nya wajib, kebenaran itu harus kita yakini meskipun itu ghaib, karena itu hanya disebabkan karena indera kita yang tidak mampu menerima.

Yang kedua, wajib bagi kita untuk membaca sebanyak mungkin Al-Quran. Membaca merupakan sebuah bentuk interaksi dengan Al-Quran. Misal nya kita satu hari membaca satu Juz, satu surat , satu ayat atau satu hari hanya satu halaman itu adalah membaca paling sederhana, membunyikn huruf huruf nya. Istilah Ngaji juga supaya benar juga kita perlu paling tidak ilmu makhroj, ilmu cara mengeluarkan huruf supaya cara membaca nya benar. Kemudian tajwid, bacaan bacaan beserta hukum nya harus kita kuasai supaya membacanya benar.
Tetapi ada juga yang lebih tinggi dari itu yaitu membaca sambil membaca makna nya.

Yang ketiga, kewajiban kita terhadap Al-Quran adalah mempelajari nya. Mempelajari cara membaca nya dan mempelajari tafsir nya. Fenomena menghapal Al-Quran itu bagus, tetapi jangan lupa dipelajari tafsir nya juga, makna nya apa, karena ada beberapa orang yang hafal tetapi tidak mengerti sehingga banyak perilaku maupun tingkah laku keseharian nya yang menyelisihi Al-Quran. Ini penting sekali, sehingga disamping menghafal mestinya kita mempelajari makna nya. Membaca saja sudah berpahala bagus, tetapi jangan berhenti berinteraksi Al-Quran hanya untuk mencari pahala saja meskipun itu bagus. Tetapi juga harus mengakses makna nya. Sebab Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk. Kalau kita tidak mengerti makna nya sudah tentu kita tidak memperoleh petunjuk apapun. Dan banyak saya pernah mendata banyak ayat yang viral yang pemahaman nya itu keliru atau tidak tepat, maka dari itu mempelajari makna tafsir itu sangat penting.

Karena ada beberapa hal di Al-Quran itu yang tidak mudah, perlu keilmuan mendalam. Kita yang tidak mumpuni untuk mengakses ilmu itu maka kita perlu untuk membaca tafsir. Tafsir adalah penjelasan ulama yang otoritatif yang mumpuni. Kita tidak boleh menolak tafsir karena tafsir juga merupakan khazanah keilmuan. Kita memahami cara membaca Al-Quran juga dari manusia karena pada awal nya yang mengajarkan membaca Al-Quran ini adalah Nabi kepada para sahabat dan kemudian mengajarkan ke generasi seterus nya dan seterus nya hingga sampai kepada kita pada saat ini.

Yang ke-empat, kita selain mempelajari nya juga harus mengajarkan Al-Quran. Kata Rasulullah jika orang yang paling baik itu adalah orang yang belajar Al-Quran kemudian diajarkan ke orang lain.
Dan yang terakhir kewajiban kita terhadap Al-Quran adalah mengamalkan nya. Sudah pasti orang yang paling mengamalkan Al-Quran adalah Rasullullah Nabi Muhammad. Jadi kewajiban dari mengimani , membaca, mempelajari dan mengajarkan, akhir nya yaitu kita harus bisa mengamalkan.

Jangan berhenti mengajarkan Al-Quran, jangan berhenti menyampaikan kebenaran dan kebaikan dari Al-Quran hanya karena kita belum mampu sempurna mengamalkan nya.
Semua orang mengajarkan ya berusaha supaya dia bisa seperti yang dia ajarkan , watawa saubil haq watawa saubil sab. Yang artinya saling menasihatilah kalian dalam kesabaran dan saling menasihatilah dalam kebenaran.

Sumber : M.Husnaini, S.Pd.I.,M.Pd.I, Ph.D. , Dosen Pendidikan Agama Islam , Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

View Details

Sahabat Unisia yang dirahmati Allah. Sudah jamak diketahui bahwa Ramadan merupakan bulan yang sangat mulia. Salah satu kemuliaannya adalah diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di bulan ini, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5.
Dalam banyak riyawat popular, Nabi Muhammad SAW yang tidak bisa membaca maupun menulis diminta malaikat Jibril untuk membaca. Jibril berkata kepada Muhammad, “Iqra!”, “Bacalah!”. Muhammad hanya menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Hingga tiga kali Jibril meminta Muhammad, akhirnya Jibril membacakan Surat Al-Alaq ayat 1-5.

Wahyu pertama yang turun pada bulan Ramadan ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan kebutuhan hidup mendasar manusia, yaitu ilmu. Tanpa ilmu, manusia tidak akan mendapatkan kebaikan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:
“Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu.” (HR Ahmad).

Ayat pertama berarti: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Menurut penulis, di dalam ayat pertama itu terkandung kunci penting dalam menyingkap maupun mengembangkan ilmu pengetahuan. Setidaknya ada tiga kunci di sana, yaitu:

Pertama, membaca. Membaca adalah metode sangat penting dalam mempelajari ilmu. Aktivitas membaca di sini tidak hanya berupa tekstual, melainkan bersifat umum. Alam semesta adalah objek bacaan yang sangat luas yang telah diciptakan oleh Allah. Membaca merupakan symbol usaha manusia untuk mengungkap suatu ilmu.
Kedua, melibatkan Allah. Ilmu adalah salah satu dari sifat Allah. Karena itu juga sumber pengetahuan datangnya dari Allah. Hanya dengan membaca saja, tidak menjadi jaminan akan dapat mengungkap suatu ilmu tanpa memohon kepada Allah. Dzikir dan doa sangat penting dilakukan dan dirutinkan dalam menuntut ilmu.
Ketiga, melibatkan Nabi Muhammad SAW. Di dalam ayat tersebut terdapat kata ganti ‘kamu’ di dalam kalimat “nama Tuhanmu”. ‘Kamu’ di situ adalah Nabi Muhammad SAW. Nabi merupakan perantara antara Allah dengan manusia dan alam semesta, termasuk dalam hal ilmu. Maka, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam segala aktivitas kita, khususnya dalam konteks ini adalah menuntut ilmu, merupakan salah satu kunci penting agar ilmu kita bermanfaat.

Demikianlah Sahabat Unisia, tiga kunci penting dalam menuntut ilmu yang turun di bulan Ramadan. Wallahu’alam.[]
Oleh: Ahmad Sadzali

View Details

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah niscaya kalian akan sehat.” (Hadis diriwayatkan At Thabrani dalam Mu’jam al Awsath).

Penjelasan Hadis

Secara periwayatan, hadis ini tergolong lemah. Namun secara substansi, hadis ini tidak bertentangan manfaat ibadah yaitu meraih kesehatan spiritual dan fisik, serta tidak bertentangan dengan berbagai riset kesehatan yang menyimpulkan bahwa ibadah puasa dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau imunitas.

Saat ini, umat Islam tengah menjalani ibadah puasa. Namun, suasana Ramadan tahun ini berbeda karena bertepatan dengan pandemi Covid-19. Menghadapi bulan Ramadhan di tengah pandemi virus ini tidaklah mudah. Selain ditiadakannya kegiatan keagamaan di luar rumah seperti shalat tarawih, masyarakat khususnya umat muslim harus tetap menjaga imunitas tubuh meski menjalankan ibadah puasa.

Kalimat “niscaya kalian akan sehat” menjelaskan jaminan kesehatan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa dengan baik. Hadis ini berbicara manfaat, dan tidak berbicara proses. Artinya puasa seperti apa yang menghasilkan kesehatan?

Pola Makan yang Seimbang

Memang, berpuasa dapat mempunyai pengaruh yang baik bagi sistem imun, tetapi dengan beberapa catatan. Antara lain, puasa dilakukan dengan memperhatikan pola makan seimbang ketika berbuka dan sahur, istirahat cukup, tidak stres, dan olahraga cukup. Saat puasa konsumsi makanan dengan nutrisi seimbang sangat diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh terlebih dalam situasi pandemi.

Untuk menu berbuka puasa sebaiknya tidak menyantap makanan susah dicerna seperti nasi, karena lambung sudah beristirahat selama 12 jam sehingga sebaiknya mengkonsumsi makanan yang mudah dicerna. Berbuka puasa sebaiknya dengan beberapa butir kurma (atau makanan yang manis) dan air putih terlebih dahulu, lalu shalat Maghrib, dan setelah itu menikmati nasi beserta lauk pauk yang sehat dan bernutrisi, sebagaimana sunnah Rasulullah SAW,
“Dari Anas bin Malik RA berkata, “Nabi SAW biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).
Puasa Meningkatkan Imunitas

Para ahli kesehatan tidak meragukan manfaat ibadah puasa dalam meningkatan sistem kekebalan tubuh atau imunitas. Di masa pandemik Covid-19 ini, peningkatan imunitas akibat puasa diharapkan menjadi manfaat sendiri bagi umat muslim untuk terhindar dari virus tersebut.

Beberapa penelitian mengungkapkan manfaat puasa bagi kesehatan, antara lain:

  1. Tubuh mendapatkan fase istirahat usus dan perut serta membantu detoksifikasi (pengeluaran racun dari dalam tubuh).
  2. Puasa juga bisa mengurangi kadar lemak tubuh. Kelebihan lemak tubuh bisa merusak keseimbangan sistem kekebalan tubuh manusia. Lemak yang banyak akan memicu produksi sel, yang menyebabkan peradangan pada organ tubuh, memicu munculnya penyakit pembuluh darah dan masalah kesehatan lainnya.
  3. Rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh untuk memproduksi sel darah putih baru untuk melawan infeksi. Para peneliti menyebutkan bahwa puasa berfungsi sebagai ‘pembalik sakelar regeneratif’ yang mendorong sel induk menciptakan sel darah putih baru. Penciptaan sel darah putih baru inilah, yang menjadi dasar regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh.
  4. Puasa bermanfaat dalam merestart sistem kerja tubuh. Kondisi ini membantu menciptakan lingkungan yang sehat bagi tubuh untuk meregulasi hormon. Mereka yang makan setiap tiga sampai empat jam sekali tidak sempat mengalami lapar, sehingga tidak merasakan kemampuan tubuh untuk menyampaikan sinyal lapar. Ketika asupan makanan untuk tubuh dihentikan selama 12 jam, tubuh dapat lebih fokus pada kemampuannya untuk meregenerasi sel.
    Oleh karena itu, marilah kita menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan, serta dibarengi dengan pola hidup dan pola makan yang seimbang agar puasa dapat meningkatkan imunitas spiritual dan imunitas tubuh

sumber : kemenag.go.id/

View Details

Kondisi umat Islam saat ini relatif belum mampu berdaulat dalam penguasaan ekonomi dan memiliki ketergantungan ekonomi yang cukup tinggi terhadap pihak lain. Salah satu penyebab kelemahan tersebut antara lain pemahaman yang belum optimal terhadap nilai-nilai dan ajaran agama, sehingga nilai-nilai tersebut diabaikandan tidak dapat diimplementasikan secara komprehensif dalam seluruh lini kehidupan. Sudah semestinya umat Islam bangkit dari keterpurukan ekonomi khususnya dalam mengatasi problem kemiskinan dan keterbelakangan akibat termarjinalkan dalam dunia ekonomi dan bisnis dengan mengembangkan jiwa entrepreneurship yang kokoh dan tangguh. Apalagi di tengah samudera modernitas saat ini, segala aspek bisa terhubung dengan demikian mudah dan cepat. Beragam kreativitas maupun inovasi bisa segera dibangun bersumber dari akses terhadap gerbang informasi yang terbuka lebar. Karena menjadi wirausahawan sesungguhnya hanya membutuhkan keberanian secara pribadi untuk kemudian menciptakan karya bernilai ekonomi tinggi melalui proses kreativitas dan inovasi.

Dalam membangun jiwa kewirausahaan umat yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek (dunia) dan jangka panjang (akhirat) maka nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Islam hendaknya perlu untuk direvitalisasi. Nilai ibadah yang luas, dimana bukan hanya terkait dengan aspek ritual saja dapat menjadi motivasi utama untuk membangkitkan semangat berbisnis. Motivasi ibadah untuk meraih ridho Allah ini dapat dijadikan dorongan untuk membangkitkan jiwa-jiwa bisnis dan kewirausahaan, sebab menumbuhkan jiwa kewirausahaan merupakan awal dalam membentuk dan menciptakan pribadi yang ulet, tanggung jawab dan berkualitas hingga akhirnya dapat bermuara pada terwujudnya kompetensi kerja.

Adapun selain itu, gencarnya modernisasi di segala aspek membuka peluang persaingan bisnis yang semakin tidak terkendali, yang seringkali terjadi persaingan bisnis ataupun usaha yang tidaklah sehat. Dalam konteks membangun jiwa bisnis, saat ini nilai-nilai kejujuran dan amanah seringkali diabaikan oleh pelaku bisnis, padahal hal tersebut merupakan dasar yang cukup penting untuk ditanamkan. Oleh karena itu, integrasi antara ketaatan dalam ibadah dengan semangat membangun bisnis sangatlah dibutuhkan. Sikap jujur akan mengundang banyak simpati, relasi, dan membuat orang lain dengan kerelaannya menaruh dan memberikan kepercayaan seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

IBADAH

Secara harfiah ibadah berarti bakti kepada Allah SWT, sebab didorong dan dibangkitkan oleh aqidah atau tauhid. Dalam terminologi Islam, ibadah adalah kepatuhan kepada Allah yang didorong oleh rasa kekaguman dan ketakutan. Ibadah juga yang membuat “aqidah Islamiyyah” menjadi hidup dalam jiwa yang melakukannya, dan yang menyalurkan aqidah Islamiyyah dari tingkat penalaran menuju tingkat penghayatan, sehingga nurani manusia dapat mengidentifikasi segala suatu yang potensial pada dirinya. Dalam konteks pengembangan bisnis, kesadaran manusia atas potensi yang terdapat dalam dirinya merupakan modal utama terciptanya kreativitas dan inovasi, yang pada akhirnya bisa bermuara pada terbentuknya karya ataupun entitas bisnis.

Al-Qur’an telah mempopulerkan berbagai bentuk ibadah selain ibadah wajib. Shalat, dzikir dsb.. Berkaitan dengan ibadah adalah amal saleh yang memberi manfaat secara individual. Namun ada amal saleh yang bermanfaat bagi pelaku sekaligus bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut adalah amal kemasyarakatan, seperti halnya membuka lapangan pekerjaan baru, membebaskan orang dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan dan menolong orang yang sedang berada dalam kesulitan. Menurut Islam, amal sosial ini bernilai lebih tinggi daripada amal individual. Karya yang berkembang di tengah masyarakat akan diberi ganjaran lebih besar daripada aktivitas yang menguntungkan diri sendiri.

Ibadah Sosial

Dari sumber-sumber Islam baik Al Qur-an maupun hadits nabi SAW diketahui bahwa dimensi pengabdian atau ibadah sosial dan kemanusiaan dalam Islam sesungguhnya jauh lebih luas dan lebih utama dibandingkan dengan dimensi ibadah personal. Dalam literasi fiqh klasik kita dapat melihat bahwa bidang Ibadat (ibadah personal) merupakan satu bagian dari banyak bidang keagamaan lain. Dalam buku-buku hadits kita juga melihat bahwa bab ibadah personal jauh lebih sedikit dibanding bab-bab yang lain. Fath Al Bari Syarh Shahih Al Bukhari, sebuah kitab hadits paling populer, misalnya hanya mengupas persoalan ibadah dalam empat jilid dari dua puluh jilid yang menghimpun bab lainnya. Ini jelas menunjukkan bahwa perhatian Islam terhadap persoalan-persoalan publik jauh lebih besar dan lebih luas daripada perhatian terhadap persoalan-persoalan personal.

Relevansi memperdalam konsep ibadah di tengah modernitas

Pemahaman doktrin ibadah secara dangkal akan menjerumuskan umat Islam. Hal ini bisa dilihat bahwa sampai saat ini masih banyak yang menafsirkan ibadah dengan cara yang sangat sempit atau hanya yang menyangkut aspek ritual saja, seperti shalat, puasa, haji dsb., akibatnya ibadah seringkali kemudian berseberangan dengan aktivitas seseorang ketika sedang bekerja dalam berbagai sektor. Padahal sebenarnya doktrin ibadah lebih luas dari sekedar itu. Dalam firman Allah QS. Adz-Dzariyat: 56 berikut ini:

Artinya:dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Dapat ditafsirkan bahwa setiap aktivitas manusia sesungguhnya adalah ibadah dan keseluruhan muara dari semua aktivitas tersebut adalah kesejahteraan manusia di dunia maupun kemenangan di akhirat. Kesejahteraan itu sendiri erat kaitannya dengan keuntungan yang didapatkan oleh manusia. Konsep beruntung dalam Islam memiliki tiga dimensi: yakni jangka pendek (dunia), jangka menengah (alam kubur); dan jangka panjang (akhirat). Maka, seperti halnya bisnis seharusnya tidak boleh berhenti untuk kepentingan jangka pendek, atau bisnis itu sendiri, bukan pula sekedar mencari keuntungan pragmatis tetapi sekaligus sebagai ibadah.

Berbisnis menjadi bagian pentig dari ibadah, sehingga jalan yang ditempuh seyogyanya juga sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Islam memandang penting semua itu agar manusia bisa dengan lebih mudah menjalankan bentuk ibadah-ibadah lainnya seperti memberi nafkah terhadap keluarga, menyantuni anak yatim, membayar zakat dsb. Oleh karena itu, bercita-cita menjadi kaya dan bekerja keras sebagai aktualisasinya termasuk ke dalam ranah ibadah. Adapun demikian, fakta yang menunjukkan bahwa belum banyak umat Islam yang mampu berdaulat secara ekonomi seringkali diidentifikasi sebagai akibat dari belum kaffahnya aktvitas bisnis mereka mengadopsi prinsip-prinsip Ibadah dalam aktivitas bisnis mereka.

Urgensi bisnis di tengah modernitas

Kemiskinan merupakan permasalahan ekonomi serius yang dihadapi masyarakat saat ini. Problem tersebut bersifat massiv, yakni tidak hanya dialami oleh umat Islam saja. Oleh karena itu gerakan untuk mengubah keadaan dalam bentuk perbaikan dan pemerataan ekonomi perlu dilakukan. Perbaikan tersebut harus dilaksanakan dengan berpegang pada prinsip keadilan. Sesungguhnya hal ini tidak akan terjadi jika ada kesadaran untuk mengusahakannya, karena usaha mengubah nasib dan merupakan tanggung jawab setiap orang untuk meningkatkan kesejahteraan diri, keluarga dan bangsanya. Sebagaimana dilukiskan dalam firman Allah QS Ar-Rad 11:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya: “bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Salah satu modal awal dalam menumbuhkanekonomi yang kuat adalah menebarkan semangat dan mental entrepreneur. Dalam masyarakat pada umumnya terkondisi secara kultur untuk menjadi seorang pegawai. Wacana kehidupan dalam format pegawai, orang upahan, dan suruhan telah berkembang sejak lama. Dalam hal ini bukan berarti menjadi pegawai itu kurang baik daripada menjadi wirausahawan. Dunia usahapun tidak akan bergerak jika tidak ada pegawai-pegawai. Akan tetapi yang harus ditumbuhkan adalah mental dan jiwa wirausaha agar tercipta kemandirian sebuah bangsa.

Peran pengusaha Islam dalam upaya pemerataan ekonomi tentu sangatlah diharapkan, bahkan mustinya mampu menjadi aktor pembangunan ekonomi mengingat penduduk Indonesia yang didominasi oleh umat Islam. Ditambah dengan rujukan QS (13:11) bahwa kegiatan tersebut merupakan suatu bentuk ibadah bagi seorang muslim. Peningkatan sektor bisnis demi memberantas kemiskinan adalah kegiatan bernilai ibadah sosial, dan kewajiban yang menyangkut nilai dan bobot keagamaan seseorang.

Islam dan Kewirausahaan

Dalam pandangan Islam, bekerja dan berusaha, termasuk berwirausaha dapat dikatakan merupakanbagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena keberadaannya sebagai khalîfahfî al-’ardh dimaksudkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik. Posisi bekerja dalam Islam sebagai kewajiban kedua setelah shalat. Oleh karena itu apabila dilakukan dengan ikhlas maka bekerja itu bernilai ibadah dan mendapat pahala. Bekerja tidak saja menghidupi diri sendiri, tetapi juga menghidupi orang-orang yang ada dalam tanggungan dan bahkan bila sudah berkecukupan dapat memberikan sebagian dari hasil kerja untuk menolong orang lain yang memerlukan.

Berusaha dalam bidang bisnis dan perdagangan adalah usaha kerja keras. Dalam kerja keras itu, tersembunyi kepuasan batin yang tidak dinikmati oleh profesi lain. Dunia bisnis mengutamakan prestasi lebih dulu, baru kemudian prestise, bukan sebaliknya. Prestasi dimulai dengan kerja keras dalam semua bidang. Bekerja keras merupakan hal yang penting dari kewirausahaan. Prinsip kerja keras dalam kewirausahaan merupakan langkah nyata yang harus dilakukan agar dapat menghasilkan kesuksesan, tetapi harus melalui proses yang penuh dengan tantangan atau risiko.

Teladan dari Rasulullah SAW yang juga merupakan seorang wirausaha dapat dijadikan aset yang sangat berharga dalam konsep kewirausahaan yang berbasis syariah. Nilai-nilai kejujuran (shiddîq), ‘amânah (dapat dipercaya), fathânah (kecerdasan), tablîg (komunikatif) merupakan pilar utama yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha. Sebagai pelaku bisnis dan juga rasul, Nabi Muhammad SAW tak henti-hentinya menghimbau umatnya untuk berwirausaha guna mencari rezeki Allah yang halal. Islam mengajarkan bahwa rezeki tidak ditunggu tapi dicari bahkan dijemput. Allah menurunkan rezeki sesuai dengan usaha yang dilakukan manusia sesuai prinsip bisnis universal, yaitu amanah dan terpercaya, di samping mengetahui dan memiliki keterampilan bisnis yang baik dan benar. Oleh karena itu seberapa besar manusia mencurahkan pikiran dan tenaga, sebesar itu pula curahan rezeki yang dikaruniakan Allah SWT.

Berbisnis dengan motivasi ibadah

Syariat Islam memandang penting kekayaan untuk dapat mendukung pelaksanaan ketentuan-ketentuan Allah SWT. Setidaknya terdapat dua rukun Islam yang mensyaratkan kemampuan ekonomi yang cukup, yakni kewajiban melaksanakan zakat dan ibadah haji. Lebih lanjut Rasululah SAW menyatakan dengan sabdanya “kaada a-faqru an yakuuna kufran” yakni kemiskinan bisa membawa orang kepada kekufuran. Berarti bahwa kemiskinan bisa menjadi ancaman terhadap iman, bahkan dalam banyak kasus seorang muslim berpindah keyakinan karena alasan kebutuhan ekonomi. Oleh sebab itu, sudah seharusnya dari sekarang kita tanamkan dalam diri kita sebagai seorang muslim untuk bangkit memerangi kemiskinan yang masih menimpa banyak saudara kita, umat Islam.

Umat Islam dan pelaku bisnis seharusnya bersyukur atas sebab Rasulullah membekali umat Islam untuk menghadapi perbedaan. Beliau menegaskan bahwa perbedaan itu adalah rahmat, apabila pandai dan arif menangani perbedaan itu. Islam juga mengajarkan agar perbedaan dan kemajemukan dikembangkan sebagai pendorong untuk melaksanakan perbuatan baik bagi sesama, serta berulang kali mengajarkan untuk ber-fastabiqul khairah, berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan, termasuk berkompetisi dalam bisnis secara sehat untuk mencapai kesejahteraan dunia maupun kebahagiaan akhirat.

Motivasi yang diajarkan oleh Islam adalah semangat untuk beribadah dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras untuk mencari ridha Allah SWT. Melalui kerja keras inilah umat Islam akan mampu menempuh kehidupan dengan bekal kekuatan yang mantab. Sedangkan berdiam diri akan menjerumuskan kepada titik lemah dan ketidak berdayaan. Islam senantiasa mengajak penganutnya untuk senantiasa bergairah, optimis dalam menjalani hidup, bukan menjadi makhluk yang lemah dan miskin. Sebab Islam juga merupakan agama yang berorientasi pada masa depan, yakni kejayaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Kahfi 7-8 berikut ini:

Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 7-8,

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلًا – وَإِنَّا لَجَٰعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًاArtinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya (7) dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus (8).”

Ayat tersebut menunjukkan kepada manusia bahwa bumi ini hanya sebagai tempat bagi manusia-manusia terbaiknya untuk mencari dan mengembangkan fasilitas ibadah dan amaliah, manusia dipersilakan untuk mengeksplorasi bumi dan isinya guna kepentingan ibadah, seperti kejayaan diri, keluarga, negara dan umat manusia pada umumnya. Setiap orang yang tidak mau memanfaatkan waktu dan kesempatan akan merugi.

Islam melarang orang yang menuruti angan-angannya yang kosong, bercita-cita tanpa disertai dengan usaha. Adapun demikian, Islam juga melarang orang yang bekerja keras untuk merealisasikan cita-cita namun melupakan adanya Allah SWT. Islam mengajak setiap manusia untuk ikhlas menyerahkan diri kepada Allah dan bekerja dengan baik. Keselarasan dalam menjalankan tanggung jawab demi kejayaan di dunia, ketenangan di alam kubur dan kenikmatan di akhirat itulah yang menjadi cita-cita dalam tuntunan Islam.

Motivasi ibadah untuk meraih ridha Allah ini dapat dijadikan dorongan untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan karena menumbuhkan jiwa kewirausahaan merupakan “pintu gerbang” dalam membentuk dan menumbuhkan pribadi ulet, tanggung jawab, dan berkualitas yang bermuara pada terwujudnya kompetensi kerja. Oleh karena itu, kalau memperhatikan dinamika kehidupan sekarang yang kian kompetitif, maka dituntut untuk cerdas dalam menciptakan ruang yang kondusif bagi tumbuhnya spirit enterpreneurship.

Kesimpulan

Motivasi ibadah untuk meraih ridho Allah dengan jalan bisnis dapat dijadikan dorongan untuk membangkitkan jiwa-jiwa bisnis dan kewirausahaan, sebab menumbuhkan jiwa kewirausahaan merupakan awal dalam membentuk dan menciptakan pribadi yang ulet, tanggung jawab dan berkualitas hingga akhirnya dapat bermuara pada terwujudnya kompetensi kerja.

Dalam konteks kewirausahaan, agama akan mempengaruhi sikap dan perilaku wirausaha melalui penciptaan nilai, menjalankan kegiatan bisnis dengan lebih menekankan pada moral dan etika bisnis. Beberapa studi sebelumnya menyatakan bahwa, ketika religiusitas individu mampu berperan sebagai faktor-faktor yang membedakan dengan individu yang lain, maka itu akan menimbulkan konsekuensi dari perbedaan dalam pencapaian kinerja.

Bahwa ketika bisnis dimulai dan ditujukan berdasarkan semangat beribadah maka hasil yang didapatkan bukan hanya berwujud keuntungan materiil semata, melainkan juga keuntungan yang bisa dinikmati pada tingkatan kehidupan yang abadi, yakni di akhirat kelak.

sumber : islamic-economics.uii.ac.id , penulis : Anom Garbo, SEI., ME

View Details

Dewasa ini, praktik perjudian kian ramai ditemui. Bahkan dengan kemajuan teknologi yang ada, memicu hadirnya aksi judi secara online.

Pada hakikatnya perjudian merupakan perbuatan yang bertentangan dengan norma dan hukum. Karena dapat menimbulkan dampak negatif dan merugikan moral dan mental masyarakat, khususnya bagi generasi muda. Oleh sebab itu, tidak berlebihan pula jika judi disebut sebagai salah satu penyakit masyarakat.

Perjudian dianggap satu pilihan yang menjanjikan keuntungan tanpa harus bekerja keras. Bagi masyarakat dengan kelas ekonomi rendah menganggap judi pilihan tepat bagi untuk mencari uang dengan lebih mudah. Disadari atau tidak, bahwa akibat yang ditimbulkan dari judi jauh lebih berbahaya dan merugikan dibandingkan keuntungan yang diperoleh.

Perjudian dalam Pandangan Islam

Judi merupakan suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya.

Istilah judi dalam bahasa Arab disebut dengan dengan qimar, yaitu permainan yang menjanjikan bahwa yang menang akan mendapatkan sesuatu dari yang kalah. Pengertian tersebut merujuk pada Kamus Munjid yang disusun oleh Fr. Louwis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i.

Sedangkan dalam Alquran, Allah menggunakan istilah al-maisir yang disebutkan sebanyak tiga kali, yaitu dalam Alquran yaitu pada surah. Al-Baqarah: 219, dan surah Al-Maidah: 90-91. Lafazh al-maisir memiliki arti mudah, tidak dengan lafazh ma’siru yang berarti susah.

Menurut Syekh Mutawalli Sya’rawi dalam Tafsir Sya’rawi, hal tersebut dikarenakan apabila seseorang berjudi, ia berharap untuk menang. Apabila mengetahui ia akan kalah, maka tidak akan melakukannya.

Al-maisir merupakan salah satu bentuk perjudian yang dilakukan oleh orang Arab dengan menggunakan anak panah. Jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa unsur pernting dari al-maisir adalah taruhan. Karenanya hal tersebut merupakan merupakan illat (sebab) bagi haramnya al-maisir menurut jumhur ulama.

Bahaya dan Dampak dari Perjudian

Judi telah lama dikenal sepanjang sejarah, sejak zaman dahulu. Fenomena perjudian merupakan gejala sosial, yang berbeda hanyalah pandangan hidup dan ragam permainannya saja.

Larangan berjudi dalam Islam merupakan bentuk kasih sayang bahwa praktik perjudian dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Firman Allah ta’ala surah. Al-Baqarah: 219:

۞ يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan,”

Mengutip penjelasan dari Tafsir Kementerian Agama RI, bahwa bahaya yang ditimbulkan dari perjudian tidak kurang dari bahaya minum khamar.

Pertama, memicu permusuhan, kemarahan, hingga pembunuhan. Pekerjaan nekad, kerap kali terjadi pada para pemain judi, seperti bunuh diri, merampok, dan lain-lain, terlebih apabila ia mengalami kekalahan. Karenanya sangat beralasan harus menjauhkan diri dari perjudian.

Kedua, membuat seseorang menjadi malas mengerjakan ibadah serta jenuh hatinya dari mengingat Allah. Selain membentuk tabiat yang jahat, berjudi dapat memicu seseorang jadi pemalas dan pemarah. Pada akhirnya mampu merusak akhlak, tidak mau bekerja untuk mencari rezeki dengan jalan yang baik, dan selalu mengharap untuk mendapat kemenangan.

Ketiga, menimbulkan kemiskinan. Banyak kekalahan yang dialami orang yang berjudi, menjadikannya terus menerus penasaran dan berharap menang. Oleh sebab itu, tak segan-segan menaruhkan berbagai macam harta untuk mewujudkan harapannya tersebut.

Keempat, merusak rumah tangga. Akibat keinginan memenuhi nafsu untuk bermain judi, seseorang akan dipertaruhkan harta yang dimilikinya. Pada akhirnya dia melupakan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Bahkan bagi pejudi berat terkadang dapat mempertaruhkan anak dan istrinya

Islam menghendaki setiap pemeluknya mengikuti Sunatullah dalam mencari penghasilan dengan cara dan jalan yang baik. Adapun judi menjadikan seseorang hanya mengandalkan nasib baik, kebetulan dan mimpi-mimpi kosong. Oleh sebab itu, ia enggan untuk bekerja keras dan berusaha terhadap segalla yang telah dikaruniakan Allah.

Kedudukan harta manusia dalam Islam adalah sesuatu yang terhormat. Dilarang mengambil semena-mena, kecuali dengan cara yang telah di syari’atkan, atau dalam bentuk pemberian dengan suka rela.

Adapun mengambil harta orang lain dengan cara judi, ia termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Melalui cara yang batil tersebut, tak heran melahirkan permusuhan dan kebencian di antara kedua bela pihak pemain, meskipun secara lahir mereka menampakan kerelaan. Wallahu’alam.

Sumber: www.mui.or.id

View Details

Sesungguhnya ada banyak sekali jenis olahraga yang diperbolehkan dalam Islam, selama olahraga tersebut bermanfaat dan tidak merugikan. Sebagai umat muslim, sangat diwajibkan untuk mengikuti segala hal yang sesuai perintah Allah dan Rasul. Bahkan dalam hal menjaga kesehatan, Islam memerintahkan untuk mengikuti berbagai olahraga yang dianjurkan Rasulullah tersebut.

Sebagai umat Islam hendaknya selalu menjaga kesehatan dengan melakukan olahraga yang dianjurkan Rasulullah, karena dalam menjalankan segala jenis ibadah dalam Islam baik salat hingga haji diperlukan tubuh yang kuat dan sehat.

Salah satu hadist yang menjelaskan mengenai kewajiban dari muslim untuk menjaga kesehatan telah dijelaskan dalam hadist riwayat Muslim no. 2664, yang menyebutkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.”

Berlari

Salah satu olahraga yang dianjurkan Rasulullah ini mungkin terbilang praktis dan sangat murah untuk dilakukan. Bahkan pada suatu ketika, Rasulullah pernah menyetujui keinginan para sahabat untuk mengadakan lomba lari. Dan, bahkan Rasulullah justru ikut dalam perlombaan tersebut bersama sang istri, yaitu Aisyah.

Dari Aisyah mengatakan apabila, “Rasulullah SAW bertanding denganku dan aku menang. Kemudian aku berhenti, sehingga ketika badanku menjadi agak gemuk, Rasulullah SAW bertanding lagi denganku dan ia menang.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Berenang

Renang ternyata merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan Rasulullah. Memang, renang memiliki beragam manfaat yang sangat baik bagi tubuh. Renang juga sangat efektif dalam membakar kalori tubuh.

Sebuah hadist menyebutkan, dari Jabir bin Abdillah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan. Kecuali empat perkara, yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan berenang.” (HR. An-Nasa’i).

Jalan Cepat

Para sahabat menyebutkan jika Baginda Rasulullah sangat suka berjalan begitu cepat. Bahkan dijelaskan dalam sebuah hadist jika cara berjalan Nabi seolah-olah berjalan di jalan menurun, dan para sahabat memerlukan usaha yang susah payah untuk mengikuti langkah demi langkah Baginda Nabi. Berikut bunyi hadist tersebut:

“Tiada satu pun kulihat lebih indah daripada Rasulullah SAW seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorang pun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah SAW seolah-olah bumi ini dilipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah payah melakukan hal itu, sedang Rasulullah tidak memedulikannya.” (HR. Tirmidzi).

Berkuda

Salah satu olahraga yang dianjurkan Rasulullah dan mungkin cukup populer bagi umat muslim adalah berkuda. Melakukan olahraga berkuda, selain memiliki manfaat bagi kesehatan fisik, adanya interaksi dengan kuda juga akan meningkatkan insting dan hubungan manusia terhadap hewan, terutama hewan peliharaan.

Dari hadist riwayat Ahmad, menyebutkan jika Umar pernah berkata, “Ajarkanlah anak-anakmu berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka supaya melompat di atas punggung kuda.”

Memanah

Jenis olahraga yang dianjurkan Rasulullah ini merupakan olahraga yang membutuhkan ketangkasan, konsentrasi, dan juga ketepatan bidikan. Selain perlunya fisik yang sangat kuat agar dapat menarik tali busur panah tersebut, agar mampu membidik tepat sasaran juga dibutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi yang berasal dari kemampuan mengendalikan diri.

Bahkan, ketika perang di masa Rasulullah, memanah merupakan sebuah ‘kekuatan’ yang membantu umat Islam dalam mencapai kemenangan. Kekuatan yang dimaksud tersebut dicantumkan Allah SWT dalam firmannya di Al-Quran surat Al-Anfal ayat 60, yang memiliki arti:

“Dan bersiap-siaplah kamu untuk menghadapi mereka (musuh) dengan kekuatan yang kamu sanggup…”

Arti dari ‘kekuatan’ yang ada pada surat tersebut lalu ditafsirkan oleh Rasulullah yaitu:

“Ketahuilah bahwa yang dimaksud ‘kekuatan’ itu adalah memanah, beliau ucapkan kata-kata itu hingga tiga kali.” (HR. Muslim).

Sumber: Liputan6.com

View Details

Syariat Qasar dan Jamak Shalat merupakah bukti bahwa syariat Allah sangat ringan bagi hambanya. Ketika kita dihadapkan dengan kesulitan (masyaqqah), maka Islam memberikan alternatif-alternatif lain supaya tetap dapat menjalankan ibadah kepada Allah. Dalam kajian ini, Ust. Dr. Okrisal Eka Putra membahas tentang ketentuan-ketentuan Qasar dan Jamak Shalat. Ketentuan tersebut kemudian dikontekstualisasikan dengan kondisi […]

View Details

Salah satu adab yang diajarkan oleh Rasulullah adalah mendahulukan yang kanan dalam segala sesuatu, kecuali dalam hal menghilangkan najis. Dalam kajian ini, akan dibahas hadis-hadis Rasul yang berbicara tentang keutamaan mendahulukan sesuatu yang kanan dari yang kiri. Hadis-hadis fadhail lainnya juga dibahas dalam kajian ini. Seperti keutamaan hari Jumat dan bagaimana para ulama dulu menghormati […]

View Details

Bagaimana hewan kurban ditinjau dari sisi kesehatan atau medis? Hewan kurban selain dikaji dari sisi Agama dan kepanitiaan, juga penting untuk dikaji dari sisi kesehatan hewan, karena pada prinsipnya ada dua sisi pendekatan kurban yaitu manfaat fiddunya wal akhirat, artinya qurban bisa bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Nah bagaimana penanganan hewan dari kesehatan […]

View Details

http://202.162.33.221/upload/Radio%20Unisia/Kajian/KAJIAN%20-%20Syariat%20Qurban%20-%20Prof%20Amir%20Mualim.mp3 Kurban merupakan salah satu pertanda kesungguhan hamba Allah untuk menumpahkan segala apa yang dimiliki terutama kaitannya dengan harta yang diwujudkan dalam bentuk ibadah kurban. Karena kurban adalah sebuah ibadah, maka kurban diupayakan sesuai dengan tuntunan, karena ibadah pada prinsipnya attaukif wal itba’, yaitu meniru, mencontoh dan mengamalkan berdasarkan apa yang dituntunkan oleh agama. Sahabat […]

View Details

http://202.162.33.221/upload/Radio%20Unisia/Kajian/KAJIAN%20-%20Tuntunan%20Qurban%20-%20Roem%20Silbly%20MSi.mp3 Qurban merupakan ibadah sunnah muqayyadah yaitu ibadah yang terikat dengan ketentuan dan tuntunan yang telah ditetapkan. Berikut mengenai beberapa tununan kurban: Hewan yang boleh digunakan untuk kurban. Dalam Islam dikenalkan beberapa hewan yang boleh dijadikan hewan kurban yaitu 1. Unta dengan segala turunannya, misalnya unta dari Turki dan lain-lain, selama itu disebut unta, maka […]

View Details

http://202.162.33.221/upload/Radio%20Unisia/Kajian/KAJIAN%20-%20Konsep%20Kerja%20Dalam%20Islam.mp3 Review Kajian: Konsep Kerja Dalam Islam Dalam Islam kerja tidak hanya mengumpulkan uang untuk sesuap nasi, melainkan semua pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Niatkan bekerja hanya untuk menjemput rizki Allah Ta’ala. Suatu hari ada seorang sahabat bertanya pada Nabi, wahai Rasulullah pekerjaan apa yang paling baik? Maka Rasulullah menjawab: […]

View Details

http://202.162.33.221/upload/Radio%20Unisia/Kajian/KAJIAN%20-%20Memaknai%20Tujuan%20Hidup.mp3 Review Kajian: Memaknai Tujuan Hidup Apa sih tujuan hidup kita? Apapun tujuan hidup kita pastilah akhirnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan. Bagaimana untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup? Untuk mengetahui jawabannya silahkan sahabat Unisia simak tausiah yang dibawakan Ust. Ahmad Nurozi.

View Details

http://202.162.33.221/upload/Radio%20Unisia/Kajian/KAJIAN%20-%20Persahabatan%20Dalam%20Islam.mp3 Review Kajian: Persahabatan dalam Islam Persahabatan sesungguhnya merupakan karunia dari Allah Ta’ala. Yang memang sudah ada di dalam surat Ali Imron 103: “lalu menjadikanlah kamu karena nikmat Allah orang–orang yang bersaudara”. Dari surat di atas dijelaskan bahwasanya orang–orang yang mempererat persaudaraan akan dijanjikan nikmatnya oleh Allah Ta’ala. Sahabat Unisia, Apa sajakah yang harus dilakukan […]

View Details

http://202.162.33.221/upload/Radio%20Unisia/Kajian/KAJIAN%20-%20Islam%20Agama%20Rahmatan%20Lilalamin.mp3 Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala: “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. al-Anbiya: 107) Islam yang dibawa oleh Muhammad dikatakan sebagai rahmatallil’alamin. Rahmatallilal’amin mengandung makna yang sangat universal, bukan hanya sebatas rahmat bagi orang-orang muslim (rahmatallilmuslimin) atau rahmat […]