Berawal dari obrolan weekly tim, semoga podcast Dialog in Dialogue ini dapat menyumbang nutrisi bagi para insan komunikasi yang haus akan informasi dan tren komunikasi serta diskusi inspiratif dari communications expert serta industry leaders. Kamu bisa sapa kami di hello@dialoguecomms.id dan @dialoguecomms.id
Kerugian Indonesia akibat penipuan iklan digital ini adalah USD 120 juta. Adapun industri yang paling sering ditarget dari penippuan ini adalah financial technology, gaming, dan e-commerce. Dalam episode ini @auliyaa.pu menjabarkan bagaimana brand bahkan negara dirugikan dari penipuan iklan digital. Bentuknya selain fake browser page, device kita tahu-tahu terinstall aplikasi yang kita tidak tahu. Makanya jangan kesel kalau harus ngisi-ngisi captcha ya.
Sudah lama kok layanan telehealth itu berkembang. Kementerian terkait juga sudah melihat potensi pertumbuhan telehealth di masyarakat. Terlebih di saat pandemi dimana masyarakat khawatir kalau harus pergi ke rumah sakit. Sayangnya masih banyak tantangan terkait rasa percaya masyarakat terhadap hadirnya dokter secara virtual. Dalam episode ini, @vanyaviranda menjabarkan bagaimana mempertahankan dan mengkomunikasikan kompetensi dokter di platform telehealth.
Rame banget sih waktu AstraZenecca (AZ) merilis informasi terkait efektivitas vaksin yang sudah ditunggu-tunggu sekali. Tapi dalam press release yang diterbitkan, ada data yang berbeda. Ada yang bilang 62%, ada yang bilang 90%. Publik pasti binggung dan khawatir kan. Mana yang yang benar dan semakin mempertanyakan efektivitas vaksin ini. Belum lagi ada unsur politik dalam peluncuran AZ ini. Nah, dalam episode ini, @grethaws menjabarkan bagaimana AZ tidak kembali membuat publik binggung dalam penyampaian communications for science.
We cannot be everyone’s cup of tea. Salah ngomong dikit, pasti dicibirin. Yang paling dekat adalah dikira sedang menyombongkan diri saat posting di LinkedIn. Kalau kamu gak peduli, itu pilihan kamu. Tapi kalau kamu adalah anggota overthinking club, ada loh caranya untuk berbagi cerita pencapaian kamu lewat cara yang ‘alus’. Dalam episode ini, @neilycholida menjabarkan bagaimana cara yang kece dalam berbagi perjalanan kita.
Siapa influencers yang paling kamu dengar? Pasti tiap orang punya preferensi masing-masing ya. Nah, selain menjadi perpanjangan tangan dari sebuah brand, influencers itu punya peranan yang besar banget di masyarakat kita. Jadi, bagi brand yang ingin bekerjasama dengan influencers, ada beberapa point yang perlu dipertimbangkan. Dalam episode ini, @zrrafi menjabarkan bagaimana etika brand dan influencers dalam kerjasama mereka.
Selama kontennya tidak menyinggung seperti Dokter Kevin, pesan-pesan kesehatan dari dokter dan suster jadi lebih mudah dimengerti. Nah, brand kesehatan juga perlu nih join di TikTok. Salah satu yang sudah masuk adalah P&G lewat “Distant Dance Challenge.” Dalam episode ini, @murphlastic menjabarkan bagaimana serunya brand kesehatan lainnya berkampanye di TikTok.
Ada sirup, ada kurma, dan takjil lainnya ditampilkan dalam iklan Ramadan. Tiap tahun pasti begitu iklannya. Nah, ternyata efeknya dari iklan ini adalah food-waste alias mubazir ya kan. Dalam episode ini, @ricuswoy menjabarkan bagaimana pelaku iklan akan lebih baik mengangkat tema sosial untuk bulan Ramadan. DBS Indonesia bahkan sudah gelontorin campaign #MakanTanpaSisa jauh sebelum Ramadan. Brand kamu bisa kok bikin iklan Ramadan yang lebih baik.
Media sosial dalam membantu brand dan marketing sih sudah jadi kurikulum perkuliahan. Tapi kalau untuk negosiasi, masih belum optimal. Padahal sebenarnya dengan membaca trend dan audience, social media bisa dijadikan alat negosiasi dalam menggerakan sebuah opini. Dalam episode ini, @nafilamaulina menjabarkan case study dari Amazon dalam proses negosiasi lewat media sosial. Jadi sebenarnya, negotiator bisa banget pakai social media loh.
Kerja rasa mafia. Itulah interpretasi dari beberapa calon employee dari kalimat ini. Namanya juga keluarga kan, tiap hari liat dan semua hal tahu. Nah, bagi para hiring team, tolong diperhatikan lagi ya job postings yang sudah di publish, apakah ada kalimat-kalimat ini. Dalam epipsode ini, @beladienna menjabarkan kalimat-kalimat apa yang perlu dihindari.
Ya sudah lumrah-lah bagaimana praktik self-brand ini dijalankan. Tapi ada beberapa hal yang perlu dicatat, baik oleh perusahaan ataupun karyawan dalam menjalankan praktik ini. Salah satunya adalah fungsi control and monitor. Jangan sampai postingan-postingan LinkedIn justru kontradiktif dengan postingan Instagram atau platform lainnya. Sering ya kasus seperti ini kita jumpai. Dalam episode ini, @neilycholida berdiskusi dengan Jusman Hutama, Group Head Human Capital & Services · PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk tentang bagaimana kita bisa menjalankan strategi self-brand dengan baik.
Komunitas Games saat ini jumlahnya makin besar. Brand seharusnya sudah masuk dalam komunitas ini melalui creative campaign. Hal ini karena untuk masuk dalam komunitas games terbilang tricky. Karena faktanya tanpa brand pun, komunitas ini sudah berkembang dengan sangat cepat. Jadi endorsement brand bukan prioritas buat mereka. Dalam episode ini, @vanyaviranda menjabarkan bagaimana cara brand untuk masuk ke komunitas ini.
Padahal gak ngerti artinya apa. Begitulah masalah anak baru di perusahaan. Belum juga auto pilot dengan scope of work, mereka juga harus belajar list jargon di perusahaan. Mau tanya, tapi malu. Akhirnya dikerjakan tapi tidak sesuai dengan ekspektasi. Hanya karena tidak mengerti arti jargon yang dimandatkan. Dalam episode ini, @ricuswoy menjabarkan bagaimana jargon itu lumayan ganggu. Lalu bagaimana kita memaksimalkan penggunaan jargon?
“Ya loe sih enak! Kulit lo emang udah bagus, produk apa aja bisa terlihat bagus. Lah gw boro-boro?” Begini nih respon dari konsumen yang merasa terkesampingkan dari sebuah produk. Hal ini karena sudah ratusan tahun kita dicecoki dengan campaign beauty product yang seolah olah being normal is beautiful. Nah, lewat kampanye “Positive Beauty” Unilever akhirnya mengangkat isu mental health dan isu sosial lainnya yang terkait beauty product. Dalam eppisode ini, @beladienna menjabarkan rationale dari Positive Beauty Campaign Unilever.
Saat crisis communication terjadi, semua orang dalam perusahaan perlu menyatukan suara sesuai narasi yang telah disiapkan oleh Tim Public Relations. Namun, cepatnya ritme krisis juga memerlukan kecepatan tim garda depan untuk cepat merespon pertanyaan. Oleh karena itu, @sheliarp menjabarkan bagaimana chatbot bisa menjadi solusi dari permasalahan slow response ini dan permasalahan lainnya selama krisis berlangsung.
Pandemi Covid-19 memaksa eman-teman event berjibaku menciptakan hal baru untuk mau tidak mau mengakrabkan diri dengan situasi ini. Dalam episode ini, @murphlustig menjabarkan bagaimana teman-teman event menciptakan gamification dapat mendukung virtual event dalam mencapai sebuah objektif dari sebuah event dan bahkan sukses.
Suksesnya seorang founder adalah saat bisnisnya berjalan auto-pilot. Untuk mencapai hal ini, penting bagi founder agar tidak terjebak pada status 'self-employed'. Founder harus membentuk sistem agar bisnis tidak secara terus menerus bergantung pada seorang founder. Inilah salah satu insight yang didapat dari Dialogue with FX Iwan, CEO Jagartha Advisors. Simak insights lainnya dari obrolan @sekariniseruni bersama @fxiwan untuk para founders atau business owner.
There's nothing 'dark' in dark social. Karena arti sebenarnya adalah menjelaskan bagaimana konsumen ngomongin brand kita dibelakang kita dengan lebih spesifik. Tapi tantangannya memang sulit untuk kita analisa kualitas dan kuantitasnya. Harusnya ini bagus banget sih walau ada beberapa contoh negatif dari dark social ini. Hal ini seperti yang dijabarkan @neilycholida dimana dark social masih tetap bisa di-maintain kok. Nah, selain dark social, di episode ini masih ada dua hal lagi yang harus dan gak boleh dicuekin sama para marketers.
Dari dulu marketing playbook selalu berubah. Tapi building customer trust tidak pernah berubah. Yang berubah adalah bagaimana word-of-mouth itubisa sampai ke telinga kita. Misalnya, dulu belum ada customers review, sekarang kalau mau beli produk pasti liat review nya dulu. Nah dalam episode ini, @karisamanda menjabarkan ada banyak banget golongan orang-orang atau medium yang paling dipercaya oleh konsumen dalam meng-influence keputusan mereka untuk membeli. Yang pasti tiap konsumen punya preferensi yang beda terkait siapa mereka paling percaya.
Anak agensi pasti familiar dengan request ini dari client. Tapi pasti kebawa mimpi saat harus bikin viral dengan keterbatasan budget dan "ke-kekeuhan" client dimana semua konten berbau brand harus masuk dalam materi yang mau diviralin. Mmm jogetin aja dulu lah. Balik ke episode ini, selain besarnya budget amplifikasi, @ricuswoy menjabarkan beberapa emosi yang perlu dimasukin ke dalam iklan ataupun materi yang akan dipakai untuk viral. Iklan Sasa contohnya yang pake emosi marah dan bentak-bentak. Itu adalah salah satu emosi yang bisa dipakai dalam materi yang dipakai untuk viral.
Tenang tenang! Yang bikin caption ini juga Anak Android kok. Tapi karena omongan soal Clubhouse rame banget, jadi ya sok-sokan relate aja deh biar hype. Anyway, ngomongin Clubhouose, brand kayaknya masih lihat-lihat sikon ya kapan harus masuk ke platform social audio ini. Banyak banget sih pertimbangannya untuk hold. Salah satunya adalah takut kalo CEO kita kepeleset ngomong terus keterusan. Tapi dalam episode ini, @sheliarp setuju kalau brand masuk dan memposisikan diri di Clubhouse.
Sebuah brand bukan hanya tentang membuat logo ya. Ya ya ya, logonya bagus tapi bukan berarti brand-nya juga kece. Karena kunci dari suksesnya brand sebenarnya adalah bagaimana kita memahami emosi dari konsumen kita. Ingat, jangan pernah mengacuhkan mereka, sekecil apapun komplain mereka. Kalau cuma lihat suksesnya brand dengan banyaknya logo terpampang dimana-mana maka kita perlu revisit lagi branding plan nih. Dalam episode ini, @murphlustig menjabarkan bagaimana tantangan perusahaan dalam membangun brand.
Memasuki tahun 2021, influencer marketing masih menjadi pilihan bagi para pegiat brand. Namun, semakin banyak dan beragamnya influencers membuat brand perlu riset extra, influencers siapa saja yang perlu di-engage - ingat, jangan cuma pilih profile berdasarkan jumlah follower yang banyak saja ya. Nah, dalam episode ini, @grethaws menjabarkan beberapa hal yang brand perlu sangat perhatikan sebelum menjalankan kampanye lewat influencer.
Saat Aibnb IPO, headline media dipenuhi dengan kata-kata takjub. Hal ini karena walau pandemi yang berdampak banget pada industrinya, IPO Airbnb justru sukses luar biasa. Dalam episode ini, @sheliarp menjabarkan bagaimana brand Airbnb yang sudah dibangun selama ini memberikan kontribusi besar pada IPO-nya.
“Vaksin itu efektif dan aman tidak sih sebenarnya?” Pertanyaan ini banyak banget sliweran di WAG. Mau grup keluarga, alumni bahkan grup kerjaan. Banyaknya informasi yang tidak kredibel membuat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin Covid-19 menjadi sangat rendah. Dalam episode ini, @jon.cohen menjabarkan isu sekitar vaksin dan bagaimana kita harus mengambil peran.
Padahal potensi pasar udah besar banget. Orang-orang yang ada di belakangnya juga ga kaleng-kaleng. Tapi tetap saja HeavenHealthcare tidak bisa bertahan. Salah satu faktor gulung tikarnya startup insurance ini adalah kondisi politik. Dalam episode ini, @beladienna menjabarkan apa yang salah dengan HeavenHealthcare hingga bangkrut.
Dalam startups, ada model jualan yang namanya Freemium. Sesuai namanya, ada dua bagian disini yaitu free dan premium. Nah promo gratisan tau freebies ini biasanya ditawarkan untuk menaikan new users. Pertanyaan paling dekat dengan kamu mungkin ini: “Apakah Spotify account kamu berbayar?” Hehe banyak sih yang pake Spotify tapi yang premium ga naik-naik jumlahnya. Dalam episode ini, @neilycholida menjabarkan bagaimana manfaat freebies sebenarnya.
Bicara FMCG itu selalu seksi ya. Karena tren konsumen berubah dengan cepat. Selain itu stakeholder yang bersinggungan juga banyak banget. Tapi yang paling penting tentunya adalah konsumen. Nah, dalam episode ini @grethaws menjabarkan bahwa brand FMCG tuh harus solution focus, bukan lagi hanya jualan saja. Salah satunya, ada baiknya untuk menjadi transparan untuk mendapatkan positif outcomes.
Walau masyarakat Cina sudah terbiasa dengan cashless payment, bukan berarti transformasi digital berjalan mulus di Cina. Kenapa? Karena salah satunya adalah ketidaksiapan masyarakat Cina mengubah sistem kerja mereka berbasis digital. Selain itu, ternyata banyak fakta lain yang dijabarkan oleh @vanyaviranda dalam episode ini bahwa Cina itu ya ga digital-digital banget kok.
Kalo nonton CNN pasti terlihat sekali bedanya bagaimana pemberitaan Obama dan Trump disajikan. Hal ini sebenarnya tidak luput juga dari bagaimana persona seorang leader serta bagaimana mereka memperlakukan teman-teman jurnalis. Dalam epidose ini, @vanyaviranda menjabarkan bagaimana taktik komunikasi Biden yang baru terpilih sebagai Presiden Amrik. Apakah dia akan mengikuti Obama Communications Playbook? atau dia akan menyebut media yang tidak mendukung policy-nya dengan bilang mereka adalah "FAKE NEWS"?
“Diputar, Dijilat, Dicelupin” jadi trademark iklan dari Oreo sejak tahun 1999. Salah satu produk Mondelez ini memang selama ini kerap menampilakan anak-anak dalam kampanye komunikasi mereka terutama iklan. Nah, dalam episode ini, @neilycholida menjabarkan bagaimana rencana marketing Mondelez kedepannya yang mereka sebut “HUMANING”. Well that’s not even a word. Duh! Bahkan sampai dihina-hina di media sosial dari para marketing dan communications experts seluruh dunia. But we stand with Mondelez at this time, because putting customers first is what matters.
Pernah lihat iklan kecap saat suami bantu istri masak lalu dibilang “Suami Sejati”? Tapi pernah juga lihat iklan Apple 11 Pro tentang Supir Taxi Perempuan di Cina? Dari kedua iklan ini, tersirat bahwa laki-laki selalu dipotret superior dari perempuan karena bisa lakuin semuanya. Tapi saat perempuan bisa lakukan semua hal, perempuan akan 'dibuat merasa bersalah' dalam kebanyakan iklan. Dalam episode ini, @grethaws menjabarkan bagaimana seharusnya para pegiat komunikasi bebenah diri dalam menampilkann perempuan di dalam setiap iklan.
Di tengah pandemik, CMO harus menghadapi ekspektasi yang sangat tinggi untuk mempertahankan atau meningkatkan posisi perusahaan di market. Dalam episode ini, @sheliarp merangkum 5 Langkah yang Harus Dilakukan CMO baik internal ataupun external. Semua langkah ini dilakukan agar CMO dapat perform dengan baik ditengah keterbatasan.
Setelah Black Lives Matter (BLM), diversity dan inclusion kembali menggema. Brand-brand global terutama FMCG dirasa perlu untuk mengangkat nilai diversity dalam iklan-iklan mereka. Dalam episode ini, @beladienna menjabarkan sebuah riset tentang bagaimana brand yang menjunjung tinggi keberagaman ternyata dipandang lebih atraktif bagi customers untuk membeli produk-produk tersebut.
Selama 2020, kita melihat bagaimana COVID-19 menyebar dengan sangat cepat di seluruh dunia. Namun, di tengah pemberitaan ini, ada pemberitaan yang melejitkan nama Jacinda Ardern. Sebagai Perdana Menteri Selandia Baru, dia berhasil menurunkan angka penularan COVID-19 di Selandia Baru hanya dalam 3 minggu. Selain Jecinda Ardern dalam episode ini, @vanyaviranda juga menjabarkan beberapa pemimpin perempuan lainnya yang berhasil menanggulangi krisis pandemi di negara mereka dengan gaya dan cara mereka masing-masing.
Ditengah gempuran e-commerce, ternyata luxury brand mau tidak mau harus beranjak dari comfort zone untuk juga ‘ikut’ dalam gelombang online shopping ini. Namun, sebagai luxury brand, mereka juga harus tetap mempertahankan beberapa nilai ekslusivitas mereka agar customer dari kalangan affluent tetap loyal. Dalam episode ini, @sheliarp menjabarkan beberapa case studies yang sukses dilakukan oleh brand di seluruh dunia dalam mengimplementasikan digital experience.
Ada berapa banyak logo dari brand yang kamu lihat berwarna biru? Dari handphone aja, komposisi biru dari warna-warna apps lebih banyak dari warna lainnya. Hal ini karena memang secara psikologi warna biru katanya bisa meningkatkan trustworthy konsumen terhadap brands. Dalam episode ini, @grethaws menjabarkan sebuah riset tentang bagaimana slogan, warna logo, dan nama company dapat mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli sesuatu.
CMO dari B2B tech companies benar-benar dituntut untuk dapat mencapai results yang maksimal walau di tengah banyaknya budget cuts. Dalam episode ini, @neily.cholida menjabarkan bahwa marketing programs selama 2020 kemungkinan besar akan tetap berjalan serupa di 2021 dan tahun-tahun selanjutnya. Untuk itu, bagaimana kita sebagai public relations terlebih agency dapat mendukung upaya CMO menghadapi tantangan ini.
Ini memang kasus lama yaitu 2019 saat Hong Kong sedang rusuh-rusuhnya akibat rencana pengesahan Undang Undang Ekstradisi. Saat itu, Pemerintah Hong Kong meminta rekan-rekan PR Agency Global seperti Ogilvy, Edelman, Publicist dan lainnya untuk memperbaiki citra pemerintah Hong Kong. Tapi mereka semua menolak undangan pitching ini. Dalam episode ini, @vanyaviranda menjabarkan apa saja komentar perwakilan PR Agency ini dalam menolak. Namun, setelah dilihat lebih dalam, sebenarnya ada dua sisi mata uang dari apa yang dilakukan oleh mereka.
Dapat positif review sampai dibikinin video sama konsumen tentang produk kita adalah capaian tertinggi dalam sebuah marketing taskforce. Oh iya, hal ini namanya User Generated Content atau UGC ya. Nah, kalau dibandingkan dengan Influencers Marketing, mana yang lebih baik? Walau keduanya masuk dalam kategori word of mouths (WoM), dalam episode ini @sheliarp menjabarkan mana yang lebih baik dari keduanya untuk menciptakan positive branding untuk brand kita.
Masih inget episode kami sebelumnya “Tunda Launching Dulu Ya?” dimana pegiat brand merasa perlu untuk menunda dulu semua kegiatan promosi mereka. Namun dalam episode ini, @grethaws juga menjelaskan bahwa brand bisa saja kok kalau ingin bercerita ditengah banyaknya pemberitaan COVID-19. Hal ini karena walaupun jurnalis menjadi lebih selektif dalam memilih berita, namun bila brand bercerita dengan narasi terkait COVID-19, mereka akan tetap dapat pick-up the stories.
Kemenangan Trump dalam US Presidential 2016 adalah bukti sukses bahwa digital memainkan peranan besar dalam kampanye politik. Dalam eposide ini, @jon.cohen menjabarkan bagaimana big data Facebook membantu Trump untuk memenangkan pesta politik Amrik. Tapi bukan hanya memenangkan Trump, mantan karyawan Facebook, James Barnes juga menggunakan platform yang sama untuk menjatuhkan Trump pada pilpres 2020.
Sebelum COVID-19 datang, banyak sekali kampanye inisiatif yang dilakukan oleh para pelaku marketing termasuk di bisnis UMKM. Namun, saat ini pemotongan budget marketing sudah jadi hal yang tidak dapat dihindari. Hal ini menuntut para marketers menjadi kreatif dalam mengelola konten secara digital. Dalam episode ini @beladienna menjabarkan riset tentang bagaimana marketers melakukan perpindahan teknik marketing.
"WeChat adalah mata-mata China di Amrik" Begitulah statement-nya Donald Trump dalam langkahnya melarang aplikasi WeChat di Amerika. Setelah beberapa periode pelarangan ini, ternyata hal ini berdampak pada brand-brand luxury yang ada di Amerika karena brand-brand luxury ini pakai WeChat untuk tapping konsumen affluent yang berada di Amrik. Dalam episode ini @vanyaviranda menjelaskan bagaimana domino effect dari dilarangnya WeChat di Amrik.
Sudah banyak-lah kasusnya ya dimana influencers agak melenceng dari brief yang diberikan. Hal ini salah satunya karena kurasi seleksi influencers yang kurang dalam dimana brand 'skip' untuk melihat faktor authenticity dari para content creator. Padahal hal ini penting sekali bagi influencers untuk tetap menjaga positioning mereka di hadapan follower. Bahkan dalam 1 tipe brand atau industri pun, karakter mereka seringkali berbeda-beda. Jadi tidak bisa disamakan. Selain faktor authenticity, dalam episode ini @neilycholida juga menjabarkan faktor lainnya agar influencers campaign jadi sukses.
Selama pandemi, Google mencatat bahwa Youtube mengalami pengingkatan yang sangat signifikan. Masyarakat SEA cenderung untuk mencari video hiburan untuk mengganti aktivitas offline mereka. Dalam episode ini, @grethaws menjabarkan bagaimana tren masyarakat SEA dalam menonton Youtube. Dibanding semua negara SEA, preferensi video Youtube di Indonesia sangatlah unik. Pokoknya. Saranghae!
OKR adalah term yang populer sejak Google pertama kali sukses menggunakannya. Sejak saat itu, banyak startup yang mengadopsi OKR dalam organisasi mereka. Namun, sejalannya waktu, ternyata ada catatan penting untuk leader terkait penyampaian OKR yaitu "Are they equally understand the OKR you have shared with them?" Dalam episode ini @beladienna menjabarkan bagaimana storytelling itu penting dalam penyampaian OKR agar seluruh karyawan mengerti apa yang dituju dan bagaimana caranya.
Selama semangat menjalankan bisnis adalah memberikan social impact, perusahaan startup juga dapat meraup untung di saat yang bersamaan. Di episode ini, @vanyaviranda menjabarkan tiga perusahaan yang mampu melihat potensi dari keadaan pandemi yang serba tidak menguntungkan bagi semua orang. Tiga perusahaan itu adalah Grab, WeLab, dan Tencent Music Ent.
Produk 'barat' selalu diterima dengan 'pride' oleh masyarakat di China. Termasuk Apple dengan iPhone-nya. Kalo punya iPhone paling baru artinya orang kaya di China! Tapi dalam episode ini @jon.cohen jabarin hasil riset bagaimana Huawei dan lainnya berhasil 'nyalip' status iPhone ini di China. Akhirnya, saat ini masyarakat China udah mulai 'ngeh' kalo produk atau brand domestik mereka sebenarnya udah canggih.
Secara medis, kanabis adalah tanaman yang punya manfaat tinggi. Tapi karena sudah terlanjur menjadi tanaman dengan stigma negatif yang bikin 'high', banyak kelompok yang menolak - mau sebanyak apapun riset medis yang sudah dibuat. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk merubah stigma ini adalah kampanye public relations. Namun, di episode ini @neilycholida juga menggarisbawahi Do's and Dont's dari kampanye public relations untuk medical cannabis.
Kalau sudah berhubungan dengan customer pasti kita akan lakukan semuanyaaaa yang dibutuhkan. Mulai dari riset hingga promo marketing. Tapi giliran berhubungan dengan karyawan, kadang justru upaya kita agak melempem. Nah, di episode ini @vanyaviranda coba menjabarkan 10 cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk meningkatkan upaya komunikasi perusahaan dengan karyawan kita.
Banyak banget brand yang kami kawal untuk menunda rencana launching yang sebenarnya sudah kami besama 'godok' jauh sebelum pandemi datang. Dan kami yakin banyak juga brand atau perusahaan yang mengambil langkah serupa. Dalam episode ini @beladienna menceritakan bahwa ada brand besar yang justru memanfaatkan moment pandemi untuk launching dan menuai sukses besar.
Banyak sekali yang beranggapan bahwa Artificial Intelligence (AI) akan menggantikan manusia dan menjadi 'pesaing' baru baik secara bisnis maupun pekerjaan, termasuk industri Public Relations. Namun, pada episode ini, @jon.cohen menjabarkan bahwa tidak seharusnya kita khawatir karena sebenarnya AI dapat membantu kita untuk bekerja lebih cepat melalui data mining dan task automation.
Sejak Pandemi COVID-19, masyarakat paling sering mencari informasi terkait apa yang harus dilakukan. Inilah yang menjadikan PR sebagai 'anak emas dari semua disiplin marketing dan komunikasi. Positive stories dan thought leadership stories yang mengedukasi konsumen menjadi senjata yang paling efektif dalam membangun brand awareness perusahaan dibandingkan cerita-cerita 'jualan'. Di episode ini @grethaws menjabarkan bagaimana PR menjadi rising star selama pandemi.
Pasti semua tahu Gerakan Cuci Tangan dari Lifebouy donk. Tapi tahu tidak kalau gerakan global ini butuh waktu hingga 10 tahun sampai orang-orang di negara berkembang 'sadar' untuk selalu mencuci tangan. Ya begitulah kalau upaya marketing dibarengi dengan misi sosial. Jadi kalo startup mau mulai misi sosial, lebih baik mulai dari sekarang biar makin impactful. Namun CEO perlu mencatat bahwa upaya ini selain prosesnya lama juga harus dibarengi dengan konsistensi ya. Di episode ini, @vanyaviranda juga membahas case studies lainnya serta bagaimana cara yang tepat untuk menyisipkan misi sosial dalam marketing efforts.
Udah nonton belum Social Dilema di Netflix? Terkait dengan story di fiilm ini, banyak yang pro banyak juga yang cons. Salah satu kelompok cons sudah pasti adalah insan-insan komunikasi donk hehe. Nah, kali ini @beladienna bahas bagaimana pandangan salah satu expert tentang upaya seharusnya dalam memaksimalkan penanan sosial media supaya tidak jadi dilema.
Dalam episode ini @neilychollida membahas tantangan dari para praktisi brand advertisers agar mampu memaksimalkan spending iklan yang dapat berdampak secara signifikan pada revenue, baik sales maupun revenue per click. Simak beberapa catatan dari Tim Google APAC terkait Ad Spending dan ROI.
Banyak banget hal yang perlu dipertimbangkan oleh public relations terkait konten di saat pandemi. Jangan sampai pesan yang keluar justru jadi message blunder karena nanti bisa dibilang cari muka, tukang jualan doang, atau bahkan tukang bohong. Dalam episode ini @jon.cohen membahas mengenai bagaimana strategi komunikasi yang fleksibel berdampak selama pandemi
Saat brands harus tetap push cerita inspiratif terkait pandemi, influencers ternyata dapat dilibatkan. Dengan karakter konten yang organik dan personal, iklan dengan adanya influencers dapat berdampak sangat besar. Bahkan 60% anak muda di UK menempatkan konten influencers sebagai faktor untuk membeli dan mempercayai sesuatu. Di episode ini, @vanyavirana memaparkan brands yang menjalankan kolaborasi dengan nfluencers.
Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia memiliki pertumbuhan fintech yang sangat positif, sehingga kompetisi fintech pun semakin ketat. Namun, founder pasti akan bilang “Kami beda!” padahal cara konsumen melihat “Lah kayaknya sama aja?” Di episode ini, @grethaws mejabarkan bagaimana fintech dapat menarik perhatian konsumen agar dapat bertahan.
Di tengah gemerlapnya TikTok menjadi social platform yang paling banyak digunakan di dunia, ternyata ada catatan penting dari bagaimana TikTok seharusnya menjalankan public relations (PR) setelah ekspansi. Di episode ini, selain menjabarkan tiga pembelajaran dari PR TikTok Global, @neilycholida juga memberikan case study serupa dari OYO Indonesia.
Membangun beauty brands gampang-gampang susah. Banyak yang hype, tapi banyak juga yang one-hit-wonder. Dalam episode ini, @beladienna menjabarkan riset bagaimana beauty brands perlu memperbaiki customers experience mereka agar mendapat tempat di hati pelanggan.
Washington Post menyebut Trump sebagai "The King of Cancel Culture". Dia akan mengeluarkan 'kartu pamungkas' bila ada yang bertentangan dengan kebijakannya. Di Australia, Facebook mengambil langkah serupa terkait sengketa Facebook dengan media-media online Australia. Si anak agensi, @vanyaviranda punya updates-nya untuk kamu!
“Pokoknya gimana caranya berita tentang perusahaan kami, besok tidak muncul di media!” Biasanya begitulah permintaan client terkait krisis yang baru atau sedang mereka hadapi. Apa bisa hal itu bisa dilakukan? Dalam episode ini @jon.cohen juga menjabarkan bagaimana praktik crisis management dari dua pilihan: Play by the book atau customized the plan.
Pesatnya teknologi membuat praktek public relations mau tidak mau harus berjalan dengan banyak teknologi baru. Immersive content saat ini menjadi ‘artis pendatang baru’. Lalu, apa saja tantangan perusahaan dalam menerapkan immersive content? @neilycholida dan @grethaws rangkum tren komunikasi seputar immersive content untuk kamu!